Gila Baca Ala Ulama karya Ali bin Muhammad Al-‘Imran

IMG_20171120_163328.jpg

Saya bersyukur sejak kecil sudah mengenal majalah dan buku. Dari itu, saya terbiasa membaca. Hingga akhirnya, kalau nggak membaca jadi jadi nggak enak.

Dari membaca buku juga akhirnya, tumbuh rasa ingin mencoba menulis.

Saking nggak enaknya, kalau lagi diam kalau nggak membaca, saya biasa membawa buku ke mana-mana. Bepergian ke luar kota, mengantarkan orangtua ke tempat keperluannya, foto kopi, intinya ke mana-mana bawa buku, dan bahkan saya sempat membawa buku non agama, maaf ke wc ketika BAB.

Ada banyak memang yang sangat addict membaca sampai-sampai di WC juga membaca buku, ya saya salah satunya. Pasti tahukan ada foto WC (kayaknya bukan di Indonesia), yang di dalamnya ada rak bukunya.

Ya, saya sempat pernah membaca buku ketika BAB. Itu berarti sekarang sudah tidak. Saya lupa, kapan terakhir kali membaca buku saat BAB. Intinya saya kok merasa kurang etis saja, ketika BAB sambil baca buku meski buku yang dibaca itu adalah novel.

Kemudian ada kisah ulama gila baca zaman dulu yang tertera dalam buku yang saya baca beberapa pekan lalu yang berjudul Gila Baca Ala Ulama, bagaimana menyiasati ingin memanfaatkan waktu dengan sangat baik untuk membaca. Ketika BAB, akhirnya dia menyuruh anaknya untuk membacakan sebuah buku dari luar WC, dan dia di dalam WC mendengarkan apa yang anaknya baca.

Sebenarnya, saya ingin mengikuti jejak kisah ini. Tapi, istri saja belum punya, apalagi anak? #lhocurcol hehe mau minta tolong saudara atau orangtua kan nggak enak.

Ulama yang meminta anaknya untuk membacakan buku di luar WC saat BAB adalah Abul Barakat. Abul Barakat adalah kakek dari Ibnu Taimiyah. Kisah ini bisa dibaca juga dalam buku Raudhah al-Muhibbin karya murid Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Membaca buku Gila Baca ala Ulama karya Ali bin Muhammad al-‘Imran menurut saya akan membuat kita menjadi semangat membaca. Lantaran malu juga termotivasi oleh semangat yang membara dari para Ulama dalam membaca.

Perkataan Ibnu Al-Jauzi dalam masterpiecenya yaitu Shaid Al-Khatir ini layak kita simak, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah An-Nidhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir dan terakhir Abu Muhammad bin Khassyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Sampai sekarang aku terus mencari ilmu.” (halaman 76)

Ketika orang bertanya, bagaimana caranya agar suka membaca? Maka saya beri jawaban sesuai pengalaman saya, “Cobalah merasa tidak tahu. Merasa bodoh. Tumbuhkan rasa penasaran. Insya Allah, dengan begitu ketika melihat buku yang belum dibaca maka akan tergerak untuk membacanya.”

Itulah pengalaman saya sejak dulu. Namun mungkin kurang mengena karena siapalah saya, maka alangkah baiknya kita renungkan bersama nasihat Al-Mawardi kepada muridnya dalam buku Adab Ad-Dunya Wa Ad-Din, “Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah engkau ketahui. Sebab, perasaan puas seperti itu menunjukkan kurangnya perhatian terhadap ilmu. Kurangnya perhatian terhadap ilmu akan mendorong seseorang meninggalkan ilmu. Apabila seseorang meninggalkan ilmu, maka dia pun akan menjadi bodoh.” (halaman 40)

Maka, ketika kita sudah memulai untuk membiasakan membaca, maka cobalah untuk mempraktikkan apa yang pernah dikatakan Ibnu al-Jauzi masih di buku Masterpiece-nya, Shaid al-Khatir. “Sebaiknya kamu mempunyai tempat yang khusus di rumahmu untuk menyendiri. Di sana kamu bisa membaca lembaran-lembaran bukumu, dan menikmati indahnya petualangan pikiranmu.”

Semoga ada manfaat, selamat membaca!

Silakan bergabung ke channel telegram Buka Buku Buka Dunia untuk mendapat info buku, review buku dan quoteshttp://bit.ly/bukabukubukadunia

Iklan