Psikologi Pengantin karya Sinta Yudisia

IMG_20171128_160507.jpg

Ketika adik kedua saya menikah, beberapa hari sebelum adik ketiga saya menikah, kebetulan saya membaca buku Psikologi Pernikahan karya Bunda Sinta Yudisia.

Saya sampai pada bab Orangtua, saudara dan keluarga. Ya, bab ini membahas tentang pernikahan tidak hanya tentang tentang sepasang pengantin, tetapi juga tentang orangtua, saudara dan keluarga dari pengantin pria dan wanita.

Dengan adanya pernikahan, maka sang pengantin akan terhubung dengan orangtua, saudara dan keluarga dari suami atau istrinya. Nah, adik kedua saya ini adalah seorang perempuan yang bekerja sebagai guru dan penjual offline dan online bibit dan perlengkapan hidroponik.

Dia tidak bisa mengendarai sepeda motor, jadi kalau antara saya, Ummi, atau adik saya yang mengantarkan dia ke bank, ke kantor kurir atau kadang ke sekolah dan tempat yang dia punya kepentingan ke sana.

Setelah pernikahan adik kedua saya ini, rasanya kok makjugjug alias nggak terasa. Kok ya tiba-tiba adik saya ini sudah bersuami, dan akhirnya ke mana-mana sering bersama dan diantar oleh suaminya.

Seperti bahasan Bunda Sinta, bahwa memang ketika sudah memasuki masa pernikahan, maka masing-masing saudara harus mulai belajar menyadari batas-batasnya. Saya mulai memahaminya.

Buku ini memang bagus, membahas seluk-beluk pernikahan dari sudut pandang psikologi dan Keislaman. Penulis pernah menjabat sebagai ketua umum Forum Lingkar Pena (FLP), organisasi kepenulisan dengan napas Keislaman. Selain itu penulis memang seorang psikolog. Jadi, buku ini memang ditulis oleh orang yang ahli dibidangnya.

Diawali dengan pembahasan memilih jodoh, soal karier, keluarga, Mahar, dan pernak-perni pernikahan dan biayanya. Kemudian dilanjutkan pembahasan yang mungkin masih dianggap tabu, padahal hal ini menurut beberapa penelitian menjadi salah satu penyebab perceraian.

Apa itu? Tentang seksologi. Ya, jadi bagi yang sudah berumur dan akan menikah, maka pembahasan ini bukanlah hal yang tabu. Bisa dikatakan penting.

Pembahasan lainnya adalah soal, antara tinggal di rumah mertua atau rumah sendiri (ngontrak), juga membahas tentang bagaimana merawat honeymon. Bagaimana mengatur keuangan, dan juga tentang menyikapi konflik.

Dalam menyikapi konflik ini, cukup banyak yang dijabarkan oleh Bunda Sinta sebagai psikolog. Bunda Sinta mengatakan, “Suami atau istri adalah stabilitator bagi yang lain.” (halaman 180)

Ketika salah satu sedang ‘panas’, maka tugas yang lain adalah mendinginkan. Bukan malah tambah menjadikan rumit.

Maka, memang buku ini sangat cocok menjadi kado bagi muslim atau muslimah yang belum menikah padahal sudah saatnya menikah. Atau juga bisa juga kado bagi diri sendiri untuk menyiapkan pernikahan, atau juga boleh dibaca oleh yang telah memiliki pasangan yang sah.

Jadi, jangan tanya saya “Sudah membaca buku Bunda Sinta kan? Jadi, kapan?” Doakan saja begink, “Semoga segera Allah temukan Ridho dengan jodoh dunia akhiratnya.” ☺️

Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia http://bit.ly/bukabukubukadunia

Semoga bermanfaat 🙏🙂

Iklan