Psikologi Kematian Karya Komaruddin Hidayat

cover-psikologi-kematian1

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Judul                            : Psikologi Kematian

Penulis                          : Komaruddin Hidayat

Editor                           : Cecep Romli

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2015

Jumlah Halaman          : 230 halaman

ISBN                           :  978-602-385-027-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SD Muhammadiyah Bondowoso

Tidak ada misteri yang selalu mengguncang akal dan batin manusia, kecuali misteri kematian. Meski tekhnologi di dunia bisa dikatakan terus berkembang menuju puncak, namun sampai saat ini masih tidak ada yang bisa mengungkap misteri dari kematian, termasuk juga misteri dari ruh manusia. Pengetahuan tentang ruh ketika masih di dalam tubuh saja tidak tahu, apalagi tentang ruh ketika keluar dari tubuh akan ke mana tentu saja masih menjadi misteri yang tak terungkap (halaman 103).

Misal saja tentang misteri ruh ketika orang mati suri (NDE-Near Death Experience), tidak ada teori ilmiah yang bisa menjelaskan hal ini (halaman 170). Sesungguhnya menurut ajaran agama, ruh seseorang itu tidak mengenal kematian, melainkan hanya berpindah dunia. Jadi, nilai yang paling berharga bagi ruhani adalah prestasi yang melewati ukuran-ukuran materi (halaman 53).

Hal ini memang sudah menjadi rahasia Allah yang tidak bisa diungkap dan ditebak oleh manusia. Kematian yang tidak tahu kapan menghampiri dan ruh yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra. Kematian juga menjadi hal yang menakutkan oleh manusia, paling tidak ada tiga alasan seperti yang dikemukakan oleh Komaruddin Hidayat dalam bukunya yang berjudul Psikologi Kematian.

Pertama, sebagian orang merasa dimanjakan oleh kenikmatan yang telah dipeluknya selama ini. Dengan demikian, memasuki hari tua berarti memasuki fase penyesalan, sedangkan kematian adalah puncak kekalahan dan penderitaan. Kedua, kematian ditakuti karena manusia tidak tahu apa yang terjadi setelah mati. Sebagaimana persepsi sewaktu manusia keluar dari surga rahim ibu, manusia jadi sedih dan menangis (halaman 113). Padahal setelah kehidupan dunia di jalani, ternyata manusia malah takut berpisah dengan dunia. Begitu juga kalau saja seseorang bisa menghilangkan benih iman dan argumen filosofi akan keabadian jiwa, sangat mungkin orang tak akan takut mati. Bukankah setelah kematian tidak ada kehidupan lagi? Namun persoalannya, manusia sulit untuk mengingkari kebenaran ajaran agama, rasa keadilan moral dan argumen filosofis bahwa keabadian jiwa dan hari perhitungan itu pasti.

Alangkah absurd dan nistanya pengorbanan para pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan kalau saja setelah mati tidak ada perhitungan lanjut. Lalu, apa bedanya antara pejuang dan pecundang jika setelah itu tidak akan ada lagi mahkamah pengadilan yang benar-benar adil? Ketiga, orang takut mati karena seseorang merasa banyak dosanya, lebih banyak amal kejahatannya ketimbang kebaikannya, sehingga takut akan imbalan siksa yang hendak diterimanya kelak (halaman 105).

Maka, jelaslah bahwa setiap yang bernyawa akan mati. Karenanya hidup itu sangat berharga. Karena hidup berharga maka hidup harus bermakna. Bermakna ini menurut Komaruddin adalah berumur panjang. Mengapa berumur panjang? Karena, sejatinya arti dari berumur panjang adalah orang yang berhasil kemakmuran hidup. Yaitu, kemakmuran dalam hal harta, ilmu dan amal (halaman 52).

Hal ini sejalan dengan konsep agama yang disebut amal jariah. Amal jariah yaitu amal yang akan terus mengalir pahalanya meskipun orang tersebut telang meninggal dunia. Amal jariah ini akan terus mengalir jika seorang Muslim memiliki anak yang saleh, menebar ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, dan juga menginfakkan harta dan bendanya yang bermanfaat di jalan Allah.

Jika sudah demikian, maka tidak ada kata takut terhadap mati. Karena, kematian telah dipersiapkan sejak dini dengan senantiasa melakukan amal saleh. Kematian malah menjadi hal yang dirindukan, manusia akan hidup tempat yang terindah yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.

Jika disimpulkan, buku ini mencoba memberikan efek psikologis kepada pembaca bagaimana cara menyikapi kematian sebenarnya. Saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan oleh Kiai saya K.H. Muhammad Ma’shum, “Hidup adalah perjalanan panjang dari perut bunda menuju perut bumi.” Tak pelak buku ini layak untuk dibaca, agar senantiasa teringat bahwa mati adalah kawan terdekat manusia, sehingga mampu menjadi alarm yang mencegah kita ketika akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Selamat membaca!

resensi-psikologi-kematian-di-harian-singgalang-11-september-20161

*dimuat di Harian Singgalang 11 September 2016

 

2 thoughts on “Psikologi Kematian Karya Komaruddin Hidayat

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s