30 Paspor The Peacekeeper Journey Karya J.S. Khairen

cover 30 Paspor The Peacekeepers

Pelancong Penjaga Kedamaian

Judul                            : 30 Paspor The Peacekeeper Journey

Penulis                          : J.S. Khairen

Editor                           : Shinta, Novikasari Eka S.

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : Pertama, Maret 2017

Jumlah Halaman          : 392 halaman

ISBN                           :  978-602-385-219-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

“Aku tak percaya teroris punya agama. Semoga kau tidak menganggap kami seorang Muslim adalah teroris. Kami juga menjadi korban (halaman 6).”

Adalah Risma Nadira Iswani, melakukan perjalanan ke Swiss dengan nekat. Mengapa? Ya, dia memiliki penyakit tumor di tubuhnya. Meski sudah diangkat, ternyata setahu setelahnya diagnosis dokter mengatakan lahir tumor baru di tubuhnya. Namun, sebulan kemudian dia tetap ingin melakukan perjalanan ke Swiss.

Setelah tiba di Swiss dia berkenalan dengan Virginie, tepat setelah Jakarta yang kabarnya di bom oleh teroris. Risma, mengira bahwa mungkin Virginie tidak akan mau berkenalan dengannya, dan ternyata Virginie malah simpati dan menanyakan bagaimana keadaan keluarga Risma yang ada di Jakarta pasca pemboman.  Bahkan, lebih dari itu Risma pun diajak ke untuk melihat gereja. Di sana pun, orang-orang ramah bersahabat kepadanya, dia diterima meski beragama berbeda. Dia pun berusaha, menjadi Muslim yang baik dan menjaga perdamaian.

Dia bersyukur, bisa sampai ke Swiss dan bisa berkunjung ke Jenewa untuk melihat kantor-kantor PBB. Dia melihat papan reklame UNICEF, yang mengatakan bahwa masih banyak anak-anak di negara tertinggal, yang tidak sekolah, kelaparan dan berpenyakit yang di Indonesia sudah langka. Hal itu membuat dia miris, dan sekaligus bersyukur. Dia yang sakit parah masih bisa ke luar negeri dan mengambil pelajaran.

Karena hal itulah, perjalanan dia kali bukan sembarang perjalanan, selain perjalanan ke Swiss ini adalah perjalanan dengan tugas menjaga perdamaian. Ya, perjalanan Risma bukan sekadar melancong mencari hiburan, tetapi tugas dari Profesor Renald Kasali untuk mata kuliah manajemen pemasaran.

Menurut Prof. Renald tugas mata kuliah ini akan memberikan tantangan bagi mahasiswanya, dengan itu dia akan berpikir untuk mendapatkan solusi dengan kemampuan sendiri (halaman xi), itu sangat penting bagi mahasiswanya karena akan menjadi pemimpin sebuah perusahaan sesuai jurusan kuliah, terlebih bisa saja mereka akan menjadi pemimpin negeri.

Dalam presenstasi setelah perjalanan, Risma bersyukur dengan tugas ini dia bisa nekad dan mengetahui sampai mana batas yang bisa dia kalahkan meski dalam keadaan sakit yang bisa dibilang parah. Sampai-sampai Renald menggeleng-gelengkan kepala, karena dia tidak tahu mahasiswinya itu sakit parah dan tetap nekad melakukan perjalanan ke luar negeri (halaman 10).

Meski judul buku 30 Paspor, tetapi kisah perjalanan di dalamnya ada 31. Kisah-kisahya tidak sekadar mengharukan seperti kisah Risma, tetapi juga ada kisah unik dan luce seperti kisah Bunga Ghassani. Dia menjawab tantangan bahwa belum ada mahasiswa yang tugas perjalanannya ke Afrika, dia pun memilih Maroko.

Tidak mudah memang, selain dia perempuan melancong sendiri, saat itu di Afrika juga sedang terjangkit virus Ebola. Meski, Ebola hanya menyerang Afrika Barat, namun bisa sudah memasuki Maroko. Karenanya, dia pun mencari informasi gejala Ebola, cara penularan dan cara mengantisipasinya.

Yang unik, Bunga mengunjungi Masjid Hasan II yang terbesar di Maroko dengan segala keindahannya. Bunga pun mengeluarkan tongsis. Orang-orang pun mulai curiga kepadanya, menganggap tongsis itu berbahaya. Ternyata di Maroko memang banyak yang tidak tahu tentang tongsis dan sedikit sekali yang memiliki gawai berkamera.

Mereka mengangap tongsis itu berbahaya dan mereka marah kepada Bunga. Bunga pun menjelaskan kepada mereka. Setelah mengetahui, bahwa tongsis alat untuk memudahkan berfoto. Orang-orang pun mulai tidak curiga lagi, marah menjadi ramah,  dan bahkan mereka ikutan berfoto. Maka, saat itu tongsis menjadi senjata perdamaian (halaman 189).

Buku setebal 392 halaman ini, adalah narasi anak muda yang belajar mencari diri, dan mereka menemukan hal itu ketika mendapat tantangan dan kesulitan saat berada di luar negeri. Harapannya, mereka bisa menjadi driver seperti keinginan Profesor Renald Kasali yang menjadi diri sendiri dan mampu membawa Indonesia dan dunia menjadi lebih baik dengan menjadi agen perdamaian. Selamat membaca!

Resensi 30 Paspor The Peacekeepers Journey di Harian Singgalang 7 Mei 2017
*dimuat di Harian Singgalang.

*pemesana bisa ke Toko Buku Hamdalah 085933138891

Iklan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s