Jodoh karya Fahd Pahdepie

Memaknai Jodoh Dan Kematian

Judul                            : Jodoh                                                 Cover Jodoh

Penulis                          : Fahd Pahdepie

Editor                           : Ika Yuliana Kurniasih

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                : Januari 2016

Jumlah Halaman          : 246 halaman

ISBN                           :  978-602-291-118-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua FLP Bondowoso

Cinta memang tidak akan pernah habis untuk dibincangkan. Cinta juga selalu menarik untuk dituliskan, baik berupa puisi, cerita pendek atau bahkan menjadi sebuah novel yang tebal. Cerita cinta juga tak akan pernah bosan untuk dibaca. Karena, memang cinta adalah fitrah manusia. Tanpa cinta, hidup menjadi hampa dan merana. Fitrah ini pula yang bisa membawa terbang ke surga atau sebaliknya akan menjerumuskan ke neraka.

Jodoh, adalah karya terbaru Fahd Pahdepie. Dari judulnya, tentu saja novel ini bertema cinta. Novel ini bercerita tentang Sena dan Keara. Sena adalah tokoh rekaan Fahd yang diceritakan sejak sekolah dasar di SD Pembangunan I sudah menyukai kepada Keara. Meski memang, waktu itu Sena tidak paham benar apa yang dirasakannya. Dia merasa memang bukan anak kecil yang biasa, dia merasa bahwa dia anak kecil yang dewasa karena telah jatuh cinta pada Keara sejak kelas satu SD (halaman 13).

Sena dan Keara pun tak sengaja didudukkan di satu bangku, mereka akrab. Namun, berubah renggang ketika ada kabar bahwa Sena menyukai Keara. Keara seakan kurang suka dengan kabar itu, dan Keara mulai menjauhi Sena. Namun, ternyata setelah mereka lulus SD. Sena dan Keara sama-sama melanjutkan ke Pondok Pesantren Muhammadiyah di Garut yang bernama Darul Arqam.

Sena semakin tidak bisa menyimpan rasa cintanya pada Keara, dan dia merasa bahwa Keara adalah jodohnya. Meski di pondok, mereka berdua diam-diam masih saling komunikasi. Ya, ala anak pondok, memakai surat sebagai alat komunikasi. Meski merasa bersalah dengan melanggar aturan pondok sekaligus aturan agama, namun Sena dan Keara seakan tidak bisa berhenti dan tidak kapok meski mendapatkan hukuman.

Setelah lulus dari pesantren, Sena memutuskan kuliah kedokteran di Yogyakarta. Hal ini membuat Keara sedih bukan main. Keara ingin Sena kuliah di Bandung saja, agar mereka tetap dekat hingga saatnya menikah. Sejujurnya keinginan Sena juga begitu, namun Sena berpikir lebih dalam lagi kalau perpisahan sementara adalah yang terbaik. Karena menurut Sena, jika terus berdekatan, maka mereka bisa saja akan menambah dosa sebab tidak bisa menahan rasa cinta mereka yang mendalam. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, maka pilihan inilah yang menurut Sena yang terbaik (halaman 108).

Senada dengan endorsment Dee, menurut saya kali ini Fahd Pahdepie merangkai kisah yang lebih ringan, tinimbang karya-karyanya terdahulu yang filosofis banget ketika memakai nama pena Fahd Djibran. Meski begitu, Jodoh tidak kehilangan gaya tulisan Fahd yang mengalir nan renyah. Begitu pula dengan makna dalam novel ini yang bisa menjadi renungan kontemplatif.

Melalu Jodoh, Fahd hendak mengajak pembaca memaknai tentang jodoh. Tidak hanya itu, Jodoh juga memaknai tentang sebuah kematian. Dengan sebuah kisah, Fahd mengajak pembaca merenungi 3 hal misteri dalam hidup manusia, salah duanya adalah Jodoh dan Kematian. Keduanya, telah ditetapkan oleh Allah, namun manusia tidak mengetahui siapa jodohnya dan kapan dia akan mati kembali kepada Allah.

Karenanya, manusia hanya diharuskan untuk berusaha. Berusaha mendapatkan jodoh yang baik dengan cara yang baik. Berusaha mendapatkan kehidupan akhirat yang baik dengan menyiapkan bekal yang baik sebelum mati. Meski telah mati-matian memperjuangkan seseorang yang dianggap sebagai jodoh kita, namun ternyata ditengah jalan harus berpisah dengan berbagai sebab, dan akhirnya ternyata jodoh kita adalah orang yang baru bertemu ketika telah benar-benar siap untuk menikah. Maka, tak salah jika ada orang yang mengatakan bahwa jodoh yang jelas di hadapan manusia adalah kematian.

Tak pelak novel setebal 246 halaman ini menjadi rekomendasi untuk Anda baca. Tidak hanya menarik dari kisahnya yang menghibur, namun juga penuh perenungan yang bisa mengucurkan air mata. Selamat membaca!

Resensi Jodoh di Jateng Pos 6 Maret 2016

*dimuat di Jateng Pos 6 Maret 2016

*baca juga resensi novel Fahd Pahdepie yang lain Menatap Punggung Muhammad

8 thoughts on “Jodoh karya Fahd Pahdepie

  1. Husnul_Aini 17 Mei 2016 / 02:28

    Kalau ngirim resensi ke jateng pos terus tulisan dimuat, itu dikasi bukti terbit ya kak?

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s