Tentang Kamu Karya Tere Liye

cover-tentang-kamu

Tiada Dendam Yang Tak Menyakitkan

Judul                            : Tentang Kamu

Penulis                          : Tere Liya

Editor                           : Triana Rahmawati

Penerbit                       : Republika Penerbit

Tahun Terbit                : Januari 2017

Jumlah Halaman          : 524 halaman

ISBN                           :  978-602-0822-34-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Kali ini Tere Liye kembali hadir dengan karya terbarunya yang berjudul Tentang Kamu. Meski judulnya ini Tentang Kamu, tapi tentu saja Tere Liye tidak membahas tentang kamu, iya kamu yang membaca resensi ini. Novel ini membahas tentang persahabatan tiga santri di sebuah Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Kiai Maksum di pinggiran Surakarta. Mereka adalah Sri Ningsih, Nur’aini, dan Sulastri.

Sri Ningsih berasal dari Pulau Bungin, datang bersama adiknya, Tilamuta ke Pesantren Kiai Maksum atas saran Guru Bajang. Setelah sampai di sana, kemudian dia akrab dengan Nur’aini, putri Kiai Maksum yang seumuran dengan dirinya, sekira lima belasan tahun. Sri Ningsih juga akhirnya dekat dan bersahabat dengan teman akrab Nur’aini yaitu Sulastri. Sulastri adalah tenaga pengajar di Pesantren dan baru saja menikah dengan Musoh salah satu pengajar di sana juga sekaligus kepala asrama putra (halaman 161).

Dua tahun berada di pesantren Sri bisa mengejar ketertinggalan, Nur’aini banyak memberi pinjaman kitab kepadanya. Selain itu, Lastri juga meluangkan waktu menambah waktu belajar Sri ketika tidak ada jadwal mengajar di asrama putri. Mereka bertiga sangat akrab dan kompak, mereka seakan tak terpisahkan, di mana ada Nur, pasti juga ada Lastri dan Sri di sana.

Ketika Sri dan Nur menginjak umur delapan belas, mereka telah menyelesaikan sekolahnya. Sri masih belum memiliki bayangan akan bagaimana, atau melanjutkan ke mana. Namun, akhirnya Kiai Maksum meminta Sri untuk tetap di pesantren, Sri adalah salah satu santriwati yang memiliki kelebihan dalam berbahasa. Dia bisa menjawab ujian lisan dengan bagus, selain itu dia santriwati yang bisa mengendarai mobil. Kiai akhirnya memutuskan untuk memberdayakan kemampuan Sri dan memintanya agar mau tinggal di pesantren sebagai guru (halaman 168).

Umur sembilan belas adalah saat bahagia bagi Nur, ada yang melamar dirinya seorang pemuda cucu ulama besar dari Tanah Minang dan lulusan dari universitas Madinah. Pemuda ini bernama Arifin (halaman 174), dia tidak hanya memiliki kelebihan dalam hal fisik, kelebihan yang disebutkan di atas juga sangat mengagumkan bagi Nur. Mereka pun akhirnya menikah. Nur bahagia, Sri bahagia, seluruh pesantren bahagia, namun berbeda bagi Lastri dan Musoh. Sejak itu, persahabatan mereka pun merenggang.

Arifin sebagai menantu Kiai Maksum, sering menjadi pengganti ketika Kiai berhalangan ketika jadwal menjadi pengasuh pengajian di pesantren. Bagi Musoh ini membahayakan karena bisa jadi akan menggusur posisinya. Dia tersulut dengki, dan dia menyulut dengki di hati Lastri sekaligus fitnah kepada Kiai Maksum.

Musoh menganggap bahwa Kiai Maksum akan menyingkirkan dia dari pesantren dan akhirnya Musoh sendiri yang mengundurkan diri sebagai guru di pesantren. Dia menganggap Kiai sangat munafik. Dia menuduh Kiai Maksum, kepada Lastri dia mengatakan bahwa yang membunuh kedua orangtua Lastri adalah Kiai Maksum agar bisa menguasai kekayaan milik keluarga Lastri. Kemudian, Kiai Maksum pun membohongi Lastri dengan pura-pura merawatnya (halaman 190).

Maka, dengki keduanya kemudian menjadi dendam. Sejak keluar dari menjadi pengajar di pesantren, Musoh dan Lastri menjadi salah satu orang penting di PKI (Partai Komunis Indonesia) di Semarang. Musoh memang tidak hanya pandai dalam ilmu agama, tetapi dia juga membaca buku-buku dari barat. Sehingga tak mengherankan dengki yang muncul, dan dia sambungkan dengan pengetahuannya tentang komunisme. Melalui pertunjukan teater PKI mempropagandakan dan menghasut masyarakat untuk memusuhi ulama. Setelah banyak yang bersimpati, akhirnya mereka pun menyerang pesantren dan membunuh Kiai dan Nyai Maksum (halaman 197).

Namun, dengki yang telah menjadi dendam tidak hanya berhenti di situ. Menyakitkan memang, namun sakitnya pun tidak berhenti di situ pula. Setelah kematian Musoh, dendam Lastri kepada Sri terus berlanjut hingga akhir dalam novel ini, namun kebersihan dan kebeningan hati mampu mengalahkannya. Begitulah, dendam tidak hanya menyakitkan bagi yang didendami, tetapi juga bagi pendendam juga menyakitkan.

Prolog novel karya Tere Liye ini mengisahkan tentang pengacara handal asal Indonesia yang bekerja di firma hukum terkenal di dunia yaitu Thompson & Co. Dia menyelediki kehidupan Sri yang memiliki kekayaan yang melimpah, 1% dari saham dunia. Jadi, penggalan kisah di atas adalah sebagian kisah Sri Ningsih. Karenanya, bacalah novel yang tidak hanya menarik, menghibur, dan bermakna ini, novel ini juga bertabur kutipan keren. Selamat membaca!

*dimuat di Jateng Pos 5 Februari 2017