Baiti Jannati; 150 Jawaban Menuju Rumah Tangga Sakinah Penulis Karya Dr. Ali Jum’ah (Mufti Al-Azhar)

cover-baiti-jannati

Agar Rumah Tangga Terhindar Dari Keretakan

Judul                            : Baiti Jannati; 150 Jawaban Menuju Rumah Tangga Sakinah

Penulis                          : Dr. Ali Jum’ah (Mufti Al-Azhar)

Penerjemah                   : Tim Noura Books

Editor                           : Cecep Romli, Arifin

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : Pertama, September 2016

Jumlah Halaman          : 170 halaman

ISBN                           :  978-602-385-178-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SMPN 2 Tamanan

Pernikahan menjadi dambaan setiap manusia normal. Namun, memulainya tidak mudah, membutuhkan ilmu. Begitupun, untuk mempertahankannya juga tidak mudah, dan karenanya juga membutuhkan ilmu. Jika, tanpa ilmu maka yang terjadi adalah rusaknya sebuah institusi bernama pernikahan.

Faktanya di Indonesia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2013 mengatakan, angka perceraian di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Pasifik. Sampai saat ini, angka perceraian tidak bisa dibendung dan terus meningkat. Maka, hadirnya buku karya Dr. Ali Jum’ah seorang mufti di Al-Azhar Mesir yang berjudul Baiti Jannati ini merupakan kabar bahagia.

Buku ini adalah kumpulan fatwa Dr. Ali atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Sebagian besar pertanyaan dan jawaban dalam buku ini adalah tentang pernikahan dan rumah tangga yang tak luput dari masalah dan perselisihan. Sebagian bisa mengatasi masalah, sebagian lain tidak bisa hingga rumah tangga retak atau bahkan berakhir dengan perceraian.

Seorang perempuan telah bersuami bercerita kepada Dr. Ali, dia memiliki masalah dengan suami dan anaknya. Dia dan suami sudah 26 tahun membangun rumah tangga, suami dan dia adalah dosen. Selama itu, Allah karuniakan kepada keduanya dua anak. Selama itu tidak pernah ada masalah dalam keluarganya, tetapi akhirnya keluarganya harus diterpa masalah. Hingga akhirnya dia tidak kuat dan ingin cerai dengan suami. Namun suaminya menolak.

Masalah anaknya pun datang, anak perempuannya yang sudah kuliah membawa seorang lelaki ke rumah untuk menemui dia sebagai seorang ibu. Anak perempuannya menginginkan menikah dengan lelaki yang dia bawa. Namun, dia menolak hingga suatu ketika anak perempuannya dan lelaki yang dicintainya melakukan hubungan yang salah.

Dia pun memeriksakan anaknya kepada seorang dokter spesialis, dan ternyata anaknya positif hamil. Sehingga membuat dia sering bertemu dengan dokter spesialis tersebut untuk konsultasi perihal anak perempuannya. Nah, ternyata suaminya cemburu dan menuduhnya selingkuh dengan sang dokter.

Parahnya lagi, tuduhan suaminya tersebut dipercaya oleh anak-anaknya. Hingga akhirnya, dia pun diceraikan dengan menanggung semua biaya percerainnya. Setelah itu datang orang yang serius ingin menikahinya, dan anak-anaknya ikut dengan mantan suaminya. Selain itu masalah lain adalah ketika dua tahun kemudian mantan suaminya meninggal, paman anak-anaknya sering menggoda dia.

Lebih dari itu paman anak-anaknya itu menyebarkan berita bohong sehingga anak-anaknya tidak mau berinteraksi dengan dia, bahkan meski mereka tahu bagaimana kebenarannya. Perempuan ini bertanya kepada Dr. Ali apa dia bordosa ketia memutuskan hubungan dengan anak-anaknya. Jawaban, Dr. Ali mengatakan tidak berdosa. Karena sebenarnya perbuatan anak-anaknyalah yang memutuskan hubungan dengan ibunya (halaman 60).

Menyinggung hal ini, Dr. Ali menganggap masalah yang ada adalah masalah moralitas. Memang faktor yang menjadi penyebab masalah terjadinya perceraian adalah karena merosotnya akhlak. Seperti fakta di atas, tuduhan suami tanpa bukti terhadap istri, perkataan orang ini didustakan, sedangkan perkataan orang itu dibenarkan.

Padahal teladan muslim Nabi Muhammad Saw. telah mencontohkan bagaimana menjadi suami yang baik. Rasulullah adalah sosok yang lembut ketika dihadapkan dengan masalah rumah tangga. Selain itu sesorang harus menjaga lisannya agar tidak membuat masalah bagi diri sendiri dan orang lain. Rasulullah bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika menceritakan semua yang pernah dia dengar.”

Dr. Ali menasehatkan agar Umat Muslim menghindari beberapa hal yang menjadi sebab perceraian, pertama akhlak buruk, kedua salah paham dalam memandang ekonomi, ketiga campur tangan keluarga besar dalam masalah kehidupan rumah tangga, keempat tidak taat dalam beragama, dan terakhir adalah hubungan intim yang tidak harmonis (halaman 110).

Secara struktur penulisan ada 3 bab dalam buku ini, pertama dan kedua menyinggung tema pernikahan yaitu tentang rumah tangga dan perceraian. Sedangkan ketiga tentang kedokteran dan pengetahuan modern. Semua fatwa Dr. Ali dalam buku ini tidak hanya bermanfaat dan rekomendasi bagi orang-orang Mesir saja, tetapi umat Muslim secara umum, termasuk Indonesia. Selamat membaca!

16603012_10208250947016315_6136899272655596573_n

*dimuat di Majalah Keluarga Muslimah Auleea Edisi Februari 2017