Lotus Feet Girl karya Wiwid Prasetyo

Bersyukur Jalan Menuju Kebahagiaan

Judul                            : Lotus Feet Girl Cover Lotus Feet Girl

Penulis                          : Wiwid Prasetyo

Editor                           : Cahyadi H. Prabowo

Penerbit                       : Metamind, Imprint Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Cetakan I, Februari 2015

Jumlah Halaman          : 240 halaman

ISBN                           :  978-602-72834-0-4

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di Sd Muhammadiyah Bondowoso

Kebahagiaan adalah sesuatu yang paling dicari oleh manusia. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan satu kata bahagia. Di antaranya mereka mencari kebahagian dengan memperbanyak harta dengan cara apapun, tanpa pandang perbuatan itu baik atau buruk, tanpa tahu perbuatan itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain atau tidak.

Begitulah dunia, selalu menyilaukan mata manusia dengan segala bentuk fatamorgana. Dalam sebuah novel Lotus Feet Girl karya Wiwid Prasetyo pun secara tidak langsung menceritakan kisah anak manusia yang salah dalam mencari arti dari kata bahagia. Mei Yan adalah seorang ibu yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya, Wu Ying. Kehidupan mereka tidak bisa dibilang baik, karena memang serba kekurangan. Apalagi ketika suaminya meninggal, Mei Yan seakan tidak punya harapan lagi untuk melanjutkan hidup.

Suaminya hanya meninggalkan beberapa biri-biri, dan ketika dijual oleh anaknya hanya mendapatkan beberapa Fen (mata uang kerajaan Yunan kala itu) yang hanya cukup mengganjal perut mereka paling tidak hanya dalam seminggu. Ketika mereka sudah tidak tahu harus membeli makan dengan apa, Pasaraya tahunan dimulai.

Pasaraya yang semula diharapkan menjadi ajang hiburan dari penguasa bagi rakyatnya tak sepenuhnya benar. Karena yang bisa menikmati pasaraya hanya orang yang berharta saja, sedangankan Wu Ying dan ibunya hanya bisa melihat dan meneteskan air liur karena pengin namun tak bisa memiliki.

Kehidupan mereka semakin menderita, setelah lama berkeliling menonton pasaraya mereka berdua kelaparan. Mei Yan mematahkan janji pada anaknya agar tidak memiliki keinginan ketika berada di Pasaraya, namun faktanya mereka lapar. Akhirnya, Mei Yan mengajak Wu Ying untuk makan. Tidak dengan uang sendiri namun dengan mencari pekerjaan.

Mereka berjalan dari satu lapak ke lapak lain yang ada di pasaraya, mereka datang ke  kedai pemotongan babi, mereka meminta sebuah pekerjaan dan meminta upah sekali makan. Bukannya dipersilakan, mereka malah mendapat penolakan dari tukang potong babi tersebut. Tak kunjung mereka mendapat sambutan yang baik, mereka selalu mendapatkan cemoohan dan sumpah serapah. Mereka kelaparan hingga sampai di rumah (halaman 19).

Gubernur Yunan berduka sebab istrinya meninggal, karenanya Sang Gubernur mencari istri pengganti. Hal ini dijadikan kesempatan oleh Mei Yan sebagai jalan memperbaiki takdir hidup. Dia ingin anaknya mencoba peruntungan ini. Jika Wu Ying terpilih, maka Wu Ying dan dia akan terangkat derajatnya dan akan hidup bahagia.  Dia merias Wu Ying dan membujuknya untuk datang ke istana. Akhirnya, Mei Yan pun menawarkan Wu Ying kepada utusan Gubernur untuk membawa anaknya.

Wu Ying menjadi orang terpilih, Gubernur terpikat dengan kecantikannya. Wu Ying pun terpesona dengan ketampanan Gubernur dan megahnya kerajaan. Imajinai kebahagiaan telah terukir di benak Wu Ying, kelak setelah upacara pernikahan dia pun berencana membawa ibunya ke istana.

Namun, jauh api dari panggang, tak ada kebahagiaan dengan menjadi istri gubernur dan hidup di istana. Wu Ying harus taat dengan adat istana yaitu mengecilkan kakinya, dengan dipatahkan agar tidak berkembang dan selamanya menjadi kaki yang mungil (halamn 75). Sungguh hal ini sangat menyiksa dan menjadi penyesalan selama hidupnya.

Ketika membaca novel ini, sangat terasa kisah epik kerajaan Yunan meski ditulis penulis Indonesia. Wiwid berhasil menciptakan atmosfer kehidupan kuno di China. Novel yang terinspirasi dari adat kerajaan Yunan yang tidak manusiawai ini juga menceritakan perjalanan cinta Wu Ying dengan penjual boneka rumput.

Jika ditarik kesimpulan, maka salah satu amanat dari novel ini adalah kebagiaan itu ada di hati, ada pada apa yang dimiliki saat ini, bukan yang dimiliki oleh orang lain. Maka, selayaknya buku setebal 240 halaman ini direkomendasikan untuk Anda baca, karena tidak sekadar menghibur namun juga menginspirasi. Selamat membaca!

Resensi Lotus Feet Girl di Koran Pantura 30 Maret 2016

*dimuat di Koran Pantura 3o Maret 2016

9 thoughts on “Lotus Feet Girl karya Wiwid Prasetyo

  1. Ida Raihan 12 April 2016 / 04:05

    Nah sekarang peroleh tambahan ilmu untuk belajar menulis resensi. Makasih Mas Bro Ridho.

    Suka

  2. Koko Nata 12 April 2016 / 04:05

    Menarik, ya. Setting Yunan di masa lalu tetapi ditulis oleh penulis Indonesia

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 12 April 2016 / 04:24

      Iya Mas. Saya perhatikan buku-buku atau novel sebelumnya Mas Wiwid juga berlatar sejarah, beberapa sejarah di Indonesia. Saya belum baca sih, ini buku pertama yang saya baca…

      Suka

  3. Gusti 14 April 2016 / 13:35

    Beberapa kali denger soal kewajiban buat mengecilkan kaki ini, walau cuma sekilas-sekilas.

    Aku heran, mereka masih bisa jalan dan berdiri dengan kondisi kaki seperti itu ya?😦

    Suka

  4. adindilla 13 September 2016 / 08:20

    Mengenai masalah mengecilkan kaki, saya pun pernah membaca novel yang memaparkan adat demikian. Namun caranya dengan dibebat kain hingga ketat sekali. Dan budaya mereka, semakin kecil kaki perempuan, semakin cantik. Namun siksaan prosesnya memilukan. Ini novel yang menarik sekali. Jadi ingin baca.🙂

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s