Kisah Inspiratif Keluarga Penulis Karya Joko Susanto & Jamilatun Heni Marfu’ah

cover-kisah-inspiratif-keluarga-penulis

Mendulang Inspirasi Dari Keluarga Penulis

Judul                            : Kisah Inspiratif Keluarga Penulis

Penulis                          : Joko Susanto & Jamilatun Heni Marfu’ah

Editor                           : Ahmad Asrof Fitri

Penerbit                       : Real Books

Tahun Terbit                : Pertama, 2015

Jumlah Halaman          : 200 halaman

ISBN                           :  978-602-7701-82-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Ada yang beranggapan kemampuan menulis adalah bakat. Padahal faktanya tidak demikian, banyak penulis atau pengarang memiliki kemampuan menulis berkat kemauan untuk belajar dan berusaha. Begitu pula menulis juga tidak dapat diturunkan, banyak anak penulis yang anaknya tidak memiliki kemampuan menulis. Namun tidak sedikit pula anak penulis yang memiliki kemampuan menulis, itupun karena anak-anak mereka ada kemauan dan mau belajar.

Seperti  Abdurrahman Faiz, anak penulis Ketika Mas Gagah Pergi Helvy Tiana Rosa. Sejak kecil dia sudah memiliki kemampuan menulis, khususnya menulis puisi yang penuh makna. Bahkan, Faiz termasuk salah satu penulis awal KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang sampai saat ini terus bermunculan penulis cilik. Anak dari adik Helvy, Asma Nadia pun begitu, Putri Salsabila atau biasa dipanggil Caca dan adiknya, Adam juga memiliki kemampuan menulis karena mau belajar kepada ibunya.

Ada keluarga penulis lain, yaitu keluarga Joko Susanto dan istrinya Jamilatun Marfu’ah yang tiga anaknya juga menjadi penulis cilik, yaitu Nuha, Nida dan Nafis. Banyak orangtua yang bertanya, bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa menulis seperti Nuha dan adik-adiknya. Nah, karena sering mendapatkan pertanyaan yang sama dari banyak orangtua, sebagai jawaban dan sekaligus berbagi inspirasi kepada banyak orang maka jadilah buku yang berjudul Kisah Inspiratif Keluarga Penulis.

Buku ini terdiri dari empat bagian, bagian pertama berisi tentang inspirasi menulis. Bagian kedua berisi tentang kekuatan bacaan, bagian keempat berisi tentang praktik menulis, dan bagian terakhir tentang kisah keluarga penulis. Joko mengawali bagian pertama dengan kisah yang menarik sekaligus mengharukan, yaitu tentang pengalaman pertama anak Joko yang kedua bernama Tata mengambil honor menulis di kantor pos.

Setelah mengantri, akhirnya Tata dipanggil oleh petugas pos. Tata dipanggil untuk mengambil wesel, karena tulisannya dimuat di sebuah surat kabar ternama di Jakarta. Karena masih kelas 2 SD dan tidak bisa tanda tangan, akhirnya Joko sebagai orangtua dipanggil petugas pos untuk membumbuhkan tanda tangan.

Dengan melibatkan langsung Tata dalam mengambil wesel, Joko ingin Tata memiliki pengalaman sekaligus kenangan atas jerih payah dia menulis. Karena memang Tata ini sangat gigih perjuangannya. Ada banyak suka duka dalam perjalanannya menghasilkan sebuah karya tulis, bahkan ketika berlatih menulis pensil dan buku tulisnya sampai dia peluk saat tertidur (halaman 4). Hal ini juga cukup membuat heran banyak orang, karena ketika wesel diuangkan, cukup besar harganya. Ditambah lagi adiknya yang masih TK A juga mengalami hal yang serupa, petugas pos sampai heran sekaligus penasaran.

Joko sangat merespon kebiasaan positif ketiga anaknya, sejak mereka kecil kado atau yang biasa Joko berikan adalah buku (halaman 26). Hadiah buku sangat membuat mereka bertiga bahagia. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat mereka terbiasa membaca dan kemudian mencoba untuk menulis.

Soal mengatur waktu kapan saat yang tepat anak untuk menulis juga banyak ditanyakan oleh banyak orangtua yang ingin anaknya belajar menulis. Karena anak-anak sekolah sudah capek, belum lagi mengerjakan pekerjaan rumah, sepertinya tidak akan ada waktu untuk menulis. Pengalaman Joko untuk ketiga anaknya, adalah saat weekend yaitu sabtu dan minggu. Tetapi lebih sering pada hari minggunya. Anaknya yang Nuha sekolah full day school, namun tetap bisa berkarya. Joko menjadwalkan keluarganya dalam beberapa menit untuk khusus untuk menulis. Hal ini terbukti ampuh dan anak-anaknya pun dapat menghasilkan karya beberapa buku. Keluarga joko menganggap kegiatan ini wisata gratis yang mengasyikkan. Mereka mengatakan, “weekend with writing.”

Saran lain dari Joko adalah, jangan menunda-nunda waktu, kalau ada waktu luang untuk menulis segera tulis ide yang ada. Joko memang sangat menyeburkan diri ke dalam dunia literasi, tidak hanya menjadikan anak-anaknya suka membaca dan menulis, tetapi juga ingin anak-anak tetanggu juga demikian, karenanya dia membuat semacam taman baca (halaman 125) dan juga berbagi dalam kegiatan literasi lainnya semacam workshop, pelatihan dan lainnya.

Dengan demikian, tak pelak buku setebal 200 halaman ini, sangat direkomendasikan dibaca oleh banyak keluarga Indonesia. Harapannya, agar budaya literasi di negeri semakin meningkat dan membanggakan. Karena, sudah diketahui bersama, membaca buku sama dengan membuka dunia. Semoga dengannya semakin maju negeri tercinta. Selamat membaca!

resensi-kisah-inspiratif-keluarga-penulis-di-kabar-madura-22-desember-2016

*dimuat di Kabar Madura

Iklan