40 Putri Terhebat Bunda Terkuat karya Tethy Ezokanzo

cover 40 putri terhebat.jpg

Kisah Teladan Wanita Ahli Surga

Judul                            : 40 Putri Terhebat Bunda Terkuat

Penulis                          : Tethy Ezokanzo

Editor                           : Mustika Arum

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2017

Jumlah Halaman          : 208 halaman

ISBN                           :  978-602-03-3686-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Muhammadiyah Bondowoso

Dalam Islam tidak diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, keduanya bisa mendapat pahala yang besar dan juga masuk surga. Ada catatan sejarah yang menyatakan bahwa para wanita yang baik bisa menjadi teladan bagi kehidupan. Adalah Asma Binti Yazid, seorang bangsawan anshar.

Karena dia seorang bangsawan, tentu saja dia adalah orang yang terdidik. Dia pandai mengemukakan pendapat dan pemikirannya, sehingga dia selalu menjadi pilihan utama sebagai juru bicara para shahabiyah. Ada suatu peristiwa terkenal, suatu ketika dia diutus untuk menemui Rasulullah dan bertanya tentang suatu hal. Meski Rasulullah sedang berada di majelis yang banyak terkumpul para sahabat lelaki, Asma datang dengan berani.

“Ya Rasulullah, Engkau bagaikan ibu dan sekaligus ayahku. Keberadaanku di sini adalah untuk mewakili para wanita. Bahwasanya Alalh telah mengutusmu untuk segenap laki-laki dan perempuan. Kami mengimanimu dan juga Tuhanmu. Aku akan memberitahukan kepadamu bahwa kami, kaum wanita, tak mempunyai gerak yang leluasa sebagaimana laki-laki. Amal perbuatan kami hanya sebatas amal perbuatan yang bersifat rumah tangga, untuk mengandung dan melahirkan anak-anak kalian. Ini berbeda dengan kalian semua, wahai kaum laki-laki! Kalian melebihi kami dalam hal berjama’ah, menjenguk orang sakit, mengantarkan mayat ke kuburan, menunaikan ibadah dan haji, dan yang lebih utama lagi adalah kemampuan kalian untuk melakukan jihad di jalan Allah. Amal perbuatan kami di saat kalian pergi haji atau melakukan jihad hanya sebatas menjaga harta, mencuci pakaian, mendidik anak-anak kalian. Oleh karena itu, kami ingin bertanya kepada kalian, apakah amal perbuatan kami itu pahalanya bisa disetarakan dengan amal perbuatan kalian?”

Pertanyaan ini cukup mengagetkan para sahabat dan juga Rasulullah. Rasulullah Saw. bertanya kepada para sahabat lelaki, “Apakah kalian pernah mendengar sebuah perkataan yang lebih baik daripada perkataan seorang wanita yang sedang membahas permasalahan-permasalahan agama?”

Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami sama sekali tidak menyangka kalau para wanita mempunyai keinginan yang mulia semacam itu.”

Rasulullah pun tersenyum dan menjawab pertanyaan Asma, “Engkau pahamkanlah dan sampaikanlah apa yang akan aku katakan nanti kepada muslimah selain kamu. Bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suami mereka, dan meminta keridhoan suami, mengikuti dan patuh terhadap apa yang disetujui suami, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.” (halaman 125)

Ternyata begitu mudah menjadi wanita ahli surga, menurut riwayat di atas hanya dengan menaati dan melayani suami dengan baik, maka wanita sudah mendapat pahala. Ada kisah lain, wanita yang layak menjadi teladan agar terinsipirasi berbuat baik, karena berharap ridho Allah.

Adalah Ibunda seluruh manusia di dunia, Ibunda Hawa yang memiliki sifat ridho dan ikhlas. Karena kesalahannya dia harus turun ke bumi dan terpisah oleh suami tercinta. Dia meminta ampun dan berdoa kepada Allah, kelak bertemu kembali dengan Nabi Adam as. Kemudian, lahirlah anak-anak yang membuat mereka bahagia. Namun, ternyata ujian kembali menghampiri yaitu anaknya ada yang membunuh dan terbunuh. Sedih memang, tetapi Ibunda Hawa ridho dan ikhlas, meminta ampun kepada Allah (halaman 6).

Kisah lain adalah tentang Hajar istri Nabi kekasih Allah, Ibrahim as. Yang hidupnya layak menjadi teladan. Setelah Nabi Ibrahim menikahi dia dan memiliki anak yang bernama Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan mereka berdua di sebuah tanah yang gersang yang kelak menjadi kota bernama Makkah.

Mendengar perintah itu Hajar tidak menolak, dia mau hidup sendirian di tengah gurun pasir yang gersang. Dia tegar, ikhlas dan sabar. Ismail kecil menangis kehausan, akhirnya dia berlari bolak-balik dari Shafa ke Marwa untuk mencari air, yang ini kelak menjadi ritual dalam ibadah haji. Kemudian karena kesabarannya, keluarlah mata air. Air tersebut terus mengalir hingga saat ini yang bernama air zam-zam (halaman 13). Allah menyayangi keluarga Nabi Ibrahim ra, dan setelah ada mata air, wilayah tersebut menjadi ditempati oleh banyak orang.

Begitulah teladan para wanita yang dicintai oleh Allah, sehingga kelak mereka masuk ke dalam Surga-Nya. Buku ini tidak hanya layak dibaca oleh anak-anak, tetapi kisah nyata ini layak dibaca oleh seluruh muslimah remaja dan dewasa pula. Utamanya para ibunda, guna memiliki bahan dongeng dari kisah nyata kepada anak-anaknya. Selamat membaca!

Resensi 40 Putri Terhebat Bunda Terkuat di Harian Singgalang 26 Februari 2017

*dimuat di Harian Singgalang 26 Februari 2017

Iklan