The Girl On The Train Karya Paula Hawkins

cover The Girl On The Train.jpg

Ternyata Yang Terlihat Tak Selalu Indah

Judul                             : The Girl On The Train

Penulis               : Paula Hawkins

Penerjemah                   : Inggrid Nimpoeno

Editor                            : Rina Wulandari

Penerbit                        : Noura Books

Tahun Terbit                 : Pertama, Januari 2017

Jumlah Halaman            : 432 halaman

ISBN                           :  978-602-0989-97-6

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Hidup yang kita miliki, sesakit dan sesedih apapun yang terjadi adalah yang terindah dan patut disyukuri. Namun, terkadang rumput tetangga terkadang menyilaukan dan seringkali membuat kita iri. Padahal, yang tampak tidak selalu sebenar yang dirasakan, tidak selalu sama apa yang ada dalam hati.

Adalah Rachel Watson yang cerai dengan mantan suaminya Tom Watson. Berawal karena Rachel depresi karena tidak bisa memiliki anak, selain itu dia mengetahui suaminya selingkuh, dia pun melampiaskan dengan meminum alkohol. Karena sering minum alkohol, hidup Rachel menjadi kacau. Suatu ketika Tom dan Rachel pernah datang pada undangan jamuan yang diadakan oleh bos di mana Tom bekerja. Rachel mabuk dan hingga tidak sadarkan diri, sehingga Tom dipecat dari perusahaan dia bekerja. Ya, Rachel sering mengalami yang namanya block out yaitu tidak sadar melakukan atau mengatakan suatu hal dan setelah itu pun dia tidak bisa mengingat apa yang sudah dia lakukan atau dia katakan. Tom pun ikut frustasi, dia tidak kuat menghadapi hidup alkoholik Rachel, akhirnya dia memutuskan untuk cerai dengan Rachel dan menikahi selingkuhannya, Anna Boyd.

Tidak hanya kehilangan suami, Rachel yang tidak punya rumah akhirnya diberi tumpangan oleh temannya waktu di kampus yang bernama Cathy. Kebiasaan alkoholiknya pun membuat dia kehilangan pekerjaannya. Dia pun berpura-pura kepada Cathy berangkat pagi hari dan pulang menjelang malam, seakan-akan dia masih punya pekerjaan.

Sehari-hari selama berpura-pura bekerja dia memakai Kereta Komuter, hanya untuk berjalan di kota, mengunjungi perpustakaan membaca dan mencari informasi lowongan pekerjaan yang mungkin bisa dicoba oleh Rachel. Terkadang di Kereta Komuter Rachel pun sering meminum alkohol hingga tidak sadar saat perjalanan pulang.

Selama di kereta dia biasa memandangi rumah-rumah yang berjejer. Dia selalu menghindar untuk melihat sebuah rumah yang memiliki kenangan saat dia dan Tom masih berstatus suami istri. Selain itu di depan rumah tersebut terkadang ada Tom sedang bermesraan dengan Anna dan anaknya yang baru lahir, Evie.

Tetapi, di deretan dekatnya ada rumah yang biasa dia lihat. Ada sepasang suami istri yang dia pandangi karena kemesraan mereka. “Jason dan Jess, terkadang memanjat keluar dari jendela besar. Mereka duduk di teras sekedarnya di atas atap dapur yang diperluas. Mereka pasangan hebat dan sempurna (halaman 5).” Ya, Jason dan Jess adalah dua nama yang dia sematkan kepada pasangan yang terlihat romantis tersebut.

Hingga suatu ketika Rachel mengetahui nama asli mereka yang sebenarnya adalah Scott dan Megan Hipwell. Nama Scoot dan khususnya istrinya, Megan menjadi headline media massa cetak dan televisi karena dia hilang secara misterius. Rachel yang biasa memandangi kemesraan mereka dari kereta, ikut simpati. Terlebih dia juga biasa melewati rumah pasangan tersebut ketika ada keperluan untuk bertemu dengan mantan suaminya.

Rachel teringat, ternyata sebelum hari di mana Megan dikabarkan hilang, Rachel melihat Megan sedang berpelukan dengan lelaki yang awalnya dia kira sebagai Scott, dan ternyata bukan. Akhirnya, tidak hanya simpati, dia pun berempati atas kesedihan yang dialami Scott.

Dia pun berniat untuk membantu Scott, dia melaporkan kepada polisi atas apa yang dia lihat dan mengatakan kalau Megan selingkuh. Tetapi, polisi tidak mempercayainya karena mungkin waktu itu dia sedang berhalunisasi akibat kebiasaan meminum alkohol. Sebenarnya sudah ditemukan siapa lelaki yang sedang berpelukan mesra dengan Megan waktu itu, dia adalah Abdic Kamal, seorang terapis yang Megan datangi untuk mengobati sakit mentalnya. Tetapi polisi tidak menahannya, karena bukti tidak ditemukan dan saksi yang tidak bisa dipercaya. Akhirnya, Rachel pun mencoba langsung memberitahu Scott. Namun, yang terjadi ternyata dia pun mengetahui bahwa kehidupan pasangan buruk pasangan yang dia sangka romantis ini.

Membaca novel ini, pembaca akan terhipnotis untuk terus membaca karena penasaran sekaligus tegang. Efek thrillernya benar-benar kuat. Selain itu, novel best yang telah difilmkan ini juga tidak hanya menawarkan kisah yang menegangkan, tetapi juga narasi hikmah yang tersirat. Salah satunya, tidak semua yang tampak itu kenyataan yang indah, bisa jadi yang tak tampak dan sebenarnya adalah kesedihan yang mendalam. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang.

Iklan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s