Isabel, The Jewel From Constantinople Karya Deasylawati P

cover Isabel

Memecah Teka-Teki dan Pertemuan Iman

Judul                             : Isabel, The Jewel From Constantinople

Penulis               : Deasylawati P.

Penerbit                        : Laiqa – Elex Media Komputindo

Tahun Terbit                 : Pertama, Desember 2016

Jumlah Halaman            : 278 halaman

ISBN                           :  978-602-02-9212-0

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Muhammadiyah Bondowoso

Adalah Isabel gadis keturunan Bangsa Turki, cucu kesayangan Mahmud Pasha, pemilik  Pasha Corporation. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Akhirnya dia diasuh oleh kakek, adik ayahnya- paman dan bibinya, Mughni Pasha dan Marsha. Cucu yang disayangi Mahmud adalah Muzeyn Pasha, anak Mughni atau Ghani.

Zeyn sangat memperhatikan adik sepupunya yang albino dan bermata merah tersebut, mereka sama-sama tumbuh dengan kasih sayang Kakek dan Marsha. Ya, hanya mereka berdua. Paman alias Ghani entah mengapa tidak memiliki perhatian yang lebih kepada ponakannya, anak satu-satunya kakaknya tersebut. Bahkan, ketika Mahmud tiba-tiba kambuh sakit jantungnya, Isabel tidak boleh menemui kakeknya tersebut (halaman 16).

Isabel melihat ada yang janggal dengan kejadian ini, dan bahkan ada kesalahan yang masih misteri yang mengakibatkan kakeknya meninggal dunia. Isabel sedih karena tidak bisa bertemu kakeknya sebelum meninggal dunia. Sampai dia tidak mau keluar kamar dan tidak kuliah.

Yang menyedihkan lagi, Ghani seakan tidak bersedih atas kematian ayahnya. Bisa-bisanya tidak lama dari kematian Mahmud, Isabel dijodohkan dengan alasan sebagai isi salah satu wasiat kakeknya itu. Isabel akan dinikahkan dengan dokter pribadi kakeknya yang bernama Ryuga Tantawi. Dokter Ryuga yang tampan juga dingin memang memiliki pesona, tetapi Isabel tidak mempertanyakan kebenaran wasiat ini (halaman 53). Marsha sebenarnya tidak setuju atas perjodohan ini, tetapi dia lebih tidak setuju juga jika Zeyn semakin cinta kepada adik sepupunya tersebut.

Namun, ada kabar yang menggembirakan, Zeyn mendapat pesan dari seorang perawat yang harus disampaikan kepada Isabel. Zeyn sebelumnya pernah mendapat sebuah cincin peninggalan turun-temurun keluarga Pasha, sedangkan Isabel diberi sebuah kertas yang berisi teka-teki yang tidak diketahui apa maksudnya oleh Zeyn. Namun, meski begitu Zeyn memberikan pesan terakhir kakeknya tersebut kepada Isabel.

Isabel pun mencoba memecahkan teka-teki dari kakeknya tersebut. Setelah beberapa teka-teki berhasil terpecahkan, itu membuat dia bingung. Ditambah lagi, Zeyn yang selama ini baik pada Isabel, Isabel anggap seakan memiliki niat jahat seperti bapaknya. Akhirnya, Isabel mencoba kabur dari rumah.

Di lain waktu jauh sebelum tahun 2014, tepatnya tahun 1443 di daratan jauh dari Indonesia juga ada gadis albino bermata merah. Dia adalah anak salah satu orang kaya di Konstantinopel dengan seorang budaknya. Gadis yang juga bernama Isabel ini, tidak tahu kenyataan bahwa harus menjadi budak sejak kecil di rumah ayahnya sendiri.

Namun, untung saja Claudius, anak laki-laki tuannya senang bermain dengan Isabel. Dia tidak kesepian dan bisa keluar melihat Hagia Sophia dan daerah lain di Konstantinopel. Dan mereka saling menyukai, tetapi Helen ibu Claudius tentu tidak menyetujui anaknya bergaul dengan budak. Hingga akhirnya, ketika Konstantinopel diserang oleh Kesultanan Utsmaniyah, Helen menyuruh Isabel menjadi pasukan terdepan menghalau pasukan Al-Fatih.

Lalu bagaimana kisah selanjutnya Isabel di tahun 2014? Kabur ke manakah dia? Bagaimana hubungannya dengan Zeyn dan Dokter Ryuga? Apa isi teka-teki pesan kakeknya? Bagaimana pula kelanjutan kisah Isabel di tahun penyerangan pasukan Utsmani? Adakah benang merah antara  dua kisah ini? Jika penasaran, sebaiknya Anda membaca langsung novel seru ini.

Novel ini bisa dibilang serba ada, ada misteri, ada teka-teki, ada intrik keluarga, dan tentu saja twist yang sangat mengejutkan. Novel ini juga menguraikan dengan cukup detail sejarah bagaimana terjadinya perang pasukan Muslim Yeniseri membuka Konstantinopel menjadi bagian dari  Kesultanan Utsmaniyah.

Sebagai penulis buku Islami, tentu saja Deasylawati tidak sekadar menulis kisah yang menarik yang kosong makna. Narasi dalam novel ini, menunjukkan bahwa penulis mengamanahkan bahwa keimanan atas kebanaran Islam harus disyukuri dan dijaga. Juga tentang syariat jilbab untuk Muslimah, adalah bentuk perlindungan Islam kepada pemeluknya. Buku rekomendasi sebagai teman di akhir pekan, selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 2 April 2017

Iklan