Titip Rindu Ke Tanah Suci karya Aguk Irawan MN

cover titip rindu ke tanah suci.jpg

Kritik Pada Travel Umrah  Dalam Novel

Judul                            : Titip Rindu Ke Tanah Suci

Penulis                          : Aguk Irawan MN

Editor                           : Triana Rahmawati

Penerbit                       : Republika

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2017

Jumlah Halaman          : 366 halaman

ISBN                           :  978-602-0822-87-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

Satu persatu biro travel umrah yang mematok harga ‘murah’ menjadi tersangka penipuan. Belum selesai kasus first travel, sebagaimana berita di harian Pikiran Rakyat di bulan Januari biro SBL menipu dan gagal memberangkatkan 12.000 jamaahnya. Terbaru adalah penipuan yang dilakukan oleh Abu Tours.

Jika diperhatikan dari kasus-kasus ini seperti First Travel, Bosnya menjadi dan berperilaku hedonis dan bahagia dengan kekayaan haramnya. Padahal ada banyak jamaah yang sedih karena tertipu oleh mereka. Karena, sebagai umat Muslim tentu ada keinginan dan harapan bisa beribadah ke Tanah Suci. Dari semua yang tertipu, tentu tidak semua adalah orang kaya yang mampu beberapa kali untuk melaksanakan umrah, ada satu dua bahkan lebih yang harus menabung beberapa tahun lamanya agar mencapai dana yang dibutuhkan.

Hal ini mungkin tidak dipikirkan oleh Bos biro travel umrah penipu tersebut, yang mereka pikirkan hanya kesenangan pribadi saja tanpa memperhatikan kehalalannya. Hal seperti ini sepertinya jarang diangkat menjadi sebuah cerita dalam novel, dan Aguk Irawan MN pun menulis kisah yang mungkin terinspirasi dari perilaku buruk Bos biro travel umrah tersebut.

Adalah Mak Siti yang berasal dari Kebumen mengadu nasib ke Jakarta. Dia bersama suami Pak Khairul dan anaknya Intan tinggal bersama. Mak Siti berjualan nasi megono khas Kebumen di Stasiun Cakung dan dibantu Intan (halaman 5), sedangkan Pak Khairul menjadi penjual sayur keliling dengan membawa gerobak (halaman 19).

Ketika bapaknya pulang ke Kebumen untuk mengurus penjualan rumah yang di sana, berita sedih menimpa keluarga Mak Siti, suaminya menjadi korban kecelakaan (halaman 26). Intan pun tidak jadi melanjutkan studinya dan memilih membantu ibunya berjualan nasi megono. Di sana pula Intan bertemu dengan jodohnya, Zulkarnain pekerja di salah satu perusahaan di Bekasi yang sudah lama menjadi pelanggan setia Mak Siti (halaman 51).

Ada banyak konflik dalam novel ini, mulai dari konflik batin Rizal yang dulu menyukai Intan meski tidak pernah diungkapkan hingga dia bertaubat meninggalkan kebiasaan mabuk dan menjadi tukang pembersih sepatu dan menjadi muadzin juga guru ngaji di mushala. Tentang Zul yang menganggap Intan selingkuh dengan Rizal, padahal Zul sendiri yang selingkuh dengan teman sekantornya.  Masih banyak konflik menarik lainnya, tetapi yang mengiris hati adalah kisah Mak Siti yang belajar mengaji karena ingin berangkat haji.

Meski tidak bisa disamaratakan, ibu-ibu di gang dan kampung memang selalu suka ngobrol nggak jelas juntrungnya. Ngobrolin sinetron, ngobrolin kompetisi dangdut hingga ngobrolin tetangga alias ghibah. Aguk Irawan pun menjadikan kebiasaan ini menjadi cerita, yang harapannya menjadi cermin bagi pembaca agar tidak suka membicarakan orang lain.

Keinginan Mak Siti untuk berangkat haji dicibir, belum pergi ke Mekkah beberapa ibu-ibu dan diikuti oleh anak-anak gang pun memanggil Mak Siti dengan Bu Haji. Pelecehan yang menyakitkan ini tidak pernah dibalas oleh Mak Siti. Dia juga sabar, ketika orang-orang menganggap Rizal memang selingkuh dengan Intan, padahal Rizal datang ke rumah Mak Siti untuk mengajari Mak Siti membaca Al-Qur’an (halaman 133). Isu itu semakin panas, ketika diketahui bahwa Zul lama tak pulang ke rumah.

Mak Siti terus sabar dan terus belajar mengaji. Hingga dia membalas cercaan ibu-ibu tetangganya dengan kabar bahwa dia akan berangkat haji. Meski begitu, ibu-ibu yang sebenarnya dengki itu juga masih nggak percaya dan menganggap bahwa Mak Siti meminjam uang untuk berangkat haji. Padanya, nyatanya Mak Siti sudah sepuluh tahun menyisihkan hasil jualannya kadang tujuh ribu lima ratus, kadang sembilan ribu dan kadang sepuluh ribu dengan niat untuk dana menunaikan haji (halaman 245).

Setelah dihitung dibantu oleh Rizal dan teman-temannya, Ridho, Rodli, Rakhmat dan Samuel, ternyata uangnya sangat banyak dan cukup untuk berangkat haji. Kemudian diusahakanlah pendaftaran ke travel umrah dan haji yang bisa memberangkatkan Mak Siti segera, mengingat Mak Siti sudah sepuh. Akhirnya, setelah mencoba mencari info di beberapa biro travel, Zul menemukan biro travel yang bisa memberangkatkan dengan segera. Hal ini membahagiakan. Namun, ternyata ada kabar kalau pemilik biro travel adalah penipu dan banyak jamaah yang akan menunaikan haji gagal berangkat. Sungguh menyedihkan kan kisah Mak Siti?

Ya, buku setebal 366 halaman ini menarasikan fenomena sosial tentang ibu-ibu suka gosip dan dengki pada tetangga, juga membahas tentang kisah Joya yang tidak salah tetapi dibakar hidup-hidup karena dituduh mencuri ampli mushala. Dan yang utama, novel ini mengkritik pihak travel umrah yang membuat rugi para jamaah yang beragam kemampuan ekonominya juga membuat malu umat Islam Indonesia karena perilaku mereka yang tidak terpuji. Buku yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi inspirasi. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 22 April  2018

**Ingin memesan buku? Ke Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085335436775
gabung juga di grup
 di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia