Markas Cahaya karya Salman Al-Jugjawy

Jalan Spritual Mantan Gitaris Band Terkenal

Judul                            : Markas Cahaya  cover markas cahaya full

Penulis                          : Salman Al-Jugjawy

Editor                           : Pratiwi Utami & Norombini Rumawas

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2016

Jumlah Halaman          : 220 halaman

ISBN                           :  978-602-291-146-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso

Bagi generasi tahun 90an, tentu tidak asing dengan Band bernama Sheila On 7. Sebuah Band asal Yogyakarta ini memang mengalami masa puncak di tahun 90an. Salah satu personelnya bernama Sakti, namun memilih mundur dari Band ketika Sheila On 7 mendapatkan masa kejayaannya. Semua ini menjadi pertanyaan banyak fans, mengapa?

Sakti yang memilih hijrah dari zona foya-foya yang jauh dari agama menuju ke kehidupan yang lebih agamis. Meski hingga kini sudah banyak yang mengetahui alasan Sakti keluar dari Sheila On 7, baik dari media cetak, televisi dan online, dia ingin menginspirasi lebih banyak orang lagi dengan perjalanan hijrahnya. Hingga kemudian  kisah perjalanan spritualnya ini dia tulis menjadi sebuah buku yang berjudul, Markas Cahaya.

Buku ini diawali dengan tempat tingga masa kecil hingga saat ini Sakti yang merubah namanya menjadi Salman Al-Jugjawy di Yogyakarta. Dia menceritakan hidupnya sejak kecil, hingga remaja dan menikah saat ini, banyak dihabiskan untuk mondar-mandir di kawasan Jogja bagian utara. Lokasi tepatnya di sekitar Jalan Kaliurang Km. 5. Dan saat ini, Salman menetap di Jalan Kaliurang Km. 5,8, Sleman, Yogyakarta.

Sejak kecil Salman sudah terlihat meminati dunia musik, dia sering mendengarkan soundtrack dari film anak-anak seperti Gaban, Kamen Rider dan lain-lain. Waktu masuk SD, sejak kelas V-IV Salman sudah menikmati lagu-lagu penyanyi dalam negeri maupun luar negeri. Hobi itu terus berlanjut hingga Salman Kuliah.

Meski sibuk dengan kehidupan kampus, Salman dan teman-teman akrabnya yang meminati musik sejak SMP dan SMA membuat sebuah Band yang bernama Sheila Gank.. Berawal dari Band W.H.Y Genk yang dibuat Salman dan temannya yang bernama Adam. Kemudian mengajak Duta menjadi vokalis, Duta adalah vocalis di grup Adam kalau ada undangan acara 17-an. Mereka kemudian mencari drummer dan menemukan Agung.

Vakum setahun karena Salman pindah ke Semarang, kemudian aktif lagi dan Salman mengajak Eross (yang kemudian megang lead gitar) bergabung. Karena Agung pindah keluar kota, dicarilah penggantinya yang bernama Anton. Akhirnya Salman, Adam, Duta, Eross dan Anton membuat band baru. Tepat 6 Mei 1996 lahirlah Sheila Gank atau teman-temanya Sheila, yang terinspirasi dari nama Sheila yang menjadi bunga sekolah di salah satu sekolah Islam swasta di Jogja (halaman 7).

Sheila Gank semakin menjadi, mereka populer di sekitar Jawa Tengah dan Jogja. Tahun 1998 salah satu radio swasta di Jogja memfasilitasi karya musisi lokal. Lagu-lagu mereka selalu di-request sehinggga bertahan lama di chart (tangga lagu). Kemudian mereka mencoba menjajal Sony Music Indonesia dengan mengirim rekaman lagu mereka dan juga mengganti nama band mereka dengan nama Sheila On 7 atas usulan Eross.

Sony pun melamar Sheila On 7 di pertengahan 1998, sejak itu Salman mendapatkan pengalaman berharga. Kecintaan terhadap musik tersalurkan juga mendapatkan banyak award. Selama 1996-2006 Salman merasakan sekitar 70 penghargaan yang diraih Sheila On 7. Dari penjualan album terbanyak, album terbaik, soundtrack film terbaik, penghargaan versi festival musik, versi majalah dan tabloid anak muda, dll (halaman 9).

Kemudian berlanjutlah kehidupan Salman bersama Sheila On 7. Sejak tahun 2003 Salman mulai mendapatkan pengalaman spritual yang menarik bagi dirinya, baik dari cerita orang maupun langsung dialaminya. Pengalaman yang bisa dibilang puncak adalah setelah konser Soundranaline A Mild Live  tahun 2004 di Surabaya.

Entah karena apa, Salman merasa ingin segera pulang ke Jogja. Sesampainya di Jogja dia baru tahu kalau Ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Dia pun merasa sedih sekaligus menyesal. Dia merasa terlalu sibuk dengan urusan lain, namun lupa dengan keadaan orang yang dicintainya.

Dari kejadian tersebut dia merenung dan mempertanyakan, apa sebenarnya yang dia cari di dunia ini? Mengapa untuk sebuah cita-cita dia harus menyisihkan ibunya, bahkan juga Tuhannya. Apakah ini yang dinamakan bakti? Dia semakin merenungi arti kehidupan, ketika kala itu Tantenya membawa buku tentang kisah nyata orang mati suri. Dia pun membaca buku tersebut dan berpikir bahwa tidak semua orang akan berkesempatan mati suri, melihat siksaan kepada wanita dan kemudian hidup lagi dan memperbaiki diri. Karena itu, dia pun mulai berbenah dan semakin khusyuk ketika shalat (halaman 15).

Semakin bertambah tahun dia pun sering mengikuti kajian keislaman di masjid, membaca buku Islam, hingga dia belajar Islam di India, Pakistan dan Bangladesh pada tahun 2006. Setelah hal tersebut dia pun bersyukur atas hidayah yang dia dapatkan, sesuai Sabda Nabi yang pernah dia baca, “Jika seseorang mendapatkan hidayah karena engkau, itu lebih berharga daripada dunia dan seisinya.”

Dari bahasa yang Salman pakai, buku  setebal 220 halaman ini jelas ditulis untuk dibaca oleh remaja atau anak muda. Namun, dari isinya buku ini sangat baik dibaca oleh orang dewasa juga. Selain kisah inspiratif Salman meraih hidayah, buku ini juga merangkum pelajaran keimanan dan juga wirid al-Lathif yang diambil dari buku Habib Umar bin Hafizh. Karenanya buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca, selamat membaca!🙂

Resensi Markas Cahaya di Harian Nasional 14-15 Mei 2016

  • dimuat di Harian Nasional 14 Mei 2016

2 thoughts on “Markas Cahaya karya Salman Al-Jugjawy

  1. Anggi Putri 29 Agustus 2016 / 13:29

    Salam mas Ridho. Boleh tahu alamat pengiriman resensi Harian Nasional apa ya? Apakah juga ada pemberitahuan jika dimuat? Terima kasih sebelumnya.

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s