Karena Tuhan Tahu Kau Mampu karya Irja Nasrullah

Cover Karena Tuhan Tahu Kau Mampu

Tiada Beban Tanpa Pundak

Judul                             : Karena Tuhan Tahu Kau Mampu

Penulis               : Irja Nasrullah

Penerbit                        : Quanta – Elex Media Komputindo

Tahun Terbit                 : Pertama, Januari 2017

Jumlah Halaman            : 166 halaman

ISBN                           :  978-602-02-9764-4

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Muhammadiyah Bondowoso

“Saat kau terpuruk dan terjatuh, pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu, karena Tuhan tahu kita mampu.” Inilah petikan bait sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Ali Sastra yang duet dengan duo The Jenggot. Ya, lagu positif ini mengajak kepada pendengar agar tidak bersedih dengan keterpurukan dan kegagalan, tetapi semua itu bisa diceritakan kepada sahabat atau orang yang tepat dan nantinya insya Allah, keterpurukan tersebut bisa dilawan bersama-sama.

Hal ini selaras dengan sub-bab Karena Kau Tak Sendirian dari bab Berdamai Dengan Kenyataan yang terdapat dalam buku Karena Tuhan Tahu Kau Mampu karya Irja Nasrullah. Dalam sub-bab ini Irja menerangkan bahwa manfaat silaturrahmi, menjalin pertemanan dan relasi sangatlah dahsyat. Seperti yang pernah Rasulullah Saw sabdakan:

“Orang yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, perlu menyambung silaturahmi (HR. Al-Bukhari).” Selain itu, penulis juga menjelaskan bahwa setiap manusia memerlukan teman untuk mengurangi beban hidupnya. Bersama teman dia bisa mencurahkan segala keluh kesahnya dan ada insya Allah akan selalu ada teman yang tulul membantu meringankan segala masalah. Dengan begitu, maka jangan pernah merasa sendirian, karena manusia tidak pernah benar-benar sendirian, jikalau memang tidak ada teman, masih ada Allah yang selalu melihat dan mendengar, bahkan mampu membaca isi hati kita (halaman 28).

Dalam buku motivasi Islami ini, penulis menerangkan bahwasanya selain berusaha menghilangkan kesedihan dengan adanya teman, juga harus diusahakan dari diri sendiri. Sesuai dengan babnya, Berdamai Dengan Kenyataan, bab ini mengajak pembawa untuk memahamkan pada diri sendiri bahwa masa lalu harus dimaafkan dan direlakan.

“Memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang kau perbuat di masa lalu merupakan langkah awal yang membawamu kepada ketentraman hati (halaman 2),” begitu ungkap penulis buku ini. Hal ini berkaitan dengan pikiran, kalau seseorang masih terus merasa bersalah, dia akan terbebani dan tidak bangkit, maka dia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya (halaman 59).

“Setiap orang pernah memiliki masa lalu yang suram, tetapi setiap orang juga berhak memiliki kecemerlangan masa depan,” tambah penulis. Karenanya, upaya mendamaikan diri dengan kenyataan yang ada sangat penting untuk menggapai kebahagiaan, baik di dunia dan akhirat.

Agar kelamnya masa lalu terus membayangi, sesorang perlu menyadari bahwa sejatinya hidup di dunia ini benar-benar singkat. Jangan sampai umur menjadi pendek, hanya karena hidup dihabiskan untuk meratapi nasib (halaman 20). Kutipan dari penulis tentang hal ini, “Jika Kau berpikir bahwa untuk meraih kesuksesan dibutuhkan waktu  yang sempurna, sejatinya kau sedang menunggu ketidakpastian sampai ajalmu tiba (halaman 60).”

Manusia memang makhluk Allah yang paling sempurna di antara lainnya, namun tentu saja perlu disadari bahwa manusia memiliki ketidaksempurnaan dan kelemahan. Jadikan kelemahan itu sebagai penyemangat untuk meraih yang terbaik. Caranya jangan mengandalkan diri sendiri, tapi bersandarlah kepada Sang Maha Pencipta.

Syaikh Ibnu Athailah dalam berkata dalam kitabnya yang terkenal Al-Hikam, “Di antara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.” Untuk memperjelas dan mempertegas Imam Sibawaih El-Hasany mengulas perkataan Syaikh Ibnu Athailah di atas.

“Mereka yang sejak awal bersandar, semangatnya tak akan mudah pudar. Mereka yang sejak awal berserah tak akan mudah berkeluh kesah. Inilah tanda bahwa mereka telah meraih keberhasilan dari perjuangannya sejak awal. Karena menyadari “kehadiran-Nya’ di awal dan di akhir rangkaian perjuangan. Mereka teguh dalam meniti perjalanan, adakah yang rugi bila sandarkan diri kepada yang Maha Akhir? Mulailah berpikir, nikmatilah zikir.” (halaman 65)

Insya Allah dengan bersandar kepada Allah, nantinya akan menjalani kehidupan berikut manis, asin dan asamnya dengan positif nan optimis. Karena muncul kesadaran, bahwa Allah memberi beban sesuai dengan kemampuan masing-masing pundak. Buku sangat direkomendasikan, karena sangat menyentuh hati pembaca dengan kutipan inspiratif dan kesimpulan aplikatif. Semoga setelah membacanya menjadi pribadi yang lebih baik, insya Allah 🙂

*dimuat di Harian Singgalang 19 Maret 2017

Iklan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s