Nun: Pada Sebuah Cermin Karya Afifah Afra

Cover Nun

Cermin Kehidupan Dalam Sebuah Novel

Judul                            : Nun Pada Sebuah Cermin

Penulis                          : Afifah Afra

Editor                           : Triana Rahmawati

Penerbit                       : Republika Penerbit

Tahun Terbit                : I, September 2015

Jumlah Halaman          : 370 halaman

ISBN                           :  978-602-0822-09-8

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

“Cermin itu selalu apa adanya. Jika yang bercermin di depannya memang punya keburukan, dia akan pantulkan tanpa enggan, sehingga orang yang bercermin menjadi tahu apa yang salah darinya, dan tentunya akan timbul kesadaran untuk memperbaikinya.” (halaman 51)

Kehidupan adalah cermin untuk berkaca dan mengambil pelajaran. Kisah fiksi yang tidak hanya bersumber dari khalayan saja, tetapi juga juga berdasarkan kehidupan nyata juga bisa menjadi sarana berkaca dan memperbaiki diri. Layaknya kisah fiksi karya Afifah Afra yang berjudul Nun Pada Sebuah Cermin ini. Pembaca bisa mengaca pada kehidupan dalam novel ini.

Adalah Nun Walqolami, seorang yatim yang hidup bersama ibu dan kedua adiknya. Sejak kecil telah ditinggal oleh bapaknya yang meninggal dan tidak menyisakan apa-apa, sehingga dia dan keluarganya harus hidup rumah-rumah ilegal di bantaran sungai. Ibunya pun harus bekerja sebagai pemulung.

Nun sebenarnya lahir sebagai anak yang pintar di atas rata-rata, namun saat lulus SMP dia harus menyadari bahwa orangtuanya tidak bisa membiayai dia untuk melanjutkan ke SMA. Meski sebenarnya dia sangat ingin terus bersekolah. Akhirnya, dia pun bekerja sebagai pemulung membantu ibunya.

Namun, Wiratno Sri Kameswara yang bekerja sebagai pemain ketoprak mengajak Nun untuk memain ketoprak juga. Wiratno melihat Nun memiliki bakat dan kebetulan Tantri yang biasa menjadi pemeran utama kepincut bayaran menjadi penyanyi dangdut. “Siapa bilang? Kamu berbakat, sangat berbakat. Ayo kuajak kau menghadap Denmas Daruno. Biar nanti kau bisa menggantikan Tantri, berperan sebagai Galuh Condrokirono.”

Wiratno yang juga penduduk di bantaran kali sebenarnya orang yang pintar, dia seorang sarjana budaya bahasa Jawa. Tetapi, dia memang tidak mendapat pekerjaan yang bagus. Dia menjadi guru, tetapi hanya sebentar karena sekolah bubar. Kemudian dia bergabung menjadi pemain ketoprak di grup yang legendaris sejak zaman Belanda bernama Chandra Poernama (halaman 56).

Wiratno sebenarnya sudah memiliki istri yang bernama Mekarsari. Sari cantik namun pemarah, kasar, dan cemburuan. Meski ketika di panggung Wiratno tidak romantis secara fisik, namun romantisme kata-kata Wiratno kepada pemeran utama wanita membuat Sari cemburu, terlebih nafkah yang diberikan Wiratno sedikit, Akhirnya, Sari menceraikan dia dan menjadi TKW.

Sudah lama Nun menyukai Wiratno yang terpaut jauh dari umurnya. Ditambah lagi Wiratno sangat memperhatikan dirinya dan keluarga. Namun, setelah Wiratno menikah, dan semakin lama Nun mengerti bahwa Wiratno menyayangi keluarga Nun sebagai seorang paman. Nun berusaha mengubur harapannya.

Nun kembali berharap kepada seorang pemuda yang bernama Naya. Dia baru menyelesaikan studinya di Australia, ibunya adalah seorang dosen dan bapaknya adalah pengusaha yang memiliki media, salah satunya media Tribun Bengawan. Tribun Bengawan mengalami kemerosotan dan ini menjadi ajang Naya untuk mengerahkan semua ilmunya, untuk menaikkan lagi.

Naya mencari berita tentang budaya tentang ketoprak dan dia hadir saat pementasan ketoprak Chandra Poernama. Dia terkesan dengan penampilan tokoh utama, yaitu Wiratno dan Nun. Dia memawancari Wiratno terlebih dahulu, cuma sebentar. Kemudian giliran mewancarai Nun dengan waktu yang agak lama, dalam perjalanan pulang.

Naya semakin terkesan dengan Nun, dengan kepiawaiannya sebagai pemain ketoprak, dengan namanya, kepintarannya dan kecantikan yang mungkin bukan dari tubuh tetapi cantik yang ada dalam perangai dirinya. Nantinya, Nun dan Naya saling suka, tetapi melihat keadaan mereka apakah mereka akan bersatu?   Bagaimana kemudian nasib Grup Ketoprak Chandra Poernama?

Novel ini tidak sekadar menghibur, namun ada makna yang disuguhkan. Seperti tentang hidup yang bersungguh-sungguh dan ikhlas, hidup harus bercermin, tentang cinta yang sebaiknya sekufu, hingga tentang budaya macapat jawa.  Sebuah novel yang tidak biasa dan direkomendasikan untuk dibaca semua orang, khususnya anak muda. Guna melestarikan budaya sedini mungkin. Selamat membaca!

Resensi Nun Pada Sebuah Cermin di Radar Sampit 23 Juli 2017

dimuat di Radar Sampit 23 Juli 2017
*bisa dipesan di Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891
info buku-buku bisa bergabung di channel telegram: t.me/bukabukubukadunia

Iklan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s