Mendidik Pemenang Bukan Pecundang karya Dhitta Puti Sarasvati & J. Sumardianta

cover-mendidik-pemenang-bukan-pecundang

Menjadi Guru Para Pemenang

Judul                            : Mendidik Pemenang Bukan Pecundang

Penulis                          : Dhitta Puti Sarasvati & J. Sumardianta

Editor                           : Ikhdah Henny

Penerbit                       : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                : Pertama, April 2016

Jumlah Halaman          : 324 halaman

ISBN                           :  978-602-291-193-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso

Menjadi guru adalah kemuliaan. Betapa tidak? Di negara-negara maju, profesi guru sangat dijunjung dan diperhatikan oleh negara. Ketika Jepang tertimpa musibah tsunami, satu hal yang utama diperhatikan oleh pemerintah adalah guru. Mereka segera mencari guru yang masih hidup dan guru-guru baru sebagai pengganti yang meninggal. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan “Menjadi guru bukanlah pengorbanan, tetapi sebuah kehormatan,”

Sebenarnya posisi guru bukan diisi oleh orang-orang dengan kemampuan menengah ke bawah, tetapi menengah ke atas. Namun, faktanya banyak orang-orang yang melanjutkan kuliah ke jurusan keguruan adalah orang-orang dengan kemampuan menengah ke bawah, sedangkan jurusan selain itu banyak diisi oleh mereka yang berkemampuan pintar. Ini menunjukkan bahwa sebagian orang Indonesia menganggap profesi guru masih di bawah oleh profesi lainnya.

Berbeda dengan pandangan banyak orang, Dhitta Puti Sarasvati setelah lulus dari Teknik Mesin ITB dan Pendidikan Matematika di Universitas Bristol, United Kingdom malah memilih menjadi guru. Bahkan dia rela mengawali menjadi guru honorer  Fisika di Madrasah Tsanawiyah Al-Huda Bandung ketimbang menjadi insinyur (halaman 208).

Puti sangat mencintai dunia pendidikan dan keguruan, dia pun menulis sebuah buku tentang pendidikan yang tidak hanya berdasarkan teori namun juga aplikasi nyata selama dia mengajar. Buku tersebut berjudul Mendidik Pemenang Bukan Pecundang, yang ditulis bersama guru gokil nan kreatif J. Sumardianta.

Menurut Dellors, dkk., dalam buku Learning: The Treasure Within, ada empat tujuan pendidikan. Learning to know (belajar untuk tahu), learning to do (belajar untuk bisa melakukan), learning to live together (belajar untuk hidup bersama) dan learning to be (belajar untuk menjadi) (halaman 91).

Namun realita pendidikan Indonesia berkata lain, pendidikan Indonesia tujuannya lebih condong hanya untuk lulus ujian nasional yang berarti hanya sampai pada taraf learning to know. Murid hanya dijejali oleh segala yang akan keluar saat ujian, tanpa memikirkan apa perlu dan pentingkah murid tahu hal-hal yang dipelajari tersebut. Bukannya menjadikan anak didik menjadi pemenang, tetapi hal ini malah menjadikan para murid menjadi pecundang.

Sebagai guru tentu saja ingin menjadikan anak didiknya tidak saja sukses dalam ujian tetapi juga pemenang kehidupan. Dalam buku ini Puti dan Sumardianta banyak mengulas tentang pendidikan secara umum, pendidikan di sekolah (kelas) juga pendidikan di rumah. Buku ini sebenarnya adalah kumpulan tulisan kedua penulis, yang kemudian dimodifikasi dan dikodifikasikan saling keterkaitan sehingga menjadi tiga bab. Bab pertama bertajuk, parade pandir kaisar telanjang, bab kedua adalah sirkus balap tikus pendidikan dan bab terakhir orang-orang yang kasmaran belajar. Secara keseluruhan pembaca akan mendapatkan cara bagaimana menjadi guru para pemenang.

Pertama, ada pelajaran dibalik pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” juga parodinya zaman ini, “Guru nge-tweet berdiri, murid selfie berlari.” Yaitu, guru selalu tertinggal oleh muridnya, sungguh tidak bisa disangkal. Ketinggalan zaman komputer, hingga saat ini dunia smartphone (halaman 10).

Karenanya, guru harus berubah juga berbenah. Berubah menjadikan kecanggihan tekhnologi menjadi sarana tak terpisahkan dalam mengajar para murid. Murid yang bisa lebih semangat stalking di dunia maya dan suka bermain game, menjadi tantangan guru-guru di era gawai. Hal ini dicontohkan oleh Pak Guru Sumardianta ketika beliau mengajarkan tentang nilai nasionalisme dan patriotisme dalam pelajaran PKn dengan meminta murid membuat video tentang heroisme kedua orangtua (halaman 13).

Kedua, namun, meskipun begitu tidak selamanya para murid dimanjakan kecanggihan teknologi. Puti mengatakan tidak ada bedanya antara cara mengajar konvensional dengan cara mengajar memakai teknologi informasi dan komputer (TIK) jika hanya mengganti papan tulis manual diganti gambar dari komputer yang lebih berwarna namun tidak menunjukkan ramai berdiskusi. Dalam matematika dan fisika Puti merasa tidak perlu memakai komputer. Contohnya, ketika akan mengukur frekuensi dan periode sebuah bandul. Karena, dengan memakai benda yang ada di sekitar, lebih jelas dalam pembelajaran ketimbang memakai bandul virtual (halaman 305). Puti ingin menunjukkan bahwa TIK bukanlah dewa, dan harus bijak mana pelajaran apa yang relevan memakai TIK atau tidak.

Ketiga, dalam buku ini kedua penulis juga memberi contoh bagaimana menjadi guru yang penuh inovasi, berani mencoba cara baru agar tidak monoton. Seperti seorang sensei (guru) Bahasa Inggris di Jepang yang mengajar muridnya sambil memasak makanan eropa (halaman 140). Puti juga mencontohkan bagaimana dia menjadi relawan mengajar di Rumah Mentari (halaman 317). Selain semua itu, buku ini juga membahas tentang bagaimana menanamkan nilai welas asih, menjadi pribadi yang baik di masyarakat dan lainnya dengan memberikan contoh dari kisah tokoh-tokoh besar. Tak pelak, jika buku ini cocok dibaca oleh banyak guru guna membuka pikiran dan menambah wawasan untuk lebih baiknya pendidikan di Indonesia di masa depan. Selamat membaca!

 

2 thoughts on “Mendidik Pemenang Bukan Pecundang karya Dhitta Puti Sarasvati & J. Sumardianta

  1. mysukmana 16 September 2016 / 09:53

    Suka dngn kata kata guru suatu kehormatan..mantap, btw sy jg guru loh..hehehe

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s