Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur

Cover Tanah Surga Merah

Kisah Negeri Pembenci Buku

Judul                             : Tanah Surga Merah

Penulis               : Arafat Nur

Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                 : Pertama, Januari 2017

Jumlah Halaman            : 312 halaman

ISBN                           :  978-602-03-3335-9

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Buku adalah jendela dunia, begitu kata pepatah. Sebuah bangsa atau negara yang memiliki budaya membaca buku akan menjadi maju. Coba lihat Jepang yang saat ini tidak hanya merajai Asia tetapi juga dunia, memiliki budaya membaca yang sangat kuat. Ketika di dalam kereta mereka membaca buku, bahkan di televisi ada program acara yang mempromosikan buku baru. Maka jangan heran di Jepang ada penjual sayur yang memiliki wawasan yang luas. Begitu juga Negeri Ginseng Korea yang juga semakin maju karena membaca, bahkan di serialnya seringkali diperlihatkan tokoh-tokohnya sedang membaca buku atau memiliki ruangan yang berisi buku.

Arafat Nur kembali mengeluarkan karya terbarunya yang berjudul Tanah Surga Merah. Seperti karya-karya sebelumnya Arafat Nur masih setia dengan menampilkan kisah bersetting Aceh. Tanah Surga Merah ini membahas tentang Murad yang diceritakan dulunya adalah pejuang dari Partai Merah.

Namun, ketika Partai Merah telah menjadi penguasa di Aceh, para pejabatnya lupa akan apa yang mereka perjuangkan dulu. Banyak dari mereka yang menjadi penguasa adalah preman. Sehingga bukannya membangun Aceh untuk menjadi lebih baik pasca perang, tetapi malah semakin merusak Aceh.

Di antara mereka banyak yang suka berjudi, korupsi dan bermain perempuan. Bahkan ada di antara mereka yang telah berkuasa tidak segan melakukan hal tak senonoh kepada perempuan Aceh. Murad membenci hal ini dan bahkan dia frustasi dibuatnya. Suatu ketika ada seorang penguasa yang memerkosa salah satu perempuan, yang membuat Murad marah dan dia tidak biasa menguasai emosinya sehingga dia menembak hingga mati penguasa yang juga masih temannya saat perjuangan dulu (halamannya 25).

Karena perbuatannya itu dia dikejar-kejar oleh orang Partai Merah, sehingga dia pun melarikan diri keluar dari Aceh dan tinggal di Riau. Selama di Riau dia masih mengikuti perkembangan keadaan sosial dan politik Aceh. Bahkan dia masih menulis di koran dengan nama samaran dan menggagas betapa pentingnya membuat partai baru untuk melawan kekurangajaran Partai Merah. Hingga kemudian banyak yang terinspirasi dan lahirlah Partai Jingga (halaman 14).

Cukup lama Murad bersembunyi menjadi pelarian di Riau, tetapi dia tetap mencintai Aceh dengan seluruh jiwa raga dan napasnya. Dia mengakui tidak bisa hidup di manapun meskipun tempat itu indah, subur dan makmur, karena Aceh adalah ketenangan, hidup juga matinya. Namun, apa yang terjadi setelah kembali Aceh sungguh tidak dia harapkan.

Setibanya di Aceh dia langsung disuguhi dengan pengeroyokan dari orang-orang Partai Merah. Meskipun dia sudah merontokkan semua jenggot dan cambangnya, namun orang-orang Partai Merah masih ingat gaya berjalan dan bentuk tubuhnya. Dia pun dikeroyok, meskipun luka-luka namun masih bisa membuat orang-orang Partai Merah Percaya bahwa dia bukan Murad yang dicari-cari (halaman 18).

Dia pun kembali bertemu dengan temannya sejak sekolah menengah pertama yang bernama Abduh. Abduh adalah seorang guru yang sudah diangkat sebagai pegawai. Murad kelas dua SMA berhenti sekolah dan memutuskan menjadi pejuang, sedangkan Abduh tidak memikirkan perang, dia hanya terus membaca buku dan sekolah hingga perguruan tinggi (halaman 33). Hingga Abduh pun ingin membuat novel, namun belum bisa dia selesaikan.

Abduh mempunyai gagasan bila Aceh ingin maju, maka harus diberlakukan hukuman tembak mati bagi orang-orang yang ditemukan menganggur dan tidak membaca buku (halaman 37). Karena Aceh sudah darurat saat ini, para siswa tidak tahu apa yang diajari sekolah, tidak suka membaca, dan bahkan tidak tahu sejarah tanah airnya sendiri. Bahkan lebih dari itu mereka sukanya adalah pacaran, bahkan guru-guru menganjurkan pacaran agar semangat bersekolah, meski tanpa dianjurkan pun para anak muda itu akan tetap pacaran. Semua itu karena partai penguasa benar-benar memberikan cermin bagi rakyatnya, mereka tidak suka baca, mereka hanya suka berfoya-foya dan bermaksiat.

Abduh membuat teater yang ditonton banyak orang untuk menyindir Partai Merah dengan judul Bacalah Buku Sebelum Tuhan Mencabut Nyawamu! Sejak penampilan teater ini akhirnya Murad ketahuan berada di Aceh dan terus dikejar-kejar dan dia mendapat petualangan yang seru hingga ke pedalaman Aceh.

Novel ini sebenarnya tidak hanya menarasikan keadaan Aceh, namun keadaan Indonesia secara umum yang membenci buku. Bahkan Arafat juga menyindir para orangtua yang juga memiliki pengaruh atas banyak anak perempuannya yang sudah banyak tidak perawan sebelum menikah, karena menghalangi anak perempuannya menikah, namun tidak melarang mereka berpacaran hingga berzina. Tak pelak buku ini menjadi novel unggulan di lomba yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Buku yang sangat direkomendasikan, selamat membaca!

Resensi Tanah Merah Surga di Harian Singgalang 12 Marey 2017

*dimuat di Harian Singgalang

Iklan

2 thoughts on “Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur

  1. mulyasaadi 15 Maret 2017 / 03:32

    Waahh jadi pengen punya bukunya. Dulu saya langsung suka sama gaya tutur Afarat Nur dari Burung Terbang di Kelam Malam. POV cowok banget. Kalau karya yang satu ini kayaknya lebih berat ya bahasannya heheh… 😏

    Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s