Memperbaiki Diri Sepenuh Hati Karya Robi Afrizan Saputra

Cover Memperbaiki Diri Sepenuh Hati

Agar Pribadi Menjadi Berarti

Judul                            : Memperbaiki Diri Sepenuh Hati

Penulis                          : Robi Afrizan Saputra

Editor                           : Cecep Hasanuddin

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2016

Jumlah Halaman          : 200 halaman

ISBN                           :  978-602-418-144-4

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Selain menggapai kesuksesan dunia, ada hal yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satunya adalah menjadi berarti atau bermanfaat bagi orang lain. Seorang anak ingin menjadi anak berarti bagi orangtuanya, seorang suami atau istri ingin menjadi seseorang yang berarti bagi pasangannya, di dalam kemasyarakatan sosial ingin menjadi orang yang mampu membantu dan menolong orang lain. Selain sekadar kepuasan, ada harapan agar nilai akhirat menjadi semakin baik, sebagai bentuk syukur diri dengan berbagi.

Memaknai kata bermanfaat itu berarti pula dengan kata memperbaiki diri. Robi Afrizan Saputra dalam bukunya yang berjudul Memperbaiki Diri Sepenuh Hati, berbicara mengenai ini. Jika ingin menjadi pribadi yang bermanfaat, maka menjadi pribadi yang baik adalah keniscayaan.

Bagaimana akan bermanfaat, jika mengatur waktu untuk diri sendiri saja tidak bisa, malam begadang mengobrolkan hal yang tidak bermanfaat tanpa ujung, hubungan bebas dan hamil di luar nikah dan perilaku negatif lainnya. Karenanya, jika ingin menjadi pribadi yang berarti, sejak dini harus memperbaiki diri. Meski masa lalu ada kelam dalam diri, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Bagaimana cara memperbaiki diri? Hal yang pertama Robi katakan dalam buku ini adalah niat. Tekad kuat dalam hati untuk berjuang, berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Mengakui dan menyadari bahwa selama ini banyak melakukan khilaf dan salah. Setalah itu berdoa kepada Allah, agar niat baik ini diridhoi dan dilapangkan jalan istiqomah. Juga meminta dukungan dan doa kepada orang terdekat, orangtua, saudara, kerabat dan orang baik agar tetap di jalan yang benar (halaman 14).

Jangan sampai keinginan untuk memperbaiki diri menjadi salah karena ternodai niat yang salah. Karena, harus diingat, setan tidak menginginkan manusia untuk menjadi hamba Allah yang taat. Jika ada manusia yang ingin menjadi orang yang lebih baik di mata Allah, tentu setan akan menggoda untuk menggagalkan atau bahkan membelokkan niat baiknya. Bisa saja kemudian niat memperbaiki diri karena ingin dipuji orang lain dan sebagainya. Hal ini perlu diingat, sebagai mawas diri agar tak terjerumus jebakan salah niat (halaman 21).

Selain itu mendekatkalah terus kepada Allah. Minta ampunlah kepada Allah. Sesuai sabda Nabi Robi berkata dalam buku ini, “Dekat dan mendekatlah kepada Allah. Jika kita mendekat kepada Allah sehasta, Allah akan mendekat kepada kita sedepa (halaman 23).” Hal ini harus diyakini, agar tidak mudah menyerah dalam memperbaiki diri meski godaan terus membayangi.

Bagaimana cara mendekat kepada Allah? Mendekat kepada Allah dengan cara melakukan apa yang diperintah dan menghindari apa yang dilarang. Beribadah kepada Allah, yang wajib mapun sunnah. Shalat lima waktu dengan berjama’ah (halaman 31). Melakukan sunnah shalat dhuha secara konsisten, mulai dari dua rakaat, dan jika istiqomah terus ditambah dua rakaat, hingga setiap hari melakukan shalat dhuha dua belas rakaat (halaman 39).

Selain itu juga melakukan sunnah shalat tahajud. Shalat ini bisa dilakukan dengan dua cara, bisa mengikuti gaya Umar bin Khattab Ra. yang kuat dengan tidur dulu dan bangun di tengah malam, atau mengikuti gaya Abu Bakar Ra. yang shalat tahajud setelah shalat isya langsung karena dia khawatir tidak bisa bangun di malam hari. Kedua gaya ini oleh Rasulullah dibolehkan, keduanya malah disanjung, yang tidak Rasulullah sanjung adalah orang yang tidak melakukan shalat tahajud. Nah, begitu mudahnya Islam (halaman 50).

Ikhtiar mendekat kepada Allah juga dilakukan dengan membaca kalam-Nya, tidak hanya dibaca tetapi dipahami, dihayati dan diamalkan dalam sehari-hari. Bayangkan saja, membaca satu huruf dalam Al-Qur’an saja sudah bernilai pahala. Apalagi jika membacanya sampai satu halaman atau bahkan satu juz dalam sehari. Belum lagi jika mengajarkan kepada orang lain, memahami dan mengamalkan. Insya Allah, Allah akan semakin cinta kepada kita (halaman 71).

Agar bisa lebih baik dan menjadi berarti, penulis asal Sumatera Barat ini juga menguraikan untuk bersahabat dengan orang lain, agar banyak membaca buku dan belajar dan sebagainya. Dengan narasi yang sederhana, Robi menulis buku ini dan masuk ke hati pembaca. Sangat mengena. Rekomendasi untuk dibaca banyak pemuda dan pemudi Muslim. Selamat membaca!
*dimuat di harian singgalang 30 April 2017

Iklan