Antrean Ke Surga Karya Satria Nova

cover antrean ke surga

Agar Hidup Menjadi Berkah

Judul                            : Antrean Ke Surga

Penulis                          : Satria Nova

Editor                           : Abu Mumtaza

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, November 2016

Jumlah Halaman          : 284 halaman

ISBN                           :  978-602-418-080-5

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Dalam kehidupan, banyak manusia yang mendambakan kesuksesan dan kebahagiaan. Namun, seringkali hanya keinginan yang duniawi saja, dan lupa akan kesuksesan dan kebahagiaan di hari pembalasan. Kebahagiaan yang tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat bisa didapat ketika hidup dalam senantiasa dalam keberkahan.

Keberkahan menurut Taufiq Ali Zabady dalam bukunya yang berjudul Buku Saku Rahasia Keberkahan, berarti kebaikan yang terus bertambah, bertambah dan bertambah. Hidup yang berkah, adalah hidup yang di dalamnya ada keamanan, ketenangan dan ketentraman. Allah mengaruniakan sakinah dalam keluarga, selalu merasa cukup atas rezeki yang didapatkannya dan lainnya. Tak kalah penting, nantinya akan masuk surga.

Dalam buku Antrean Ke Surga karya terbaru Satria Nova ini, diuraikan bagaimana cara agar hidup menjadi berkah. Pertama bisa dimulai dengan mengilmui hidup. Hidup itu perlu ilmu. Bekerja bukan sekadar bekerja. Makan tidak sekadar makan. Juga beribadah tidak sekadar beribadah.

Jika hidup tanpa ilmu, maka yang terjadi adalah kesamaran antara benar dan salah. Maka, adanya ilmu sebagai penerang jalan kehidupan sehingga menjadi terang dengan kebenaran. Namun, ilmu saja tidak cukup, namun juga harus diamalkan. Ilmu yang bermanfaat itu jika akhirnya adalah kita mendapat kebenaran dan semakin dekat dengan Allah (halaman 108). Jadi, keduanya ini sangat erat hubungannya. Tidak bisa hidup tanpa ilmu, ilmu pun tidak sekadar diketahui tetapi juga diamalkan.

Sekadar mendapat ilmu dan kebenaran pun tidaklah cukup, perlu kesabaran yang ekstra agar selalu teguh dalam kebenaran (halaman 20). Istiqamah demikian istilahnya, dan ini tidak mudah. Mari kita perhatikan doa dalam surat al-Fatihah yang minimal dibaca sebanyak 17 kali dalam sehari oleh setiap Muslim dalam shalat wajib. Ada doa yang meminta kepada Allah agar ditunjukkan kepada kita jalan yang lurus dan istiqamah di dalamnya.

Namun, ternyata jalan yang lurus itu tidaklah mudah, karena jalan yang lurus adalah jalan hidupnya orang-orang beriman yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an. Yaitu jalan para Nabi, Adam dan Hawa, Nuh, Musa, Ayyub, Yunus, Yusuf, Ibrahim, Ismail, Isa dan Muhammad. Bagaimana kehidupan mereka?

Adam dan Hawa harus diuji dengan tidak kuasa menahan godaan jin, turun ke bumi dan berpisah, serta keturunan mereka yang saling bunuh. Hidup Nuh berat dengan membuat kapal yang sangat besar, agar bisa meninggalkan umatnya yang ingkar dan anaknya mati dalam keadaan tenggelam karena air bah. Nabi Ayyub menderita penyakit kronis. Ibrahim dan Ismail harus sabar menjalani perintah menyembelih dan disembelih. Muhammad harus bersabar dan teguh mendapati cacian, lemparan kotoran dan batu ketika dia berdakwah (halaman 51).

Maka, jika kita senantiasa bersabar, maka Insya Allah hal kebenaran akan bisa terus dijaga. Sehingga, bisa terus semangat dalam mengaji Al-Qur’an, semangat dalam berbagi dan bersedekah, dan semangat lainnya yang tetap dalam koridor hidup yang positif.

Selain itu diperlukan kegigihan untuk mengedepankan Allah dalam segala hal. Seperti kata Ustadz Yusuf Mansur, “Allah lagi dulu, Allah lagi, dan Allah terus.”  Salah satunya yaitu dengan cara shalatlah tepat waktu. Seperti yang pernah dialami oleh Arief Budiman CEO Petakumpet Advertising di Jogja.

Suatu ketika dia akan bertemu dengan tiga klien penting di Jakarta dengan jadwal yang berbeda hari. Saat itu isi dompet dia sungguh tipis. Dia bingung bukan main. Akhirnya, ada seorang kawan yang menyarankan kepada dia, agar semakin dekat dengan Allah dengan cara membereskan jadwal shalat yang biasanya dia lakukan secara serampangan.

Awalnya, Arief berpikir apa hubungannya? Namun, dia pun coba melakukan shalat awal waktu dan berjamaah. Singkat cerita, beberapa hari setelahnya, kabar baik datang. Tiga klien akhirnya mengubah jadwal, dan ternyata jadwalnya menjadi satu hari yang sama dalam jam yang berbeda. Dia kaget bukan kepalang, sekaligus sujud syukur karena persoalannya diberi solusi oleh Allah.

Ada banyak kisah nyata tentang mendapatkan keberkahan karena memprioritaskan Allah dalam segala hal. Dan buku ini, membeberkan bagaimana ada keberkahan dalam pekerjaan, keberkahan dalam rumah tangga dan keluarga dan juga keberkahan dalam keseharian. Narasi yang sederhana tapi mengena, pendek tapi terasa insiprasinya. Rekomendasi bagi kaum muda, selamat membaca!

*dimuat di Jateng Pos 19 Maret 2017

Iklan