Untukmu, Calon Bidadariku, Dariku Calon Imammu karya Ahmad Rifa’i Rif’an

cover untukmu calon bidadariku

Agar Menikah Bernilai Berkah

Judul                            : Untukmu, Calon Bidadariku; Dariku Calon Imammu

Penulis                          : Ahmad Rifa’i Rif’an

Editor                           : Abu Mumtaza

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, Mei 2017

Jumlah Halaman          : 140 halaman

ISBN                           :  978-602-418-167-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Untukmu, Calon Bidadariku, Dariku Calon Imammu, dari judulnya saja buku ini sudah menarik sekali. Sangat menarik hati tidak hanya jomblowan, tetapi jomblowati juga akan penasaran, seperti apa gerangan isi buku ini? Baiklah, mari kita bahas.

Buku terbaru karya Ahmad Rifa’i Rif’an ini terdiri dari tujuh surat. Ya, surat dari calon imam, kepada calon bidadarinya. Begitu romantisnya. Namun, apa hanya romantis? Sebenarnya tidak. Surat ini seperti pengantar ta’aruf, atau penyamaan visi dan misi calon suami dengan calon istri. Mari kita cek dan bahas sedikit isi surat-suratnya.

Surat cinta part 1 membahas tentang bahwa buku ini ditujukan kepada calon istri tentang harapan yang diimpikan. Karena buku ini berbentuk surat, maka sejak awal memang seakan sedang berbicara dengan calon istri yang masih rahasia. Di surat part pertama ini membahas tentang bahwa calon imam ini tidak hanya ingin menua bersama saja, tetapi juga sedunia sesurga.

Harapan lainnya adalah ingin agar nanti istrinya bisa menjadi teman yang dapat membantu amanah suami yang begitu besar. Karena hanya dengan bantuan istri, yaitu istri yang shalihah tugas dan amanah suami yang berat nan besar itu bisa terselesaikan. Bila imam lupa, maka makmum di belakang akan mengingatkan. Bila imam melakukan kesalahan, maka makmum shalihah akan menasehati. Oh, indah bukan hidup seperti itu?

Dalam surat pertama ini juga dibahas tentang bahwa orang menikah seringkali yang diinginkan adalah pasangan yang sempurna. Tetapi itu tidaklah benar, yang benar adalah mengganti huruf r di kata mencari menjadi huruf d. Maka, seharusnya yang benar adalah menjadi pasangan yang sempurna yang menyempurnakan pasangannya. Nah, selain itu maka haruslah menjadi orang yang dicintai oleh Allah, agar dicintai pula oleh orang yang baik (halaman 22). Maka, ukurannya di sini adalah, menjadi baiklah dulu. Cari cinta Allah dulu, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Dalam surat part kedua, dibahas tentang untuk saling memahami bahwa pernikahan adalah surga di dunia sebelum surga di akhirat. Selain itu pernikahan adalah amanah, bagi suami dan istri. Nah, karena itu maka haruslah sebelum melangkah ke tanggung jawab ini maka tanggung jawab lain sebelum menikah harus beres dulu. Pertama, calon suami ingin calon istrinya agar shalat yang wajibnya diperbaiki, bukan hanya istrinya tetapi keduanya (halaman 28). Karena apa? Karena, shalat adalah tiang agama. Pernikahan yang juga ibadah bisa roboh, jika tiangnya tidak kuat.

Kedua, calon suami ini ingin agar dia dan calon istrinya sama-sama bertaubat kepada Allah. Agar Allah memberikan jalan keluar dan tidak menjadikan maksiat yang belum diminta taubatnya menjadi masalah kelak ketika telah menikah (halaman 31). Ketiga, sang calon suami ingin mereka bersama mencoba untuk menghiasi hidup mereka dengan amalan-amalan sunnah. Dengan harapan nanti Rasulullah akan menuntun hidup dan rumah tangga mereka ke jalan yang benar (halaman 41).

Surat part ketiga, yang dibahas adalah tentang niat pernikahan. Dalam Islam, niat adalah pembahasan yang begitu penting. Karena segala amal akan dinilai tergantung dengan niatnya. Jika niatnya salah, maka suatu amal akan salah pula. Lalu apa niat yang benar dalam menikah? Pertama, menikah karena ingin meraih cinta Allah (halaman 44).

Niat menikah yang kedua adalah untuk mengikuti sunnah Rasulullah. Meski hanya beliau manusia yang telah diampuni dosanya oleh Allah, tetapi beliau tetap beribadah dengan tidak hanya yang wajib juga tetapi juga dilengkapi dengan yang sunnah dengan begitu sungguh-sungguhnya. Semua itu Rasulullah lakukan sebagai bentuk syukur,   berterima kasih kepada Allah. Namun, meski begitu beliau tetap proporsional menjaga fitrah manusia. Beliau puasa lalu buka, beliau beribadah lalu istirahat, beliau juga menikah. Maka, sebagai pengikutnya sudah semestinya untuk mengukiti jejak sunnah beliau ini (halaman 45).

Surat part berikutnya,  juga membahas tentang harapan calon suami agar istri menjadi madrasah pertama bagi anak mereka kelak. Sebelumnya, Rifa’i juga telah menerbitkan seri buku ini yaitu Untukmu, Calon Imamku, Dariku Calon Bidadarimu yang membahas tentang kebalikan dari buku ini. Maka, tak pelak seri buku ini layak dibaca, utamanya oleh mereka jomblowan dan jomblowati. Bisa juga menjadi kado kepada istri dalam rangka menyamakan visi dan misi pernikahan. Selamat membaca!

Resensi Untukmu Calon Bidadariku - di Jateng Pos -16 Juli 2017 - Muhammad Rasyid Ridho

dimuat di Jateng Pos 16 Juli 2017
*
bisa dipesan di Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891
* info buku-buku bisa bergabung di channel telegram: t.me/bukabukubukadunia

Iklan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s