Ayah karya Andrea Hirata

Tentang Ayah, Persahabatan dan Kasih Tak Sampai

Judul                            : Ayah cover Ayah

Penulis                          : Andrea Hirata

Editor                           : Imam Risdiyanto

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                : Cetakan I, Mei 2015

Jumlah Halaman          : 412 halaman

ISBN                           :  978-602-291-102-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pegiat di Bondowoso Writing Community

Andrea Hirata hadir kembali mewarnai jagat perbukuan Indonesia, setelah sekitar 4 tahun terakhir tidak menelurkan buku. Novel Ayah yang ditunggu-tunggu akhirnya terbit ini menandai 10 tahun Andrea berkarya. Tidak seperti novel-novel sebelumnya, novel ini tidak menceritakan tokol Ikal, dengan kata lain novel ini tidak menceritakan ‘Andrea’ lagi.

Ayah bercerita tentang seorang ayah bernama Sabari. Sesuai namanya Sabari adalah sosok yang sabar dan setia. Dia sangat mencintai istri dan anaknya, Marlena dan Zorro. Jauh sebelum menikah dengan Marlena, Sabari adalah orang yang paling cinta kepada Marlena meski Lena tidak pernah mencintainya (halaman 3).

Namun, sekali lagi sesuai namanya, Sabari tetap bersabar dan dengan segala cara dia mencoba mencuri hati Marlena. Utamanya dia melakukan dengan membuat puisi yang ditulis untuk Marlena. Bahasa Indonesia dan puisi adalah keahlian Sabari yang diturunkan dari ayahnya yang sangat dia cintai dan mencintainya. Sampai-sampai Andrea menyebutnya sebagai Isaac Newton-nya Bahasa Indonesia (halaman 11).

Cinta kepada Marlena membuat Sabari semakin mahir membuat puisi. Perhatikan saja petikan puisi Sabari berikut, “Rindu yang kulayangkan pada awan-awan” (halaman 128). Hal ini menyiratkan juga mengamini bahwa betapa dahsyatnya kekuatan cinta, sehingga seseorang pun semakin puitis dan romantis. Sehingga dalam buku ini pun bertaburan puisi karya Sabari yang unik nan puitis.

Dalam hal ini Andrea seolah mengajak pembaca-khususnya anak muda, untuk dekat dengan puisi. Karena nyatanya membuat puisi itu mudah dan tidak sulit pula untuk dipahami, namun bisa unik bahkan sesederhana mungkin. Selain itu, Andrea tetap menampilkan sosok guru seperti Bu Muslimah dalam tetralogi Laskar Pelangi, Bu Norma namanya (halaman 38). Guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas Sabari dan kawan-kawannya saat SMA. Ini menunjukkan betapa guru dan Bahasa Indonesia sangat berharga bagi seorang Andrea, dan seharusnya begitulah juga yang dirasakan oleh pembaca.

Perihal Ayah yang mencintai anaknya, ini turun temurun dari ayah Sabari, Insyafi yang sangat mencintai Sabari (halaman 61). Hingga Sabari juga sangat mendalam cintanya kepada anaknya, Zorro. Di sisi lain, dalam Ayah juga ada kisah tentang ketidaktaatan anak kepada orangtuanya yang akhirnya berlaku kepadanya ketika sang anak menjadi ayah. Anaknya pun tidak menaati kemauannya. Sungguh ini sangat menyentuh dan menginspirasi pembaca.

Jika ditilik lebih dalam lagi, maka pembaca akan memahami bahwa Andrea belum move on dari pola dia menulis novel sejak tetralogi Laskar Pelangi. Pertama, kasih tak sampai dalam cinta mati ala Laila-Majnun yang sangat jelas tergambar dalam buku ini. Kedua, kisah persahabatan yang ajaib antara Sabari dan dua sahabatnya bernama Ukun dan Tamat. Keduanya rela mencari Marlena dan khususnya Zorro untuk dibawa kepada Sabari, hingga menyeberang pulau. Ketiga, tentang seorang ayah, dan tentu saja Melayu sentris. Soal Melayu sentris, bisa dikatakan ini sudah menjadi ciri khas sekaligus kekuatan seorang Andrea.

Meski demikian, dengan segala kekurangannya, novel 412 halaman ini tetap menarik dan sangat layak untuk Anda baca. Keunggulan novel ini dari novel-novel Andrea adalah mampu membuat pembaca tertawa di satu halaman, dan kemudian menitikkan air mata di halaman yang lain. Novel ini tidak sekadar menghibur, namun juga menyisipkan berbagai makna dan inspirasi bagi pembaca. Selamat membaca!

Resensi Ayah di Radar Sampit 17 Januari 2016
dokumentasi pribadi

*dimuat di Radar Sampit 17 Januari 2016

4 thoughts on “Ayah karya Andrea Hirata

  1. siti nuryanti 2 Februari 2016 / 06:22

    Resensi bukunya kerren-kerren….saya sering baca blognya…tp baru sekarang ninggalin jejak🙂
    Saya lagi belajar membuat resensi buku dan blognya mas ridho salah satu yang kukunjungi rutin
    Sukses terus…:)

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 3 Februari 2016 / 00:37

      Terima kasih Mba, sudah berkenan mampir dan membaca. Saya masih belajar juga kok. Semoga bermanfaat, dan monggo mencoba mengirim ke media. Sukses selalu untuk kita semua🙂

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s