Surviving Canada Karya Rini Hidayat

cover surviving canada.jpg

Iman Membawa Kebahagiaan

Judul                            : Surviving Canada

Penulis                          : Rini Hidayat

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : Pertama, 2017

Jumlah Halaman          : 218 halaman

ISBN                           :  978-602-03-3693-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Tidak ada yang bisa memberi kita kebahagiaan kecuali Sang Pencipta Kehidupan. Harta, tahta dan wanita memang bisa membahagiakan, namun jika tidak berkah, semua itu adalah semu. Seperti kisah dalam novel yang berjudul Surviving Canada karya Rini Hidayat. Berkisah tentang keluarga yang tidak hanya mencari kebahagiaan di dunia, tetapi juga di akhirat.

Buku yang berkisah tentang Jannah yang menjadi seorang manajer di PT Maxindo setelah tiga tahun bekerja. Kemudian dia menikah dengan Ihsan pada bulan Oktober 1990, dan dua tahun kemudian saat umurnya 27 tahun dia dikarunia anak pertama yang bernama Rayyan. Pertengahan 1998, anak keduanya lahir yang bernama Shafiyya. Keluarganya makin bahagia, namun dia merasa kurang bersyukur kepada Tuhannya.

“Mensyukuri nikmat Allah harus sesuai dengan cara yang telah ditetapkan serta dikehendaki Sang Pemberi nikmat, bukan sesuka dan sekehendak hati manusia, serta semena-mena mengikuti cara dan standar individu. Dan sebagai makhluk yang dibekali akal dan nafsu, secara default manusia cenderung mencari yang paling mudah serta enak, tidak mau susah, dan tidak sudi merepotkan diri (halaman 7).”

Ya, dia merasa harus berjilbab sebagai bentuk syukur dan ketaatan kepada Allah. Godaan setan sempat menggodanya, dengan perkataan yang terpenting adalah menjibabi hati dan dia tetap memakai pakaian yang sopan. Sempat pula ragu, “Apa kata orang-orang nanti ya kalau aku berkerudung? Aku jadi kelihatan beda sendiri. Duh sanggup enggak ya?” (halaman 9).

Namun, akhirnya Jannah menemukan keteguhan untuk memakai jilbab. Ditambah lagi, anaknya-Rayyan yang sejak TK di sekolah Islam sangat gembira melihat mamanya memutuskan memakai jilbab (halaman 11). Awalnya memang tidak terjadi apa-apa di kantornya, tetapi beberapa hari kemudian mulai ada yang membicarakannya karena memakai jilbab. Meski begitu dia tetap sabar dan istikamah memakai jilbab.

Ujian keistikamahan datang lagi, suami Jannah-Ihsan sakit parah sehingga tidak bisa bekerja, PT Maxindo pun melakukan merasa Jannah tidak bisa dikembangkan lagi. Jannah diberi kesempatan untuk mempersiapkan dia keluar dari perusahaan dengan mencari perusahaan atau pekerjaan lain. Akhirnya, Jannah teringat dengan impian masa kecilnya, yaitu ke luar negeri (halaman 32).

“Dia yakin Allah akan menolongnya, karena Dialah Yang Maha Pemberi Rezeki. Dia hanya harus bertawakkal penuh, berusaha sabar, dan menyempurnakan ikhtiarnya. Dia yakin semua ini takdir Allah yang terbaik baginya, dan pasti ada hikmah di balik semua ini.” (Halaman 27)

Jannah kemudian musyawarah bersama suami dan keluarga, tentang rencana pindah ke Kanada. Mereka pun sepakat untuk pindah ke sana. Tidak hanya menginginkan kebahagiaan dunia, tetapi akhirat, agar semakin dekat kepada Allah. Dia berusaha mencari kehidupan yang lebih baik di sana. Tetapi ujian demi ujian pun tetap datang. Bukan mudah mencari pekerjaan sebagai orang baru di Kanada.

“Orang yang terlalu mengkhawatirkan masa depan atau sesuatu yang belum pasti, yang sejatinya masih gaib, layaknya orang tidak punya Tuhan saja.” (halaman 37). Jannah menjadi seorang kasir, dan Ihsan menjadi tukang cuci mobil. Tetapi mereka tidak malu, selama semua itu halal. Semua itu mereka kerjakan dengan senang.

Ada banyak dinamika kehidupan Jannah selama di Kanada. Senang dan sedih silih berganti, tetapi mereka sekeluarga bisa bahagia, karena mereka malah merasa lebih dekat dengan Allah. Buku ini sangat terasa bahwa kisah ini adalah kehidupan penulis sendiri. Bahasa mengalir bak diari, sekaligus mengena bagi pembaca.

Ketika percakapan di Kanada, penulis menulis dengan bahasa Inggris, mungkin harapannya untuk meyakinkan pembaca, jadi banyak bertaburan percakapan bahasa Inggris dalam novel ini. Menurut saya ini kelemahannya. Padahal, tidak perlu memakai banyak percakapan bahasa Inggris, yang malah membuat pembaca merasa tidak nyaman.

Meski begitu, buku ini sangat menginspirasi. Saya menyetujui kata pengantar Ustadz Samson Rahman (Penerjemah buku best seller Laa Tahzan) dalam buku ini, “membaca buku ini bagaikan membaca buku Laa Tahzan versi novel.” Sebuah novel yang layak menemani weekend Anda, tidak hanya menghibur tetapi memberikan Anda motivasi untuk tidak kalah dengan hidup selama masih ada iman kepada Tuhan. Selamat membaca!

*Resensi dimuat di Harian Singgalang.

 

**Ingin memesan buku? Ke Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891 gabung juga di grup di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp dan http://bit.ly/TokoBukuHamdalahTelegram

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia

 

Iklan

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s