Critical Eleven karya Ika Natassa

15936837_10208033538421236_2599766582117796024_o

Judul                            : Critical Eleven

Penulis                          : Ika Natassa

Editor                           : Rosi L. Simamora

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : September 2015

Jumlah Halaman          : 344 halaman

ISBN                           :  978-602-03-1892-9

            “Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti ayah memilih ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita memilih biji kopi yang terbaik , bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.” (halaman 56)

Adalah Aldebaran Risjad yang biasa dipanggil Ale bertemu dengan Tanya Baskoro yang biasa dipanggil Anya di sebuah pesawat dalam perjalanan ke Sydney, Australia (halaman 10). Duduk di kursi yang berdekatan dan kemudian terlibat dalam pembicaraan. Mereka sama-sama antusias. Ale baru kali ini menemukan perempuan yang pas di hatinya, dan Anya pun merasa nyaman dengan obrolan bersama Ale ketika selama ini telah lama sendiri alias jomblo.

Ale bekerja di rig yaitu tempat pengeboran minyak di lepas pantai, dia harus berada di laut selama 200 hari setahun (halaman 12). Lima minggu berada di Teluk Meksiko, lima minggu lagi pulang ke Jakarta (halaman 35). Begitu juga Anya, sebagai seorang konsultan dia banyak menghabiskan waktu atau separuh waktunya berada di bandara atau pesawat karena sering ke luar kota bahkan ke luar negeri. Sampai-sampai teman akrabnya menggodanya bahwa tempat dia akan menemukan jodoh ya kalau tidak di bandara atau di pesawat.

Ternyata, memang begitu takdir Anya bertemu dengan Ale di Pesawat, kemudian Ale membuat pertemuan berikutnya di Jakarta. Mereka saling suka, dan berpacaran. Hingga Ale melamar Anya, dan Anya menerimanya dan tahu konskuensi apa yang akan dijalaninya jika menikah dengan Ale. Ya, akan ada banyak waktu LDR-an, dan dia tetap bersikukuh memilih Ale meski sahabat-sahabatnya menggoda keyakinannya dengan konskuensi tersebut.

Ini merupakan karya Ika Natassa yang pertama kali saya baca, dan setelah membaca saya suka. Saya juga mencari info-info tentang karya lamanya. Semua novel karya Ika adalah bergenre metropop. Kisah tentang pergaulan di ibu kota, kesibukan juga bagaimana kehidupan cinta mereka memang banyak ditulis.

Dalam Critical Eleven, Ika mencoba membangun kisah yang kental banget psikologinya. Bagaimana kedua tokoh kemudian saling mencintai, dan kemudian kedua tokoh memiliki masalah dalam rumah tangga. Masalah yang ada semulanya adalah miss komunikasi.

Ketika Anya kemudian ternyata hamil dan setelah diperiksa anak mereka adalah anak laki-laki, mereka pun sangat berbahagia. Anya dan Ale mempersiapkan kelahiran anak laki pertamanya dengan penuh suka cita. Mereka sudah menyiapkan, ranjang anak, pakaian anak, dan Ale juga sudah menghias kamar untuk calon anaknya. Bahkan mereka pun telah menyiapkan nama, Aidan.

Lalu, cobaan menimpa mereka. Kebahagiaan hilang seketika, karena Anya keguguran. Lalu, mereka saling menyalahkan. Ya, Ale menyalahkan Anya karena tidak menjaga calon anaknya.

“Kalau kamu dulu nggak terlalu sibuk, mungkin Aidan masih hidup (Ale – halaman 312).”

Anya tidak mau disalahkan, karena dia sudah berusaha untuk menjaga anaknya, tentu saja karena dia itu adalah ibu anak yang dikandungnya. Justru, dengan perkataan Ale, Anya menjadi tersakiti, hubungan mereka pun merenggang. Cinta dan romantisme masa lalu seakan tidak pernah ada.

Di titik ini Ika, membuat kedua tokohnya, masuk dalam kehidupan rumah tangga sebenarnya. Ada ujian, ada lika-liku. Tidak hanya romantisme belaka. Bahkan hanya dengan miss komunikasi, kesalahan dalam komunikasi akhirnya sebuah hubungan sakral pernikahan diuji. Bagaimana pasutri menghadapi dan menjalani ujian tersebut. Bahkan Ika menyisipkan bagaimana agama Islam menuntun umatnya, ketika mendapat ujian, termasuk ujian rumah tangga.

            “Ini aku lagi mencerna kita mau jadi apa (Anya – Halaman 248).”

Novel ini Ika tulis dengan sudut pandang kedua tokohnya secara bergantian, Anya lalu berganti Ale, begitu seterusnya. Dengan sudut pandang ini, pembaca akan larut dalam cerita yang dikisahkan oleh kedua tokoh. Ketika senang dan romantis, pembaca akan ikut berbunga-bunga, ketika mengalami masalah pembaca pun akan ikut sedih dan bahkan menangis.

Gaya menulis Ika, sangat menarik. Khas banget. Pembaca akan sangat senang dengan buku ini, karena bertabur dengan kutipan menarik. Ika juga sangat banyak memakai tulisan berbahasa Inggris. Ini kekhasannya, namun menurut saya menjadi kekurangan juga, karena tidak semua pembaca metropop menyukai gaya menulis yang banyak bahasa Inggrisnya. Namun, itu tidak berpengaruh banyak dan bukan kekurangan yang berarti karena karya Ika tetap banyak yang membaca. Utamanya buku ini, karena jelas cerita ini memberi banyak pelajaran tanpa menggurui.

Kabar baiknya, novel ini akan segera difilmkan. Bahkan posternya sudah bocor dulu ke permukaan. Aktor dan aktris yang terpilih adalah Reza Rahadian sebagai Ale, dan Adinia Wirasti sebagai Anya. Reza Rahadian memang tidak diragukan lagi profesionalisme dan kemampuan aktingnya, namun jika hanya dia terus yang menjadi aktor film dan ada penonton yang bosan, sebenarnya ada artis lain yang cocok yaitu Iko Uwais, ini sekaligus tantangan bagi dia untuk bermain film romance. Sedangkan Adinia saya kurang pas, saya kira yang pas Jessica Iskandar. Tetapi, paling tidak memang pemilihan pemain film sudah dipikirkan matang-matang, dan saya hanya menyarankan, sekaligus berharap semoga filmnya nanti sesuai ekspektasi pembaca dan sukses. Selamat membaca dan menonton!

  • Resensi ini diikutkan dalam Lomba Resensi Novel Critical Eleven – Ika Natassa https://www.facebook.com/notes/gramedia-pustaka-utama/lomba-resensi-novel-critical-eleven-ika-natassa/10154912054534923/
Iklan

4 thoughts on “Critical Eleven karya Ika Natassa

  1. Gusti A.P. 12 Januari 2017 / 03:55

    REZA RAHADIAN! KYAAAAAAAAHHHH

    Suka

  2. Haya Aliya Zaki 17 Januari 2017 / 09:34

    Hahaha Reza Rahadian lagi, ya. Aku punya bukunya ini, tapi belum sempat baca, Ridho. Mudah-mudahan bisa segera. Banyak yang bilang bagus, ya. Produktif sangat ka Natasaa ini. Orang Medan pulak, tambah senang awak. *lho*

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 17 Januari 2017 / 11:37

      Wah, Orang Medan juga ya Mbak ternyata Mbak Ika. Baru tahu saya he..

      Baca dong Mbak, kan mendukung sesama anak Medan, horas!

      Iya bosan Reza Mbak..
      Btw, makasih dah mampir Mbak Haya..

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s