Teknik Menghilangkan Stress Dari Otak karya Arita Hideho

Rahasia Mengontrol Stress Dari Otak

cover-teknik-menghilangkan-stres-dari-otak

Judul                            : Tekhnik Menghilangkan Stress Dari Otak

Penulis                          : Arita Hideho

Penerjemah                   : Faizal

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : Pertama, November 2016

Jumlah Halaman          : 158 halaman (Hard Cover)

ISBN                           :  978-602-03-3435-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Setiap orang pasti memiliki masalah, tidak pandang umur dari yang muda hingga tua. Dari masalah tersebut, hingga menjadi stres. Dari stress kemudian menjadi depresi. Apalagi di zaman modern seperti saat ini, perkembangan teknologi sekaligus membuat kehidupan manusia termudahkan sekaligus tak terkontrol. Sehingga stres pun semakin mudah menghinggapi siapa saja.

Hingga kemudian banyak yang merasa kalah dengan masalah, sehingga salah dalam memutuskan. Mabuk dan memakai narkoba, atau bahkan mengambil jalan pintas dengan memutus anugerah kehidupan alias bunuh diri. Tak terelakkan banyak lahir metode agar manusia modern agar bisa terhindar atau bahkan stress free atau bebas dari stres.

Arita Hideho dalam bukunya Teknik Menghilangkan Stres Dari Otak mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak boleh berpikir untuk mengalahkan stres. Karena manusia dirancang tidak bisa mengalahkan stres. Dan belakangan ini pun kita sering mendengar kata-kata “stress free (bebas stres)”. Ini juga tidak boleh dijadikan tujuan. Karena stress tidak akan pernah lenyap. Tapi penderitaan akibat stress bisa dihilangkan sekalipun stress itu sendiri tak bisa dihilangkan” (halaman vi)

Menurut profesor fakultas kedokteran Universitas Toho ini, ada dua jenis stres yaitu stres fisik seperti kesakitan dan rasa dingin, dan stres psikis seperti kepedihan dan kesedihan. Kemudian dia menyimpulkan kembali bahwa manusia akan merasakan tiga macam stres, pertama stres fisik. Kedua stres yang timbul akibat tidak terpenuhinya kesenangan. Ketiga, stres yang timbul akibat tidak mendapatkan penghargaan yang semestinya dari orang lain (halaman 55). Semua rasa yang tidak menyenangkan yang terjadi terhadap fisik dan psikis kita dirasakan oleh otak sebagai stres (halaman 2).

Stres fisik itu berkaitan dengan frontal lobe, utamanya otak kerja (saraf noradrenalin) yang beraksi langsung terhadap stres dari dalam dan luar tubuh. Stres kedua yang muncul akibat tidak terpenuhinya kesenangan berkaitan erat dengan fungsi otak belajar (saraf dopamin). Dan stres yang ketiga stres yang lahir akibat apa yang kita anggap demi kebaikan lawan ternyata tidak dihargai sepantasnya pun, berkaitan erat dengan kerja otak simpati (saraf serotonin).

Arita lebih membahas bahwa saraf serotonin ini sangat bermanfaat. Saraf serotonin memiliki lima fungsi. Pertama, kesadaran tenang. Kedua, menjaga hati tenang. Gelora yang tidak berlebihan dari saraf simpati. Ketiga, mengurangi rasa sakit. Kelima, menjaga sikap tubuh yang baik (halaman 61).

Saraf serotonin akan aktif jika manusia modern kembali melakukan hidup yang teratur. Kehidupan teratur yang dimaksud adalah, hidup kembali memanfaatkan jam. Karena banyak sekali orang yang malam harinya tidak tidur, sedangkan pagi hari tidur. Hal ini yang memicu stres hingga depresi, karena saraf serotonin tidak aktif.

Langkah pertama yang menjadi rahasia dan harus dilakukan adalah bangun pagi dan membuka tirai agar matahari masuk. Berangkat sekolah dan kerja alangkah baiknya berjalan kaki, agar merasakan sinar matahari. Karena serotonin dibuat di pagi hari. Yang paling efektif untuk mengaktifkan serotonin adalah bermandikan sinar matahari selama 30 menit (halaman 81). Itulah mengapa pasien depresi tidak diberikan obat tetapi disuruh berjalan kaki di pagi hari (halaman 83).

Selain itu ada cara lain ketika cuaca tidak bersahabat dan berbagai alasan manusia modern lainnya, adalah dengan menjadikan gerakan ritmik sebagai kebiasaan. Dengan gerakan ritmik maka akan menambah perubahan hidup dan stres akan hilang. Gerakan ritmik adalah menggerakkan tubuh dengan ritme tertentu. Gerakan ritmik bisa dimulai dengan melakukannya selama 5-10 menit, tergantung kesanggupan tubuh saat itu.

Ada beberapa gerakan ritmik, seperti pernapasan. Layaknya Sidharta Gautama yang selama 6 tahun tidak mendapat pencerahan, namun dengan meditasi akhirnya mendapatkan pencerahan (halaman 22). Sebenarnya, kuncinya di pernapasan saat meditasi. Yaitu pernapasan perut.

Kedua, meditasi. Ketiga, jalan kaki dan jogging dan terakhir adalah mengunyah. Mengunyah di sini adalah saat makan permen karet atau makan setiap hari. Itulah mengapa dilarang makan dengan tetap beraktivitas yang menggunakan saraf bahasa, seperti membaca dan menonton tv. Karena hal tersebut tidak menyehatkan, karena akan menimbulkan stres. Anjuran makan, yaitu dengan tenang, santai dan sangat menikmati apa yang dimakan (halaman 94).

Rahasia lainnya adalah dengan menangis. Karena menangis bermanfaat untuk meringankan stress, mengatur keseimbangan saraf otonom dan mengaktifkan sistem imun yang mengendalikan stres fisik. Tak pelak, buku profesor otak ini sangat bermanfaat bagi masyarakat modern, karenanya sangat direkomendasikan. Selamat membaca!

*Dimuat di Harian Singgalang 29 Januari 2017

Iklan

6 thoughts on “Teknik Menghilangkan Stress Dari Otak karya Arita Hideho

  1. Gusti A.P. 21 Februari 2017 / 02:18

    Wah, bermanfaat sekali resensimu kali ini, Dho 😄 Jadi pingin berjodoh sama buku ini. Cari ah. Btw aku baru tahu ternyata kebiasaan baca sambil makan dan nonton TV efeknya bisa separah itu ya?

    Waduh. Itu kebiasaanku sejak kecil. Ah, akhirnya punya alasan kuat untuk menghentikannya xD Alasan: makanan nggak dicerna maksimal nggak cukup buatku soalnya 😄

    Suka

  2. Muhammad Rasyid Ridho 21 Februari 2017 / 02:58

    Alhamdulillah Mbak…

    Saya juga ngedukasi keluarga nih, tentang ini juga ada di buku yang lain, saya sepertinya punya penyakit ini mungkin karena ini juga, padahal saya makan sambil nonton sekitar tiga bulanan, itupun jarang, nonton serial hehe tapi memang bahaya kalo penjelasan beliau..

    Suka

    • Gusti A.P. 21 Februari 2017 / 03:03

      Lho? Kamu sakit apa? 😦

      Lek tingkat stressku kayaknya memang cenderung tinggi dari kecil. Ternyata selain faktor lingkungan, kebiasaan seperti ini bisa aja berpengaruh 😦

      Btw udah kumasukkan di Goodreads, nih. Dikau bisa pindahkan teaser reviewmu ke sana kalau mau 😀

      https://www.goodreads.com/book/show/34358527-teknik-menghilangkan-stress-dari-otak

      Dirimu ga ikut resensi pilihan GPU? Minimal buku yang terbit 2 tahun terakhir 🙂 Cek twitternya GPU

      Suka

      • Muhammad Rasyid Ridho 21 Februari 2017 / 03:13

        Dispepsia, segala penyakit pencernaan karena pikiran Mbak hehe

        Oh iya belum saya masukkan ke goodreads kayaknya..

        Pernah ikut Mbak, pernah ngenak sekali hehe

        Suka

  3. Gusti A.P. 21 Februari 2017 / 03:30

    Eh? Dispepsia? Jadi gangguan pencernaannya akan permanen selama pikiran masih terbebani, dong? 😦

    Lek ke Malang minta o diSEFT sama Mbak Wulan coba 😄

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s