Blogtour & Giveaway Sebanyak Tetesan Hujan Kali Ini karya 23 Penulis KOBIMO

Judul                            : Sebanyak Tetesan Hujan Kali Ini   12107952_10205041916595299_5174429638527136664_n

Penulis                          : 23 Penulis Kobimo

Editor                           : Eva Sri Rahayu

Penerbit                       : Rumah Fiksi

Tahun Terbit                : Pertama, Oktober 2015

Jumlah Halaman          : 318 halaman

ISBN                           :  978-602-1168-59-2

Putra adalah anak desa, di pelosok Tegal tepatnya. Pedesaan yang wilayahnya banyak ditanami kubis oleh petani. Putra hidup dan dibesarkan oleh neneknya. Ibunya meninggal ketika dia lahir. Sedangkan ayahnya, pergi menjadi TKI di luar negeri untuk membiayai hidupnya dan nenek.

Meski begitu, Putra merasa benci kepada ayahnya karena seperti menelantarkan, dia, alhamarhumah ibunya, dan neneknya. Karena yang dia rasakan hidupnya kesulitan, harus berjualan di warung sederhana, dan masih terasa serba kesusahan. Sama halnya dengan kekurangan kasih sayang, dia merasa kurang merasakan kasih sayang utamanya dari ayahnya, tidak seperti teman-temannya yang memiliki keluarga yang lengkap.

Putra memiliki kekasih yang bernama Marini. Mereka saling menyayangi meski orangtua Marini tidak suka anaknya memiliki hubungan khusus dengan Putra yang tidak memiliki pekerjaan apa-apa selain menjaga warung. Setelah kematian neneknya, Putra merasa kesepian dan sangat sedih. Rasa marah dan dendam pada ayahnya pun semakin menjadi, bahkan ada keinginan untuk membunuh ayahnya jika bertemu nanti.

Pasca kematian neneknya, datang seorang lelaki yang mengaku saudara lelaki ayah Putra. Paman Hendro namanya. Dia mengajak Putra untuk ikut dengannya ke Jakarta untuk kuliah dan mengembangkan minatnya dalam dunia kepenulisan. Meski awalnya dia tidak mau, namun akhirnya dia pun berangkat ke Jakarta karena ingin membuktikan kepada orangtua Marini bahwa dia bisa sukses dan cocok dengan anak mereka.

Paman Hendro menikah dengan Tante Santi dan memiliki dua anak, Dion yang seumuran dengan Putra, dan Nasya yang masih sekolah TK. Kedatangan Putra tidak disenangi oleh Tante Santi juga oleh Dion. Lain halnya dengan Nasya, Nasya suka bermain dengan Putra. Dion yang selama ini merasa kurang diperhatikan oleh Papanya, merasa cemburu dengan anak desa seperti Putra yang rela dijemput oleh Papanya tanpa supir.

Ditambah lagi sikap Papanya kepada Putra memang beda dengan sikapnya kepada Dion. Dion cemburu dan semakin cemburu ketika Putra ternyata mampu menghasilkan karya tulis dengan bagus. Sedangkan tulisannya tidak bagus-bagus, sehingga Papanya tidak sayang-sayang kepadanya. Keinginan Papanya agar dia bisa menulis dengan bagus, belum bisa dia lakukan. Selain itu Rasi, pacar Dion mulai tidak sabar dengan sikap cuek Dion dan menunjukkan tanda-tanda kalau dia menyukai Putra, sehingga Dion semakin terganggu dengan kedatangan Putra di rumahnya.

Bagaimana kelanjutan kisah yang berkonflik antara sepupu yang pintar menulis dan tidak dalam novel Sebanyak Tetes Hujan Kali Ini ini? Bagaimana kisah kasih antara Putra dan Marini juga Dion dan Rasi? Apakah Putra akan bertemu ayahnya? Apakah Dion akan menjadi penulis terkenal sesuai keinginan Papanya? Penasaran? Baca bukunya langsung aja!
Saya ingin memberikan komentar atas buku ini. Baik akan dimulai dengan pujian dan kelebihan ya. Sebagai buku yang ditulis oleh 23 penulis, buku ini wow! Saya pertama kali baca novel yang ditulis banyak orang, jadi Wow! Benar, tidak mudah menulis buku bersama yang antar satu penulis dan penulis lainnya saling menyambung kisah, tentu berbeda dengan antologi yang setiap penulis menulis kisah berbeda. Butuh persamaan visi dan misi, ketelitian, kesabaran juga saling rendah hati. Karena sungguh, tiap kepala pasti berbeda pendapat tentang bagaimana kisah ini mau dilanjutkan, bagaimana diksinya, bagaimana konflik, klimaks hingga anti klimaksnya.

Inilah kelebihan buku ini yang membuatnya Wow! Jarang-jarang kan ada buku yang seperti ini. Bisa jadi dan diterbitkan itu sebuah hal yang luar biasa. Selain itu kisahnya menarik, bikin saya penasaran untuk menyelesaikannya. Selain itu, kurang pas juga bila saya buku ini hanya mendapat pujian dan tanpa melihat kekurangannya.

Kekurangan buku ini, ada beberapa typo, baik kurang huruf, ataupun salah penulisan, hingga salah tanda baca. Seperti yang saya temukan di halaman 31, ada tulisan setelah titik, Banyak sekali. melebihi bayaknya…. Nah, jika setelah kata sekali adalah titik maka kata melebihi seharusnya diawali huruf besar, namun saya melihat cocoknya setelah kata sekali seharusnya koma, dan kata bayak seharusnya banyak. Semoga kelak penerbit dan editor lebih teliti lagi, agar membantu kenyamanan membaca.

Sebenarnya saya nggak merasa novel ini ditulis oleh banyak orang, namun adanya  inkonsistensi penulisan nama tokoh, pada halaman ketika perkenalanan disebut Tante Santi (halaman 52), namun di halaman Tante Shanti (halaman 137). Ada juga perbedaan panggilan, di surat-surat antara Putra dan Marini. Dalam sebuah surat Marini memanggal Putra saja, namun di surat lainnya ditambahi kak, jadi Kak Putra. Dalam salah satu surat, Putra banyak memakai kata sayang, namun di surat lain, nggak ada kata sayang sama sekali. Ini kurang pas menurut saya. Nah kesalahan ini, terjadi karena memang penulisnya banyak, ketelitiannya kurang.

Ada kejadian pencurian sehingga salah satu tokoh meninggal, yang saya heran dan pikirkan ketika membaca kok rasanya tokoh yang lain kok pada pasrah kok nggak ada investigasi berlanjut. Ya maklum, selain membaca novel ini saya juga lagi nonton serial action, seperti Arrow, The Flash dan The Walking Dead. Akhirnya, saya berpikir kenapa tidak ada kejelasan tentang pencurian pembunuhan karena novel ini bukan novel misteri dan detektif. Tapi menurut saya hal itu bikin novel ini kurang, ya kurang seru gitu. Entah bagi yang lainnya.hehe

Ohya, setelah rampung baca novel ini, sayangnya saya nggak nemukan biodata 23 penulis novel ini, coba ada, makin keren novel ini! Kan bisa kenalan sama penulisnya hehe Ada sih beberapa nama penulis yang saya tahu meski belum pernah baca karya mereka, seperti Hengki Kumayandi, Eva Sri Rahayu, Ari Keling, Koko Ferdie dan beberapa nama lagi. Baiklah sudah soal komentar tentang novel ini. Semoga Kobimo jika akan menulis novel bersama lagi, akan jadi lebih baik lagi dan lagi. Saya akan menuliskan beberapa kalimat-kalimat menarik yang ada di novel ini.

  1. Menulis dan membaca bagai sepasang kekasih. (halaman 44)
  2. Rindu menciptakan sejuta tanya yang tiada berjeda (halaman 54).
  3. Tidak ada yang mudah di dunia ini, semua butuh proses dan kerja keras (halaman 59).
  4. Anggap saja kamu lagi mendapat didikan versi militer, supaya kamu makin tangguh nantinya (halaman 81).
  5. Di setiap kata, berdiri suatu dunia. Seseorang yang sedang menggunakan seharusnya ia menyadari bahwa ia sedang menggoyang dunia (halaman 116).
  6. Guru itu ada di mana-mana, bahkan alam raya ini pun bisa jadi guru bagimu (halaman 128).
  7. Plagiator dan ghost writer sangatlah berbeda. Plagiator adalah orang yang benar-benar menjiplak dan mengakui bahwa tulisan atau karya orang lain adalah hasil buah pemikirannya sendiri. Sedangkan, ghost writer hanyalah seorang yang menjual ide dan kepiawaiannya dalam tulis menulis, sama halnya menjual jasa (halaman 260).

Satu hikmah dari sekian hikmah dari novel ini adalah, ayah atau orangtua tidak memaksa anak menjadi apapun, karena anak memiliki kemampuan lain yang bisa membanggakan orangtua jika ditekuni. Nah, gimana, penasaran dengan novel ini? Mau dapat novel ini secara gratis? Ikutan giveawaynya yuk! Yang ingin memiliki kesempatan untuk dapatkan buku keren ini secara gratis, simak-simak persyaratannya baik-baik ya!

  1. Memiliki alamat (rumah) di Indonesia. Nah, WNI yang domisili lagi di luar negeri boleh ikut kok, asal ada alamat di Indonesia.
  2.  Follow twitter @muhrasyidridho, boleh juga (alias nggak wajib) follow instagram saya @mrridho01
  3. Follow blog ini, bisa via email, wordpress atau bloglovin.
  4. Sebarkan link Giveaway ini di semua media sosialmu. Khusus di twitter, mention @muhrasyidridho hashtag #sebanyaktetesanhujankaliini
  5. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan nama, twitter dan kota tinggal, cukup sekali saja. Pertanyaannya adalaah: Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?
  6. Setelah selesai menjawab, segera tweet, “Saya sudah ikutan giveaway #sebanyaktetesanhujankaliini yang lain ikutan!” dengan mention @muhrasyidridho

Giveaway ini diadakan mulai tanggal 4 April-8 April jam 12 Malam. Cukup lama kan? pemenang akan dipilih dari jawabannya ya, jadi jawablah sesuai prosedur, sebaik mungkin (unik, lain daripada yang lain), jangan asal dan jangan lupa berdoa :)

novel Flyer

  • cover buku diambil dari sini

22 thoughts on “Blogtour & Giveaway Sebanyak Tetesan Hujan Kali Ini karya 23 Penulis KOBIMO

  1. megawidya06 4 April 2016 / 17:30

    Nama : Mega Widyawati
    Twitter : @widy4_w
    Kota tinggal : Nganjuk – Jawa Timur.

    Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Mendengar kata hujan, yang terlintas di pikiranku adalah Air hujan yang turun suaranya sangat berisik diatap-atap rumahku, Suara Guntur yang menggelegar dan bisa bikin kaget, Kilat-kilat seperti lampu dilangit yang menyala.
    Kadang pas waktu hujan deras, terjadi pemadaman lampu yang lama sekali temponya.
    Kadang kalo hujan melanda pada siang hari, akibanya kan nggak ada sinar matahari, dan bertepatan pas selesai mencuci, di situlah efek kata hujan yang melanda akhirnya Jemuran tak kering-kering.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Widy Nur Utami 5 April 2016 / 04:31

    Widy @Widy_NUtami, Padang

    Yang teringat ketika hujan…
    Fabian (seorang tokoh dalam cerpen saya, tugas masa putih abu-abu beberapa tahun yang lalu).

    Suka

  3. dinuchan 5 April 2016 / 09:04

    Cuba ikutan (lagi), ya …. Semoga kali ini berjaya,🙂 (amiin)

    Nama: Dinu Chan
    Twitter: @Chan_Dinu
    kota tinggal: Sleman, D.I Jogjakarta

    Yang terlintas tentang hujan ituuu

    1. Salah satu judul novelnya Tere Liye

    2.Prahara kebakaran hutan berbulan lalu di Riau dan beberapa tempat lain di Sumatera sana. Di mana kemunrculan hujan sedikit apapun curahnya amat sangat dinantikan. Sedang di sudut bumi yang lain, hujan yang turun menyebabkan banjir (tentu bukan kesalahan hujan, tapi lebih kepada polah-laku-lampah manusianya). Betapa suatu fenomena.

    3. Kejadian beberapa hari lalu di lingkungan tempat tinggal yang agak berbeda dari biasanya. Jelang hujan turun, langit bergemuruh skala kecil, tanpa petir, pelan, tidak menggelegar tapi lama. Membuat pikiran melayang ke mana-mana. Dari fenomena makhluk asing luar angkasa hingga datangnya hari kiamat.

    Disukai oleh 1 orang

  4. anandanftrn 5 April 2016 / 22:59

    Ananda Nur Fitriani
    @anandanf07
    Bogor

    Mendengar kata hujan, aku langsung teringat kotaku sendiri (Bogor, yang terkenal dengan sebutan kota hujan) serta kejadian-kejadian yang menyertai turunnya hujan. Diantaranya; waktu aku pergi ke sekolah naik motor bersama ayahku, memakai jas hujan, sandal, atau sepatu yang ditutupi kantong kresek. Lalu, pulang sekolah hujan turun sangat deras, membuatku berteduh 2 jam. Tapi, hujan belum reda juga sehingga aku harus berlari dari sekolah hingga ke stasiun kereta. Lelah berlari, aku pun berjalan dengan santai, menikmati air hujan yang terus berjatuhan dari langit, hingga jatuh di tanah atau mengenai seragam sekolahku. Di kereta basah kuyup, keluar kereta pun masih hujan. Sesampainya di rumah, rumahku banjir, air masuk hingga pertengahan rumah, dan akhirnya kami sekeluarga bergotong royong menyapu serta membersihkan sisa-sisa air hujan. Setelah semuanya selesai, kami berkumpul di ruang keluarga, hujan mulai reda, mengeluarkan bunyi rintik-rintik kecil, rasanya… nyaman, hangat, dan entahlah apa lagi. Walau terkadang masuk angin, tapi berdiri di bawah hujan lebat rasanya sangat asyik ^^

    Suka

  5. Erin 6 April 2016 / 01:11

    Erin | @RiienJ | Bekasi

    Penantian.
    Hujan itu sebuah penantian.
    Penantian menunggu reda untuk menyaksikan kembali birunya langit yang mendung.
    Menanti mentari kembali menyilaukan kegelapan.
    Hujan juga sebuah penantian di kala musim kemarau melanda. Sebuah kerinduan menghirup bau basah tetesan hujan yang menyentuh tanah.
    Seperti itulah hujan yang akan selalu menjadi sebuah penantian.

    Suka

  6. Koko Nata 6 April 2016 / 04:59

    Awalnya saya pikir kumpulan cerpen karena ditulis banyak orang, ternyata novel, ya… Pati tidak mudah proses penulisannya

    Suka

  7. nunaalia 6 April 2016 / 07:29

    nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    kota tinggal: Serang

    Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Air, basah, dan dingin.
    Hujan identik dengan air. Karena hujan segalanya menjadi basah baik itu tanah, pepohonan, rumah, bahkan udara. Dan udara yg basah rasanya dingin. Namun hujan juga menimbulkan harapan, karena hujan membuat awan yg mendung menghilang, dan setelah hujan reda langit akan kembali cerah dan matahari kembali bersinar.

    Suka

  8. Sulhan Habibi 6 April 2016 / 14:21

    nama : M. Sulhan Habibi
    twitter : @SulhanHabibi
    kota tempat tinggal : Maros, Sulsel

    Pertanyaannya adalaah: Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Jawaban:

    Kalau mendengar kata hujan, aku teringat sebuah kalimat yang pernah aku baca sebelumnya dan beberapa hari yang lalu temanku mengingatkan aku akan kalimat itu. Kalimat itu adalah:

    Hujan -> 50% air, 50% kenangan

    Aku tergelitik dengan kalimat ini karena menurutku kalimat tersebut benar adanya, dan hampir akurat.
    Hujan itu tentu saja adalah air yang jatuh dari langit.
    Hujan itu bisa membangkitkan kenangan, kerinduan, kelegaan, dan perasaan lainnya.

    Sering ketika hujan teringat masa kecil dan ingin main hujan-hujanan lagi. Main di sawah, kebun, jalan raya.

    Kadang ketika hujan teringat kenangan yang sedih, ingin menangis di bawah hujan biar air mata bisa disamarkan (baper deeh)

    Kadang ketika hujan rasanya ingin menari dan meluapkan kesenangan di bawah hujan. Menari di bawah hujan (sambil pakai payung) layaknya lagu “Singing in the rain” atau joget seperti film India.

    Sering kalau hujan bawaannya pengen makan makanan hangat, bakso, teh/kopi hangat, ubi/singkong/pisang rebus atau goreng, atau makanan lainnya yang hangat sambil menikmati hujan dari beranda rumah.

    Hujan pun membuat perasaan gembira karena udara yang segar, dingin, dan bau tanah yang terkena hujan pertama kali. Tapi ada pula mungkin yang kesal akan hujan karena merasa dirugikan (kehujanan di jalan, tidak bisa kemana-mana dll)

    Makanyaaa….

    HUJAN itu 50% AIR dan 50% KENANGAN
    Semua hal yang indah-indah jadi terkenang deeh. Hehehe…

    Suka

  9. Andi 7 April 2016 / 07:20

    Wah, keren amat nih novel klo beneran ditulis ma 23 penulis. Alur ceritanya jadi susah ditebak ya mestinya

    Suka

  10. Dia Gaara Andromeda 7 April 2016 / 13:20

    Hallo salam kenal semuanya, terima kasih sudah mengikuti giveaway novel Sebanyak Tetesan Hujan Kali Ini …

    Untuk mas Ridho, terima kasih juga sudah memberi riview atas novel ini🙂

    Suka

  11. Dia Gaara Andromeda 7 April 2016 / 13:34

    Wah terima kasih reviewnya Mas Ridho🙂

    Suka

  12. womomfey 7 April 2016 / 20:57

    Nama: Kitty
    Akun twitter: @womomfey
    Link share: https://twitter.com/WoMomFey/status/718171749825650688
    Domisili: Jakarta

    Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Jawaban:

    Hal pertama yang melintas dipikiranku ketika mendengar kata hujan adalah kegembiraan masa kanak-kanakku. Dulu, ketika aku dan adik-adikku masih kecil, kami sangat menanti-nantikan air langit yang turun membasahi tanah. Kenapa? Karena biasanya kami diijinkan bermain di bawah rinai hujan selama beberapa menit sebelum akhirnya mandi bersama dan setelahnya masing-masing akan disuguhi segelas susu coklat hangat oleh mama.

    Kalau kedua adik laki-lakiku suka berlompat-lompatan bak kodok dibawah rinai hujan, maka aku cenderung memilih menari bersamanya. Tentu saja hanya tarian dengan gerakan bebas dan asal-asalan dengan didominasi gerakan berputar🙂 Setelahnya, kami akan sama-sama menengadah ke arah langit dan membuka mulut kami lebar-lebar. Yup! Kami hampir selalu menutup ritual hujan-hujanan kami dengan meminum langsung air hujan yang sedang terjun bebas ke bumi. Hahaha ^o^

    It was so much fun at that moment! >.<

    Jadi, ketika saat ini aku juga sudah menjadi seorang ibu, aku pun mempraktekkan hal yang sama bagi kedua putraku yang masih balita. Yup! Ketika sudah 2 tahun berturut-turut musim kemarau merajai negara tropis kita ini, aku selalu menantikan kehadiran sang hujan. Saat akhirnya hujan turun, aku mengijinkan putra-putraku bermain di bawah rinainya. Mereka selalu bermain dengan sangat gembira dan suara tawa mereka bergema bahkan sampai ke rumah tetangga! Hahaha.

    Bahagia sekali rasanya melihat mereka begitu menikmati hujan. Biasanya suamiku juga ikut serta menemani mereka bermain di bawah hujan. Sedangkan aku memilih mengabadikan keriaan mereka bertiga dengan kamera smartphone sambil payungan ^^ Kegembiraan yang tergambar jelas di wajah mereka selalu membawaku kembali ke masa-masa kecilku dulu. Memang, untuk membuat seorang anak bahagia itu sebenarnya hanya sesederhana mengijinkannya menikmati sejenak keindahan air langit yang bersentuhan langsung dengan tubuh mungilnya.

    ———————————————————————————————————————

    Anyway, dari awal tahu mengenai blog tour ini, aku udah penasaran banget loh! Apa jadinya sebuah buku yang penulisannya dikeroyok oleh 23 penulis?! Penasaran bagaimana mereka bisa mempertahankan alur kisahnya tanpa menjadi bertele-tele dan akhirnya membosankan, kekuatan karakter masing-masing tokoh, bahkan sampai kepada diksinya.

    Semoga saja aku berjodoh dengan buku ini melalui giveaway di blognya Ridho ini.

    Thank u so much for this opportunity.

    Suka

  13. Mita Oktavia 8 April 2016 / 01:56

    Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Rindu, Kenangan, aroma tanah yang basah.

    Karena banyak hal yang telah saya alami. Pengalaman-pengalaman itu yang akhirnya melahirkan kenangan. Sesekali saya merindu bersama turunnya air hujan yang jatuh membasahi tanah. Aroma tanah yang basah menjadi pelengkap. Saya suka hujan, saya suka aroma tanah yang basah ketika hujan.

    Ada perasaan sesak, tapi tidak sedikit perasaan bahagia dan syukur.
    Setidaknya lewat hujan yang turun, saya bisa menikmati putaran demi putaran ingatan tentang kenangan yang pernah saya alami.
    Entah itu perasaan yang membahagiakan, atau malah perasaan sedih. Mungkin karena terlalu merindukan.

    Setidaknya ketika hujan turun waktu itu, di bawah payung yang sama, saya pernah berjalan seirama dengan orang yang pernah begitu berarti dalam hati dan hidup saya.

    Setidaknya ketika hujan turun waktu itu, saya masih bisa mengantarkan almarhumah sahabat saya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Meski melepasnya dengan air mata.

    Bagi saya, hujan tidak hanya mengajarkan tentang kesedihan, hujan juga tidak hanya melahirkan kenangan. Hujan mengajarkan pula seberapa besar rasa syukur atas apa yang telah terjadi di dalam kehidupan kita. Karena semua itu bagian daripada takdir kehidupan. Entah itu bahagia atau justru kepahitan. Hujan mengajarkan ketegaran, betapa langit begitu ikhlas ketika ia harus meneteskan airnya untuk membasahi tanah. Pun mengajarkan bahwa ketika kita kehilangan orang yang berarti dalam hidup kita, kita pula harus mengikhlaskannya meski awalnya mungkin melepaskannya dengan air mata.

    Mita Oktavia
    Bogor, Jabar
    @Oktaviamithaa

    Suka

  14. agathavonilia 8 April 2016 / 11:45

    Nama : Agatha Vonilia M.
    Twitter : @Agatha_AVM
    Domisili : Jember

    Mendengar kata ‘hujan’, ‘hujan’ selalu mengingatkanku padanya. Dia mulai mengisi relung hatiku ketika ‘hujan’ turun. Selalu, setiap saat bersamanya ‘hujan’ selalu mengiringi kami seakan ‘hujan’ akan selalu menjaga kami berdua. Terima kasih ‘hujan’.

    Suka

  15. Diki Siswanto 8 April 2016 / 14:03

    Diki Siswanto
    @diki_twips
    Masamba, Sulawesi Selatan

    Ketika mendengar kata hujan, yang terlintas di pikiran adalah pelangi. Pelangi adalah fenomena alam yang paling aku tunggu ketika hujan. Sebab, ciptaan Tuhan yang satu ini sangat indah dan mampu membuatku terkagum kagum dan menyadarkan aku atas kuasa-Nya.

    Yah, meskipun tidak selalu muncul. Tetapi aku sungguh menunggu kehadirannya ketika hujan telah reda

    Disukai oleh 1 orang

  16. Kazuhana El Ratna 8 April 2016 / 14:39

    Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Kota : Jepara

    Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Kenangan.

    Yah, hujan selalu menyimpan kenangan. Baik itu kenangan yang membuat tertawa lebar, mengerucut bibir, kocak, penyesalan juga menangis.

    Hujan dan kegembiraan, itu aku rasakan ketika masih kecil. Ketika aku bebas bermain kecipak air dan lumpur sesuka hati. Memang nantinya aku akan mendapat omelan dari Mamak, tapi tetap saja hujan kala itu sangat menyenangkan. Berlarian di bawah buliran air bermain perahu kertas bersama kawan-kawan, itu adalah kegembiraan .

    Dan kenangan tentang hujan yang masih selalu ingat yang membuatku menertawakan diri sendiri. Bagaimana tidak? Aku masih ingat ketika hujan menjadi teman di masa sekolah, hujan itu seolah musuh. Karena saat hujan itu berarti aku harus membawa payung. Dan kala itu model anak sekolah yang naik bus sambil bawa payung itu cupu banget. Aku akhirnya selalu menerjang hujan hingga basah kuyup. Itu lebih keren dari pada harus menenteng payung. Entah pemahaman dari mana itu. Yah, aku hanya mengikuti jejak kakak kelas. hhehh.

    Hujan juga menyimpan penyesalan. Sebagai orangtua, Mamak tentu saja selalu mengingatkan aku untuk sedia payung selagi hujan. Tapi dasar bandel, aku selalu menolak dengan berbagai alasan. Dan akibatnya, aku mendapat bala. Aku terkapar seminggu setelah kehujanan. Ah, andai aku mau mendengarkan.

    Hujan juga meninggalkan kepedihan hingga ingin menangis luruh bersama hujan. Yah, kepergian kakekku datang bersama gemuruh air hujan. Mungkin itu adalah kuasa Tuhan, bahwa langit juga sedih dengan kepergian beliau. Karena kepergian beliau berarti desaku kehilangan sosok kiai yang wirai’.

    Hujan. Selalu menyimpan cerita. Jatuhnya rintikan hujan seolah jatuhnya sebuah kenangan.

    Suka

  17. nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    twitter : @MukhammadMaimun
    kota : Sleman

    Kalau mendengar kata hujan, apa yang terlintas di pikiranmu?

    Masa kecil yang selalu kurindukan. Masa kecil yang tidak peduli pada peliknya dunia. Masa kecil yang ceria.
    Hujan selalu mengingatkanku pada permainan yang sering kumainkan pada saat kecil. Sepakbola, mencari ikan di sungai, dan masih banyak permainan bocah yang kelakukan saat aku kecil. Masa yang selalu kuingin kembali ke sana

    Disukai oleh 1 orang

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s