30 Paspor Di Kelas Profesor (Buku 2) Karya J.S. Khairen

cover-30-paspor-di-kelas-profesor-2

Dari Dara Menjadi Rajawali

Judul                            : 30 Paspor Di Kelas Profesor (Buku 2)

Penulis                          : J.S. Khairen

Editor                           : HP Melati, Hermawan Aksan

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : November 2014

Jumlah Halaman          : 324 halaman

ISBN                           :  978-602-1306-74-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SMPN 2 Tamanan

Dulu kala, pada abad ketujuh seorang pelaut yang gigih dan semangat untuk menjelajah dunia mengirim proposal kepada raja Portugis. Namun proposalnya ditolak, dan kemudian mengirim proposal kepada raja Inggris. Meski ditolak juga, namun pelaut tangguh ini tidak putus asa, dia kemudian mengirim proposal kepada raja Spanyol dan akhirnya proposalnya diterima

Dia pun bisa mewujudkan keinginannya untuk berlayar ke tanah subur yang berada di timur jauh di sana. Setelah berbulan-bulan, sampailah dia di suatu daratan. Dia mengira telah sampai di tempat yang dituju. “India! Kita telah mendarat di India!” serunya. Dialah Christoper Columbus.

Namun, ternyata dia salah sangka. Dia mendarat di sebuah daratan yang bernama Amerika. Kembali ke Spanyol, banyak pelaut lain menyalahkannya karena tidak mengambil rute yang biasa dipakai oleh pelaut lain. Biasanya mereka ke pantai barat Afrika terus ke selatan hingga sampai ke Tanjung Harapan yang lebih dekat dengan India.

Meski begitu, Columbus tidak dihukum oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabel, malah dia diberi penghargaan oleh keduanya. Bahkan justru dunia mencatat menganggap Columbus sebagai penemu benua Amerika. Columbus pun  memiliki filsafat, “Kalau saya tak pernah mau kesasar, kalian tak akan pernah menemukan jalan baru.”

Filsafat inilah yang kemudian diambil oleh Profesor Renald Kasali, dan diaplikasikan dalam mata kuliah yang dia ajar yaitu pemasaran internasional (pemintal) di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Renald memberi tugas istimewa kepada para mahasiswanya. Dalam pertemuan pertama mereka harus membuat paspor dan selesai di pertemuan berikutnya.

Kemudian setelah paspor selesai, mereka harus terbang ke negara yang bisa dipilih terserah mereka, asal mereka tidak memilih negara serumpun atau memiliki bahasa, adat dan budaya yang mirip dengan Indonesia. Dengan tugas ini, Renald ingin tidak sekedar mengajarkan isi buku kepada mahasiswanya, tetapi ingin mereka langsung turun aksi dan mengalami.

Dengan tugas ini, Renald berharap mahasiswanya bisa berubah, dari dara menjadi rajawali. Karena, menurut Renald bila mengajar secara konvesional, mahasiswa hanya akan menjadi dara, sedangkan dengan terbang ke luar negeri mereka bisa menjadi rajawali. Akan banyak pengalaman yang mereka lalui, dari suka duka, kesulitan, memahami orang lain dan budaya luar, serta akan memahami diri sendiri. Namun, ternyata tidak mudah juga ide ini agar dipahami oleh dosen dan wali mahasiswa, namun akhirnya semuanya pun bisa memahami dan mendukung tugas dari Prof. Renald kepada para mahasiswanya.

Hal ini juga sejalan dengan teori Renald, dengan terbang ke luar negeri maka mahasiswa akan menjadi driver, tidak sekadar passenger. Kisah-kisah mahasiswa Renald ini tergabung dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor karya J.S. Khairen. Para mahasiswa tidak hanya memilih negara-negara Asia saja, tetapi juga ada yang terbang ke negara-negara di Eropa.

Nadhila Fildza yang memilih melakukan tugas perjalanan ke luar negeri ke negeri ginseng, Korea Selatan. Dia membeli tiket pesawat ke Seoul melalui jasa agen travel ketika ada pameran travel di JCC Senayan. Namun, ternyata ada kesalahan penulisan nama di sana. Belum berangkat saja dia sudah harus pusing dan bingung. Kemudian, dibantu bapaknya untuk mengurus perubahan kesalahan nama di tiket, dan ternyata masih ada kesalahan lagi. Namun, pihak agen meyakinkan dia, bahwa tiketnya bisa dipakai, dan dia tenang saja (halaman 220). Akhirnya, dia pun bisa berangkat ke Korea.

Beda kisah Ronabol Surya yang berkunjung ke Eropa. Setiap melihat foto kakak kelas yang jalan-jalan ke Eropa dia selalu pengin dan iri. Akhirnya, bisa tercapai ketika dia mengikuti kelas Pemintal. Awalnya, dia juga tidak mudah untuk sampai ke Eropa. Di awal mata kuliah dia sakit. Setelah UTS dia baru bisa berangkat ke Eropa, itu pun dengan beberapa kali meyakinkan orangtuanya bahwa dia bisa berangkat sendiri. Dia pun merasakan suka, duka di Eropa. Termasuk dia sampai ke stadion klub sepakbola favoritnya, Ac Milan (halaman 288).

Layaklah ide Prof. Renald diapresiasi, dan buku ini direkomendasikan kepada anak muda Indonesia. Selain menghibur, semoga juga membuka wawasan dan keberanian untuk maju. Selamat membaca!

 

Iklan