Serba-Serbi Penulis Cilik Karya Joko Susanto

Membongkar Rahasia Menjadi Penulis Cilik

cover-serba-serbi-penulis-cilik2

Judul                            : Serba-Serbi Penulis Cilik

Penulis                          : Joko Susanto

Editor                           : Hariyadi

Penerbit                       : Tiga Ananda, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2016

Jumlah Halaman          : 136 halaman

ISBN                           :  978-602-366-234-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Muhammadiyah Bondowoso

“Latihan menjadikan bakat lebih sempurna. Saat hal itu datang sebagai bagian dari hidup Anda, Anda harus mencintainya. Jika tidak, Anda tidak akan dapat bekerja dengan baik dan meraih yang terbaik,” Dr. Anders Ericsson berkata dalam buku Cambridge Handbook of Expertise and Expert Performance. Dia meyakini bahwa semua keahlian, contohnya ahli komputer itu dilatih dan dicetak, bukan dilahirkan (halaman 20).

Begitu juga dalam menulis, bakat bukanlah satu-satunya modal untuk mencapainya. Tetapi, yang lebih dibutuhkan adalah kesungguhan dalam latihan, yaitu membaca dan menulis. Adalah Joko Santoso, seorang penulis yang kemudian mampu mencetak ketiga anaknya menjadi anak yang suka membaca juga menulis. Tidak hanya suka, ketiga anaknya pun mampu menghasilkan karya dalam bentuk buku dan mereka pun disebut penulis cilik.

Penulis cilik itu titik maksimal berada di umur 12 atau 13 tahun. Setiap penerbit memiliki peraturan yang berbeda, jika sudah lebih dari itu maka penulis tersebut telah disebut penulis remaja atau bahkan penulis dewasa (halaman 8). Dalam buku terbarunya Serba-Serbi Penulis Cilik, Joko Susanto mengatakan bahwa menjadi penulis itu memiliki dua manfaat, manfaat nonmateri dan materi.

Manfaat nonmateri di antaranya adalah setelah menulis mendapatkan kepuasan tertentu, lega karena telah menuangkan ide, gagasan dan harapan. Selain itu, dengan menulis menjadi sarana berbagi kebaikan yang dituangkan dalam tulisan kepada pembaca. Dengan begitu, maka menulis pun termasuk menebarkan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan manfaat materinya adalah, pertama, penulis akan mendapatkan honor atau imbalan atas karya yang telah dibuat. Selain itu, kalau laris dan beruntung nanti buku bisa difilmkan atau diterjemahkan, maka keuntungannya bertambah (halaman 9).

Nah, dengan berkembang pesatnya dunia kepenulisan bagi penulis cilik, mungkin ada anak-anak yang ingin menjadi penulis, tetapi khawatir tidak bisa bersaing dengan penulis cilik senior. Maka, Joko memotivasi pembaca, bahwa sebenarnya dunia ide tidak akan habis, karena itu bisa jadi redaksi sedang menunggu naskah terbaik yang unik dan beda. Sehingga, jangan sampai ada kata menyerah dalam menulis (halaman 11).

Dalam buku ini, setidaknya Joko membocorkan beberapa rahasia menjadi penulis cilik. Pertama, membaca karya penulis lain (halaman 25). Membaca dan menulis, kata Hernowo Hasyim bagaikan suami dan istri, sehingga tidak bisa dipisahkan. Karenanya, jika ada anak yang ingin menjadi penulis maka kedua ini perlu dilakukan. Dengan membaca karya penulis lain, anak-anak diharapkan tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memperhatikan bagaimana cara membuat judul yang menarik, membuat tokoh yang memberi kesan bagi pembaca dan sebagainya (halaman 98).

Setelah membaca, maka yang tentu saja, jika ingin menjadi penulis, maka harus latihan menulis. Joko memberikan arahan jika ingin mencari tahu tema yang disukai oleh penerbit dan pembaca, cobalah jalan-jalan ke toko buku dan lihatlah buku-buku yang telah menjadi best seller. Coba ambil beberapa, dan baca sinopsis dan perhatikan temanya.

Nah, setelah itu coba latihan menulis dengan menggunakan teori ATM. Teori ini adalah amati-tiru-modifikasi. Dengan tema yang sama dengan buku best seller, coba menulis dengan gaya, bahasa, dan alur sesuai kemampuan. Dengan begitu, latihan menulis insya Allah akan ada bekasnya (halaman 34).

Selain itu, Joko juga menyarankan agar menulis menjadi mudah yaitu cari yang dekat dengan benak penulis, perihal kehidupan di sekolah, keluarga, dan lingkungan. Jangan mencari yang sulit-sulit. Namun, jika termasuk orang yang mudah dalam mengkhayal, maka tak apa memberdayakan khalayannya. Saran lainnya, adalah mencari tempat dan suasana yang nyaman ketika menulis. Jika, di kamar menulis lebih lancar, maka menulislah di kamar, atau jika menulis di alam luar menjadi lancar, maka menulislah di luar rumah.

Sebagai orangtua yang berhasil mencetak tiga anaknya menjadi penulis, dalam bukun ini dia membongkar bahwa orangtua boleh membantu anaknya dalam proses menulis. Misal, diskusi soal nama yang pas untuk nama tokoh yang diciptakan oleh anaknya. Orangtua juga sebaiknya mengarahkan akan dikirim ke mana karya anaknya, dan mengarsip karya anaknya. Selain itu Joko, pernah membantu anaknya untuk mengirim karyanya melalui Pos (halaman 91).

Dengan begitu, tak pelak buku ini akan sangat membantu jika dibaca oleh anak-anak yang memiliki impian menjadi penulis sejak kecil. Buku yang ditulis dengan menyantumkan beberapa pertanyaan yang mungkin atau bahkan sering ditanyakan oleh calon penulis cilik, kemudian oleh penulis dijawab dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 5 Februari 2017

Iklan