Nabi Isa Pun Tak Mampu Sembuhkan karya Musa Kazhim

Cover Nabi Isa Pun Tak Mampu Menyembuhkan

Mengumpulkan Hikmah Yang Terserak

Judul                            : Nabi Isa Pun Tak Mampu Sembuhkan

Penulis                          : Musa Kazhim

Editor                           : Cecep Romli

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2017

Jumlah Halaman          : 146 halaman

ISBN                           :  978-602-385-205-5

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Semesta ini adalah ayat-ayat kekuasaan Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Di dalamnya tidak ada satu pun yang diciptakan sia-sia, semua memiliki hikmah. Ya, semesta adalah jagat hikmah tiada dua. Manusia bisa menjadikan semesta sebagai bahan kontemplasi dan penelitian yang berguna untuk kehidupan.

Ayat-ayat kekuasaan Allah tidak hanya terdapat dalam semesta alam, tetapi  juga dalam Al-Qur’an. Hikmah bertebaran di dalamnya. Karena sebagai seorang Muslim juga mukmin, kita harus bisa mengumpulkan hikmah-hikmah tersebut. Rasulullah Saw. bersabda yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Hikmah adalah milik orang Mukmin yang Hilang. Di mana saja dia menemukannya, maka ambillah.”

Ada syarat jika ingin bisa memetik hikmah di semesta ini yaitu jangan menjadi seorang ahmaq. Siapakah orang tersebut? Hal ini ada dalam kisah Nabi Isa as., dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ali bin Musa. Nabi Isa as. pernah bersabda, “Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku menyembuhkan mereka dengan izin Allah. Aku sembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra dengan izin Allah. Aku bangunkan orang-orang mati dan aku hidupkan kembali dengan mereka izin Allah. Lalu aku coba mengobati orang ahmaq (dungu), tetapi aku tidak mampu menyembuhkannya!”

Maka Nabi Isa pun ditanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang dungu itu?”

Nabi Isa menjawab, “Yaitu orang yang kagum pada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri. Yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat dirinya). Yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Merekalah orang-orang dungu yang tidak ada jalan mengobatinya.” (halaman 63)

Karenanya, jangan sampai kita menjadi Muslim tetapi ahmaq, tetapi jadilah Muslim dan Mukmin yang bisa mengambil hikmah di alam semesta. Dalam buku karya penulis, penerjemah dan penyunting buku-buku Islam Musa Kazhim yang berjudul Nabi Isa Pun Tak Mampu Sembuhkan terkumpul beberapa hikmah.

Hikmah tersebut terbagi menjadi lima bab. Bab pertama, hikmah dari Al-Qur’an, kedua hikmah hikmah dari para Nabi, ketiga hikmah dari para arif, keempat hikmah dari manusia dan terakhir hikmah dari kematian. Dalam setiap subbab penulis yang juga dosen ini tidak menuangkan dengan tulisan yang panjang, pendek-pendek tetapi bernas, sehingga mudah dipahami dan diingat oleh pembaca.

Dalam sebuah subbab penulis membahas hikmah dari ayat tentang suatu yang sering dilupakan manusia yaitu nikmat. Nikmat tidak sekedar yang berbentuk fisik dan menyenangkan, tetapi masih bisa bernapas dan hidup pun disebut nikmat. Ada dua ayat Al-Qur’an yang mirip, tetapi memiliki kalimat yang bertentangan.

Ayat pertama ada dalam Surat Ibrahim ayat 34, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.

Dalam surat lainnya yakni di Surat Al-Nahl ayat 18, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Penulis mengungkap bahwa ini bukti keagungan Allah tidak pilih kasih memberi nikmat, karenanya sungguh bodoh manusia yang mengingkari nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Hikmah lainnya ada dalam keajaiban laba-laba. Ada dua rahasia dari laba-laba.

Rahasia pertama, ada satu surat dalam Al-Qur’an yang dinamakan dengan laba-laba. Yaitu surat Al-Ankabut. Pertanyaannya adalah mengapa surat ini dinamakan Al-Ankabut yang berarti laba-laba perempuan? Ternyata jawabannya ada pada zaman modern. Di mana penelitian menyebutkan bahwa laba-laba betina berperan besar dalam pembuatan sarang laba-laba. Karena kelenjar yang berfungsi sebagai pembuat serat-serat yang dipakai membuat sarang hanya ada dalam laba-laba betina. Begitulah, hal ini baru terungkap di abad 20, setelah riset puluhan tahun yang dilakukan oleh ratusan ilmuwan.

Pembahasan lainnya dalam buku ini juga sangat menarik. Seperti tentang takwil tiga peristiwa yang dialami Nabi Musa as., ada 20 makna hidup, juga ciri-ciri orang sukses di sisi Allah. Sebuah buku yang layak dibaca, agar hikmah yang terserak dan yang sebagiannya telah dikumpulkan oleh penulis bisa kita renungkan. Selamat membaca, semoga nantinya kita pun mampu membuka mata dan mengumpulkan hikmah dari alam semesta.

*dimuat di harian singgalang 5 Maret 2017