Setia Bersamamu karya Qonita Musa

Bahagia Dengan Berdamai Dengan Masa Lalu

Judul                            : Setia Bersamamu    cover Setia Bersamamu

Penulis                          : Qonita Musa

Editor                           : Irna Permanasari

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2015

Jumlah Halaman          : 224 halaman

ISBN                           :  978-602-03-2393-5

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso

Setiap manusia pasti memiliki masa lalu, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Masa lalu adalah jalan menuju masa depan, tidak selayaknya masa lalu yang lama berlalu menjadi penghambat kehidupan di masa akan datang. Sejatinya, seberapa sedih dan menyakitkan masa lalu seharusnya menjadi cermin atau pelajaran agar tidak mengulang kesalahan di hari berikutnya.

Namun, bagaimana jika tidak bisa move on dari masa lalu? Harus ada upaya agar bisa berdamai dengan masa lalu dan akhirnya bisa melanjutkan hidup dengan bahagia. Seperti kisah cinta dalam novel karya Qonita Musa yang berjudul Setia Bersamamu ini. Dikisahkan Diyuna adalah wanita berparas cantik, sayang hidupnya penuh dengan kebebasan karena kehidupan orangtuanya berantakan. Berkali-kali pacaran dan tidur dengan banyak lelaki, namun akhirnya memilih Harry sebagai teman serumah tanpa nikah.

Harry selain ganteng juga kaya. Dia sangat mencintai Diyuna sekaligus takut akan sikap berpikir Diyuna yang terlalu bebas. Ketakutannya benar terjadi, Diyuna sedang mengandung anak Harry. Namun, Diyuna seakan tidak menginginkan kehadiran cabang bayi di dalam perutnya. Diyuna memutuskan untuk mengaborsi anak yang dikandung tersebut (halaman 55).

Doni, kakak seayah Diyuna mencari solusi agar adiknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Doni dan istrinya Rumaysha akhirnya mencoba menjodohkan Diyuna dengan kakak Rumaysha, Hamzah (halaman 38). Awalnya, Diyuna tidak mau terlalu dicampuri urusannya dan dia ingin melanjutkan hidup sesuai inginnya atau ingin membuat takdir hidupnya sendiri.

Terlebih Diyuna merasa kotor dan tercampakkan, sehingga sangat tidak cocok jika harus bersanding dengan Hamzah, seorang putra Kiai yang pastinya religius dan memiliki karir yang cemerlang sebagai diplomat senior (halaman 34). Namun, meski Hamzah tahu kehidupan sebelumnya Diyuna, dia tetap memilih Diyuna untuk menjadi pendamping hidupnya.

Diyuna tak yakin ini takdirnya, namun Hamzah mencoba mengajak agar meyakininya. Sehingga Hamzah sering mengunjungi butik Diyuna (halaman 69). Akhirnya upayanya berhasil, mereka menikah dan memiliki dua orang anak. Namun, tanpa sengaja Diyuna bertemu kembali dengan Harry dalam sebuah pertemuan diplomat (halaman 49). Harry datang sebagai pengusaha sukses yang melebarkan sayap usahanya di Yordania.

Semenjak itu Diyuna dan Harry pun kembali pada memori ketika mereka berdua hidup serumah dan segala dinamikanya. Harry menyesal dengan perbuatannya meski dia masih mencintai Diyuna, dan Diyuna masih terbayang-bayang dengan masa lalu dan bertanya-tanya apa hidup Harry baik-baik saja, namun mengapa Harry masih sendiri. Mereka seakan terjebak di masa lalu. Hingga nantinya Diyuna akan memilih apa dan siapa yang terbaik dan akan menjadi kebaikan bagi hidupnya.

Dengan demikian novel ini tidak sekadar berisi kisah yang manis nan romantis sebagaimana covernya, namun juga penuh makna nan inspiratif yang tidak hanya dalam kisahnya namun juga terdapat dalam petikan-petikan quotes-nya. Sebuah buku yang layak dibaca karena memiliki etos cinta serta konskuensi hidup yang selalu dalam pilihan dan pilihan. Selamat membaca!🙂

13422371_10206463419929255_6723252645265240889_o

*dimuat di Harian Singgalang 12 Juni 2016

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s