Patah Hati di Tanah Suci Karya Tasaro GK

cover patah hati di tanah suci.jpg

Memungut Hikmah di Tanah Suci

Judul                            : Patah Hati di Tanah Suci

Penulis                          : Tasaro GK

Editor                           : Iqbal Dawami & Nurjannah Intan

Penerbit                       : Penerbit Bentang

Tahun Terbit                : Pertama, Juli 2018

Jumlah Halaman          : 332 halaman

ISBN                           :  978-602-291-411-2

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Ziarah ke tanah suci, menjadi impian semua Muslim. Jika tidak haji, paling tidak ziarah ke tanah suci dalam rangka umrah. Apalagi bagi seorang penulis buku tentang Nabi Muhammad dan didahului karyanya yang sampai ke tanah suci, sungguh itu membuat sang penulis terharu sekaligus ingin segera menjejakkan kaki di tanah suci.

Dialah Tasaro GK, penulis buku tetralogi Muhammad. Dengan meyakini bahwa tidak cukup hanya keinginan saja, tetapi juga usaha untuk bisa berziarah ke tanah suci. Hingga dengan berbagai ‘keajaiban’, Tasaro pun berangkat ke Makkah dan Madinah, bahkan lebih awal dari target waktu yang diinginkan.

Sebagai penulis, tentu saja Tasaro tidak sekadar umrah dan melewatkannya menjadi sebuah tulisan. Karenanya, dia pun memungut hikmah dari perjalanan ziarahnya, baik yang dialami sendiri oleh orang lain, kemudian diceritakan kepada pembaca dalam sebuah buku yang berjudul Patah Hati di Tanah Suci.

Sebelumnya perjalanannya Tasaro merasa belum siap mental dan khawatir atas dua hal. Pertama tentang kebanyakan cerita bahwa setiap peziarah akan dibalas kontan atas apa yang telah dilakukan. Namun, akhirnya dia mendapatkan pencerahan bahwa mendapat keburukan apapun di tanah suci, jika itu membuat seseorang menemukan momentum spritualnya, masih jauh lebih bagus dibanding sebaliknya (halaman 51).

Kekhawatiran kedua tentang istri dan anak yang akan dia tinggalkan. Tasaro khawatir, nanti istri akan kehabisan uang dan anak-anaknya tidak bisa makan. Hingga Tasaro mendapat pencerahan, bahwa Allah-lah yang akan menjaga istri dan anaknya dengan sebaik-baik penjagaan (halaman 57).

Ketika sampai di tanah suci tepatnya diawali di Madinah Al-Munawwarah, Tasaro mendapatkan momentum spritualnya di dekat makam Nabi Muhammad yang sangat dia cinta. Awalnya, dia risih dengan perilaku peziarah lain yang menurut dia sangat tidak etis asyik berswafoto di depan makam Nabi. Hingga akhirnya dia bisa fokus akan dirinya sendiri dengan shalat, dan doa dengan doa-doa yang dititipkan oleh para pembaca buku tetralogi Muhammad di grup whatsapp Keluarga Tjinta.

Saat itulah Tasaro bisa menangis dan merasa bersyukur karena mampu dan diberi kesempatan ke tanah suci dengan cukup mudah, ketika masih banyak saudara Muslim lainnya harus bekerja keras untuk bisa berziarah ke tanah suci. Tasaro juga mendapati bahwa terpampang  jelas di tanah suci jelas sekali persaudaraan sesama Muslim, tanpa memandang perbedaan suku, ras, madzhab dan lainnya. Tasaro pun mendapat kemudahan untuk bangun shalat, dengan suara-suara anak kecil yang entah siapa, dan ketika dicari tidak ditemukan.

Ketika sampai di Mekah, Tasaro malah gelisah takut tidak akan mendapatkan momentum spritual seperti berada di Masjid Nabawi. Mekah sangat berbeda, dikelilingi bangunan waralaba yang menurut Tasaro mengganggu. Sehingga dia pun berdoa kepada Allah, agar dilunakkan hatinya dan bisa menangis ketika melihat Kakbah.

Suatu ketika Tasaro sedang menuju Masjid dan bertemu dengan ibu muda dan seorang nenek. Tasaro mempercepat langkah dan membersamai nenek tersebut dan ibu muda kembali kepada ibunya. Nenek itu ingin melihat Kakbah, lalu Tasaro pun mengantarkan. Hingga kemudian mereka berdua ngobrol, ternyata nenek agar ziarah umrah dengan dana 27 juta. Yang lebih mencengangkan, ternyata nenek tersebut sangat niat dan mengupayakan dengan kuat untuk bisa berziarah ke tanah suci dengan berjualan kacang rebus dan pisang di pasar Cirebon saat dini hari (halaman 179).

Tasaro membuat dua pantangan yang tidak boleh dia lakukan. Pertama memberi uang kepada wanita bercadar yang mengemis. Kedua, membayar jasa mencium hajar aswad. Entah kenapa malah dua pantangan tersebut harus dilanggar. Seperti memang itulah ketentuan Allah agar bisa bersedekah dengan ikhlas tanpa melihat siapa yang diberi dan ketentuan Allah memberikan kesempatan kepada Tasaro untuk mencium hajar aswad.

Tasaro pun sempat memerhatikan bapak yang ingin anaknya yang masih kecil juga bisa menikmati berada di tanah suci dengan mengajaknya bercerita, meski anaknya kadang tidak memperhatikan. Ada seorang pemuda yang menjaga saudara atau temannya yang cacat sehingga harus memakai kursi roda. Ada yang menggendong orangtuanya, dan sebagainya. Pengalaman yang berhikmah tiada tara. Dengan demikian buku ini sangat inspiratif dan layak dibaca oleh banyak kaum Muslim. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 30 September 2018

**Ingin memesan buku? Ke Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085335436775
gabung juga di grup
 di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia 

Iklan