Habibie Ya Nour el Ain Karya Maya Lestari GF

cover habibie

Kisah Indah Cinta Yang Terjaga

Judul                            : Habibie Ya Nour el Ain

Penulis                          : Maya Lestari GF

Editor                           : Irfan Hidayatullah, Irawati Subrata

Penerbit                       : Dar! Mizan

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2016

Jumlah Halaman          : 240 halaman

ISBN                           :  978-602-420-298-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Cinta sebelum pernikahan itu sia-sia. Cinta sejati dimulai setelah akad diucapkan. Cinta sejati seorang perempuan hanya boleh diberikan pada seorang yang mau dan sanggup berkomitmen. Cinta bukan sekadar perasaan, tapi tanggung jawab (halaman 201).

Cinta. Kisahnya memang tiada akhirnya. Akan selalu ada kisah-kisah cinta yang terukir, tersiar, dan tertulis dalam berbagai bentuk tulisan. Seperti kisah dalam novel yang berjudul Habibie Ya Nour el Ain karya Maya Lestari GF ini.

Novel ini berlatar sebuah pesantren yang bernama Nurul Ilmi. Adalah Nilam, Putri Sang Kiai atau yang biasa dipanggil Abuya memiliki teman yang bernama Yana. Meski berbeda kepribadian, mereka bisa menjadi akrab. Mungkin itulah makna saling melengkapi. Nilam adalah anak yang cenderung pendiam, suka membaca buku dan juga menulis.

Sedangkan Yana adalah kebalikannya, Yana cerewet, mudah bergaul, tidak suka menulis dan suaranya merdu. Menurut Nilam, karena suara Yana sudah merdu, maka mungkin tidak perlulah dia harus suka menulis seperti Nilam. Sedangkan  Nilam, yang memang tidak suka berbicara dan cenderung gugup jika berbicara kepada banyak orang maka menulis bisa menjadi kelebihannya.

Nilam yang biasanya tidak begitu peduli dengan santri putra, namun kini berbeda. Dia menjadi peduli kepada satu orang, bukan santri sebenarnya. Dia hanya anak SMA yang oleh gurunya dianggap nakal dan suka melawan, akhirnya atas saran Abuya, Barra Sadewa pun dimondokkan di Nurul Ilmi selama dua minggu.

Saat itu Nilam sedang membaca novel di bawah pohon mahoni-nya. Ya, pohon mahoni yang ada di dekat gerbang putri di Nurul Ilmi itu sudah seperti milik Nilam. Karena yang biasa berada di bawah pohon mahoni itu hanya Nilam. Kemudian datanglah Barra Sadewa di Nurul Ilmi untuk pertama kalinya.

Tanpa basa-basi dia yang melihat Nilam langsung mendekati dan bertanya tentang di mana letak kantor pendaftaran. Nilam hanya menunjuk ke bagian timur pesantren dan Barra yang juga bingung akhirnya mengerti bahwa dia salah masuk. Saat itu dia berada di pesantren putri, sesuai terpasang yang ada di depan kantor.

Dan Barra bertanya lagi apakah di sini pesantren putranya? Nilam hanya menggeleng. Kemudian, Barra langsung berbalik arah dan kemudian berhenti dan berbalik lagi ke arah Nilam. Namun, Barra ragu dan langsung balik lagi keluar dari gerbang putri (halaman 27). Mungkin, karena pertemuan pertama Nilam dan Barra, cukup memberi kesan inilah akhirnya Nilam menjadi peduli kepada santri putra, Barra lebih tepatnya.

“Cinta adalah sesuatu yang berada di luar dimensi manusia. Ia tidak berada dalam rencana-rencana atau cita-cita. Tidak punya ruang dan waktu. Cinta diciptakan dengan dimensi dan logikanya sendiri. Dan cinta diciptakan Tuhan untuk masuk ke alam manusia dengan cara yang tidak mampu kita pahami (halaman 11).”

Nilam benar-benar tidak memahami bahwa apa yang dia rasakan adalah cinta atau bukan. Suatu ketika Nilam dan Barra bertemu di perpustakaan pondok. Ternyata Barra juga cukup senang membaca dan menulis. Barra juga mencoba mengikuti kelas menulis yang dimentori oleh redaksi di Harian Singgalang. Hingga Barra meminta tolong kepada Nilam untuk menerjemahkan lagu Amr Diab yang berjudul Habibie Ya Nour el Ain yang sering diputar di perpustakaan pesantren oleh Ustadz atau Ustadzah yang bertugas di sana.

Sejak pertemuan itu dia pun membuat surat yang dia tujukan kepada Barra. Tentang apa yang dia rasakan, tentang apa yang dibicarakan banyak orang tentang Barra, dan bagaimana kisah yang pernah Abuya ceritakan tentang Barra.

Ternyata, tidak hanya Nilam yang merasakan yang mungkin bernama cinta tersebut, Barra juga merasakan dan bahkan Barra juga menulis surat semacam surat yang dibuat oleh Nilam kepadanya. Meski memang kenyataannya, surat yang dibuat Nilam dan Barra hanya tersimpan dan tidak dibaca oleh siapa yang dituju.

Akhirnya, saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh penyanyi, Indah Nevertari dalam endorsment-nya untuk novel ini, “Aku suka romantisme di pesantren yang malu-malu, gugup, dan menjaga kultur islami. Manis sekali.”

Novel Uni Maya-begitu penulis sering dipanggil- ini, tidak sekadar kisah roman yang menghibur tetapi ada banyak nilai di dalamnya. Seperti, tentang pendidikan dan parenting yang harus menyentuh hati anak-anak, bukan dengan cara menghukumi dan mencap atau bahkan kekerasan. Rekomendasi banget. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 7 Mei 2017

Iklan