Sang Penakluk Kutukan karya Arul Chandrana

cover penakluk.indd

Melawan Mitos Tak Berperikemanusiaan

Judul                            : Sang Penakluk Kutukan

Penulis                          : Arul Chandrana

Penerbit                       : Republika Penerbit

Tahun Terbit                : 2016

Jumlah Halaman          : 289 halaman

ISBN                           :  978-602-0822-18-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain. Berbeda pula dengan makhluk lainnya semisal hewan, manusia memiliki akal untuk berpikir. Dengan akal ini manusia bisa memilih dan memilah mana yang baik untuk dirinya dan mana yang tidak. Masalahnya, terkadang manusia meninggalkan rasionalitasnya ketika mendapatkan mitos yang berturun-temurun tumbuh di lingkungannya.

Dalam sebuah novel karya Arul Chandrana yang berjudul Sang Penakluk Kutukan, diceritakan persahabatan yang sangat erat antara Ranti dan Hekma. Ayah Hekma bekerja sebagai tabib dengan pengobatan herbal. Suatu ketika ayah Hekma sakit keras, telah diobati ke mana-mana, bahkan sampai mengundang dukun paling terkenal di Bawean. Namun, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan hanyalah Ayah Ranti (halaman 101).

Persahabatan meraka pun semakin erat. Ketika Ayah Ranti dituduh dukun oleh guru mereka Bu Nasimah, Hekmalah yang selalu menghibur Ranti. Tidak hanya itu, Hekma juga selalu menjadi tameng bagi Ranti, bahkan suatu ketika dia berani melawan siswa-siswi lain yang suka usil, mengejek, mencemooh dan membully Ranti.

Namun, persahabatan mereka mulai renggang karena Hekma mulai meninggalkan Ranti. Hal itu terjadi karena Ranti dianggap berubah oleh Hekma. Adalah Akdong dan Aknang yang menjadi penyebab perbedatan dan perenggang persahabatan mereka. Hekma percaya bahwa Akdong dan Aknang adalah manusia terkutuk, karenanya dibuang oleh masyarakat di daerah tempat mereka tinggal. Sedangkan Ranti yang awalnya sempat percaya, namun akhirnya berbeda pendapat dengan Hekma.

Akdong dan Aknang adalah ayah dan anak yang punya penyakit kulit yang disebut laran jhubok atau lepra yang menyebabkan tubuh mereka rusak. Namun, masyarakat sejak dulu terlanjur mempercayai mitos tak berdasar, bahwa apa yang terjadi pada Akdong dan Aknang itu kutukan. Sehingga mereka harus diusir dari perkampungan agar tidak menular kepada yang lain. Mereka berdua pun hidup di hutan.

Suatu ketika Ranti bertemu dengan Aknang, pertemuan mereka mengubah cara pandang dia kepada Aknang dan Akdong. Bahwa masyarakat selama ini salah, harus takut kepada Aknang ataupun Akdong. Ranti dan Aknang saja bisa bersahabat, meskipun Aknang tidak bisa berkomunikasi layaknya manusia sewajarnya. Aknang berbicara layaknya seekor kera, namun Ranti bisa memahami.

Setelah pertemuan itu Ranti jadi sering pergi ke hutan, dengan alasan mencari daun-daunan herbal lainnya. Awalnya orangtua Ranti percaya saja, tetapi merasakan ada yang berbeda dengan anaknya dan merasa curiga. Apalagi, ketika terkabar desas-desus bahwa Ranti bermain dengan Aknang, sehingga banyak yang mulai mencurigai keluarga Ranti.

Hingga pada akhirnya, fitnah datang kepada Ayah Ranti. Banyak warga kampung yang menganggap Ayah Ranti adalah dukun dan bekerjasama dengan Akdong dan Aknang. Maka, mayoritas masyarakat sepakat Ranti dan keluarganya akan diusir dari kampung. Hekma sabahatnya pun ikut bersama pengusir, ingin Ranti dan keluarganya keluar dari rumah mereka dan pergi jauh dari kehidupan masyarakat. Sayangnya Hekma tidak mengetahui, bahwa yang menolong ayahnya bisa tetap hidup sejatinya adalah Aknang anak dari manusia terkutuk.

Arul menulis novel ini begitu sederhana, bahasanya mudah dicerna, dan alur cerita yang mengalir, dan hikmah yang begitu mengena. Saya sebagai pembaca sampai menganggap ini bahwa kisah ini bisa saja benar-benar terjadi di Bawean, karena penggambaran latar sangat mengena. Novel yang sangat asyik dinikmati, tidak hanya menghibur tetapi juga berisi. Tak ayal jika direkomendasikan untuk dibaca, selamat membaca!

resensi-sang-penakluk-kutukan-di-radar-sampit-18-september-20162

*dimuat di Radar Sampit 18 September 2016

4 thoughts on “Sang Penakluk Kutukan karya Arul Chandrana

  1. kunudhani 21 September 2016 / 03:18

    seru-seru ih kyaknya, aku banget eh maksudnya aku rada tertarik sama yang berhubungan dengan hal diluar nalar, hahaha😀
    udah ada di toko buku terdekat kah, bneran pnasaran :))

    Suka

  2. mulyasaadi 21 September 2016 / 09:31

    Baru beberapa hari lalu beli buku ini tapi belum dibaca. Sepertinya asyik apalagi kalau unsur sosialnya kental🙂

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s