Athlas karya Kata Kokoh

cover athlas

Menjalin Hubungan Harmonis Antara Orangtua dan Anak

Judul                            : Athlas

Penulis                          : Kata Kokoh

Editor                           : Moemoe dan Nurul Amanah

Penerbit                       : Pastel Books

Tahun Terbit                : Pertama, Juli 2018

Jumlah Halaman          : 444 halaman

ISBN                           :  978-602-6716-39-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Pembaca seri Senior pasti tahu bahwa karakter Nakula adalah seorang yang dingin dan kaku. Meski ada peribahan dan sudah tidak sedingin dulunya, namun karakter ini sudah melekat pada diri Nakula. Ternyata karakternya tidak hanya berpengaruh terhadap hubungan dan komunikasinya dengan Aluna, di buku ketiga kali ini dia bermasalah dengan anaknya Athlas.

Athlas adalah salah satu dari anak Nakula yang kembar tiga, yaitu Athalan dan Athilla. Athlas merasa dibedakan oleh papanya dengan dua adiknya. Athalan dan Athilla sekolah di SMA milik yayasan keluarga, sedangkan Athlas sekolah di SMA negeri. Athlas sering dimarahi dan sering disuruh belajar oleh papanya.

Ya, intinya hubungan mereka berdua tidak harmonis. Hingga puncaknya Nakula pulang malam karena habis latihan ngeband dan Nakula marah karena pada Athlas karena hanya untuk kegiatan yang tidak bermanfaat Athlas menjadi pulang malam. Athlas tidak suka jika ngeband dianggap tidak bermanfaat, dan Nakula juga marah karena Athlas malah melawan dia, akhirnya Nakula menampar Athlas dan mengusirnya dari rumah.

“Papa bilang latihan band enggak penting? Emang selama ini apa tahu apa tentang Athlas? Emangnya papa tahu apa yang penting buat Athlas? Emangnya papa tahu, apa yang Athlas suka?” (halaman 203)

Kisah ini bisa jadi banyak terjadi di banyak keluarga, masalahnya adalah ketika orangtua dan anak tidak saling memahami. Tidak ada komunikasi yang bagus di antara mereka. Komunikasi yang bagus bisa dibangun ketika telah saling memahami antara orangtua dan anak. Apalagi orangtua yang sibuk bekerja sampai tidak pernah ada komunikasi yang efektif, sehingga orangtua tidak memahami anak dan anak tidak memahami orangtuanya.

Orangtua zaman dulu mungkin banyak yang kaku, dan hanya menginginkan anaknya menjadi yang seperti diinginkan. Bisa dibilang orangtua egois kepada anaknya. Padahal setiap anak memiliki harapan, ketertarikan dan kemampuan yang berbeda. Maka, dalam hal ini orangtua harus bisa memahami dan menjembatani harapan anaknya selama itu tidak melanggar norma dan agama. Maka sebenarnya dalam novel remaja ini bisa dibilang ada keilmuan parenting.

“Athlas, papa mana yang enggak sakit hati kalau anaknya enggak bisa menghargai dia. Kamu enggak kabarin papa kamu sama saja kamu enggak menghargai dia, dan kamu sempat bilan kalau papa kamu enggak sayang kamu, secara enggak langsung kamu udah nyakitin hati dia dengan ucapan kamu. Kamu bilang, papa kamu enggak ngerti sama perasaan kamu, tapi kamu sendiri sebenarnya ngerti atau nggak sama perasaan papa kamu?” (halaman 221).

Itulah mengapa perlu sikap saling pengertian. Anak mengerti ayahnya harus dihargai dan dihormati, seperti ketika akan keluar rumah harus izin dan memberitahu kalau pulang agak telat ke rumah. Maka, orangtua akan merasa dihargai dan tidak khawatir anaknya sedang ke mana atau terjadi apa-apa.

Seorang ayah juga harus menghargai dan menyayangi anaknya, harus belajar bagaimana menyayangi yang pas untuk anaknya. Agar sang anak, tidak mengira bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Padahal jelas, dengan orangtua pengin tahu anaknya dari mana itu menjadi bukti bahwa orangtua perhatian dan sayang anaknya.

Novel ini juga tentang pencarian jati diri. “Kamu itu pintar kok. Cerdas juga. Kamu cuma belum sadari hal itu. Coba kamu terbuka pada diri kamu sendiri dan lihat bakat yang kamu punya. Aku emang bisa hitung kurva dan akuntansi dalam pelajaran Ekonomi, aku juga bisa hitung derajat kemiringan lempeng topografi dalam pelajaran Geografi. Tapi, aku enggak bisa mempelajari lima bahasa sekaligus.” (halaman 334)

Novel remaja ini memang tidak hanya berbicara tentang romansa, tetapi juga tentang parenting dan diri remaja seharusnya. Selamat membaca! “Manusia pintar nggak seutuhnya pintar. Manusia bodoh tidak seutuhnya bodoh. Manusia bisa karena mereka yakin.” (halaman 334)

*dimuat di Jateng Pos 6 Januari  2019

**Ingin memesan buku? Ke Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085335436775
gabung juga di grup
 di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia 

 

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s