Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye

Cover Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah

Kegigihan Hidup dan Pesona Sungai Kapuas Dalam Novel

Judul                             : Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah

Penulis               : Tere Liye

Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                 : Oktober 2016

Jumlah Halaman            : 512 halaman

ISBN                           :  978-602-03-3161-4

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis di SMPN 2 Tamanan Bondowoso

“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gilau kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan (halaman 430).”

Perasaan cinta membuat orang yang merasakannya terkadang menjadi aneh, tidak seperti biasanya. Terkadang tidak rasional, dan melakukan berbagai hal sembarangan, asalkan dia  mendapatkan apa yang dia inginkan, atau asalkan dia mampu membahagiakan orang yang dicintainya. Meski harus melanggar adat, norma dan aturan sosial juga agama.

Adalah Borno, lelaki yang lahir dengan nama Borneo  di pinggiran sungai Kapuas di Kalimantan. Ketika umur 10 tahun ayahnya yang seorang pengemudi perahu motor atau sepit meninggal karena digigit oleh ubur-ubur. Kemudian 10 tahun kemudian, selepas lulus SMA Borno langsung bekerja. Dia berkali-kali pindah bekerja.

Pertama kali bekerja di pabrik karet, awalnya dia tidak kuat menjadi pekerja di sana karena baunya menyengat dan banyak tidak enak. Hingga dia kemudian terbiasa dengan semua itu dan mulai nyaman bekerja di pabrik karet. Namun, sayangnya dia harus berhenti atau lebih tepatnya diberhentikan oleh pihak pabrik.

Dia pun menjadi penjaga loket kapal feri, dia merasa nyaman bekerja di sana. Sayangnya, setelah dia tahu bahwa banyak kecurangan yang dilakukan oleh penjaga loket lain, dia menjadi kurang nyaman dan akhirnya mengundurkan diri. Lalu menjadi petugas di SPBU, namun karena petugas sebenarnya datang ke Kapuas lagi, akhirnya, dia meneruskan pekerjaan almarhum ayahnya, menjadi pengemudi sepit (halaman 59).

“Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas (halaman 49).

Awalnya dia ragu menjadi pengemudi sepit, karena almarhum bapaknya pernah mengatakan kepada Borno agar jangan menjadi pengemudi sepit. Namun, akhirnya Borno pun yakin menjadi pengemudi sepit adalah pekerjaan yang harus dia lakukan. Dia pun belajar mengemudi sepit kepada Pak Tua yang bernama Hidir, sahabat bapaknya. Meski harus diplonco oleh Bang Togar yang juga sahabat bapaknya sekaligus ketua persatuan pengemudi sepit, dia menjalaninya dengan baik, dengan hati lurus nan teguh.

Akhirnya, dia resmi menjadi pengemudi sepit. Dia sangat semangat dalam bekerja, karena dia juga ingin membantu ibunya. Tak dinyana, selain mendapatkan pekerjaan baru yang menyenangkan, ternyata karena menjadi pengemudi sepit Borno akan mendapatkan kisah haru biru hidupnya di masa datang.

Adalah Mei, gadis keturunan Cina yang bekerja sebagai guru. Suatu ketika dia menaiki sepit Borno. Ada sesuatu yang tertinggal ketika itu, sebuah amplop merah. Karena hal itulah Borno berusaha mencari Mei, untuk mengantarkan amplop merah yang tertinggal di sepitnya (halaman 87).

Akhirnya, bertemulah Borno dengan Mei. Namun, amplop merah urung dia kembalikan pada Mei. Ketika itu Borno melihat Mei sedang membagikan amplop merah berisi uang atau biasa disebut angpau kepada anak-anak di sekitar sungai Kapuas. Borno pun mengira bahwa amplop merah yang tertinggal di sepitnya adalah angpau juga.

Sejak pertemuan itu, Borno dan Mei menjadi lebih dekat. Perasaan aneh tumbuh di hati Borno. Karena selama ini Borno memang tidak pernah dekat dengan perempuan muda. Entah, apakah Mei juga merasakan apa yang dia rasakan. Dia berusaha menjadi bujang berhati lurus, tidak berperilaku sembarangan ketika berdua dengan seorang perempuan muda apalagi melecehkannya. Kecuali terpaksa dia memegang tangan Mei, ketika Mei kaget ketika belajar mengemudi sepit (halaman 117).

Tidak hanya kisah cinta yang tulus dari bujang berhati lurus, novel ini juga tentang kegigihan dalam menjalani hidup. Selain itu, juga pembaca seakan berwisata ke Sungai Kapuas yang cukup detail digambarkan oleh Tere Liye. Sebuah buku yang tidak hanya menarik namun penuh makna, tak pelak layak dikoleksi oleh Anda. Selamat membaca!