Gia: The Diary Of A Little Angel Karya Irma Irawati

cover gia.jpg

Malaikat Kecil dari Ranah Damai

Judul                            : Gia: The Diary Of A Little Angel

Penulis                          : Irma Irawati

Editor                           : Deesis Edith M.

Penerbit                       : Bhuana Sastra (Imprint Bhuana Ilmu Populer-BIP)

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2018

Jumlah Halaman          : 140 halaman

ISBN                           :  978-602-455-309-8

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMKN 1 Tapen Bondowoso

Namanya Nazila Apregia Reigane. Panggilan akrabnya di keluarga adalah De Gia. Dia adalah anak terakhir dari keluarga pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, K.H. Fadlil Yani Ainusyamssi. Dia memiliki tiga kakak yang semua perempuan sepertinya, Kak Bella, Teh Nada dan Teh Ajeng (halaman 30).

Keluarga Kiai Fadlil terbangun harmonis, disiplin, penuh tanggung jawab dan saling menyayangi. Meski lahir dari keluarga pesantren, namun Kiai Fadlil membina keluarganya tidak selalu terkungkung di dalam situasi pondok dan menjadi bagian dari perkembangan zaman. Kiai Fadlil meyakini sudah menyiapkan mental dan rohani anak-anaknya untuk tetap bisa membawa diri ketika berada di dunia luar pondok. Boleh jalan-jalan ke mal, tetapi ada waktunya  dan tidak boleh membeli sembarangan, dan menghindari sikap hedonis (halaman 49).

Gia memiliki tugas untuk mengepel teras, suatu ketika dia tidak mengepel teras. Padahal Gia bukan anak yang malas, dia anak yang bertanggung jawab dan disiplin. Ternyata dia memiliki alasan seperti yang dia tulis di diarynya.

“Begitu juga ngepel teras. Kalau aku ngepel, badan rasanya capek dan di sekolah jadi ngantuk. Tapi aku nggak mau bilang siapa-siapa. Takutnya nanti Mamah sama Apah jadi khawatir (halaman 25).”

Dari inilah, kisah bermula. Kisah malaikat kecil Ranah Damai alias Darussalam yang menjadi pesakitan. Gia adalah anak periang, disayangi kakak-kakaknya, dicintai teman-temannya. Namun, ketika penyakit menggerogoti tubuhnya, dia mulai jarang masuk sekolah, sehingga membuat teman-temannya kangen.

Khususnya teman-teman perempuannya yang sering diganggu oleh teman laki-laki. Bahkan ketika Gia masuk, dia disambut. “Horeee, Gia datang!,” “Jagoan kita datang.” Mereka senang bukan main. Akhirnya, si Ucup dan yang lainnya yang suka mengganggu sudah ada yang berani melawan dan membela yang diganggu.

Sebagai malaikat kecil, Gia adalah anak yang sangat peduli kepada teman-temannya. Suatu ketika dia menyisihkan uang jajannya untuk dibagi kepada teman-temannya yang tidak diberi uang jajan oleh orangtuanya. Tentu saja, bagi mereka bisa makan tiga kali sehari saja sudah untung. Melihat itu Gia dengan mudahnya urun tangan.

Ketika melihat salah satu temannya hanya selalu memakai tas butut, Gia pun berniat untuk membelikan Fani tas baru di saat ulang tahunnya. Menjelang ulang tahun Gia pun melubangi tabungannya untuk diambil sebagian untuk membeli tas Hello Kitty (halaman 37). Betapa pedulinya Gia kepada orang-orang yang memiliki kehidupan yang susah.

Hingga penyakit Gia semakin parah, nama penyakitnya adalah Acute Myeloid Leukimia. Menurut dokter ahli hematologi yang menangani Gia, kanker darah jenis AML ini jarang sekali dia temui, selama menangani ribuan pasien leukimia baru Gia yang ketiga kalinya dia tangani (halaman).

Meski begitu Gia selalu mengingat apa kata Mamahnya, bahwa semua ini adalah ujian, Allah menguji kesabaran Apah, Mamah dan Gia. Meski bagaimanapun sakitnya, Gia pasrah. “Aku capek ditusuk sana-sini. Capek nangisnya, capek sakitnya. Ya udah aku pasrahin aja sama Allah.” (halaman 19)

Karena sikap pasrahnya, dia tidak putus asa dengan penyakit. Ketika boleh pulang ke rumah, dia tidak memperlihatkan bahwa dia sakit. Dia tidak sedih, senyum, bahagia. Bahkan, ketika ada sesi foto bareng keluarga, Gia menyingkirkan kursi rodanya, dia mau orang yang melihat foto tersebut tidak menganggap Gia sakit.

Ada momentum yang membuat Apah dan para santri menangis terharu, yaitu ketika Gia berada di rumah sakit dan di pondok ada seremonial ulang tahun Apah yang dibuat oleh para santri. Ada berbagai ucapan selamat yang direkam menjadi video yang ditayangkan. Dan di akhir ketika acara akan diakhiri, ada video ucapan dari Gia yang saat itu berada di rumah sakit bersama Mamahnya. Bahkan, yang juga diingat Apahnya adalah Ramadhan terakhir Gia yang sudah merasa sehat dan masih memaksa ingin puasa. Apah sangat bahagia karena Gia sangat ingin mendekati Allah, meski dalam keadaan sakit parah (halaman 125).

Akhirnya, saya pribadi adalah termasuk orang yang jarang menangis ketika membaca buku. Tetapi, di lembar-lembar mengharukan, kasihan dan kadang menampar diri ini saya jadi meneteskan air mata. Sebuah buku yang layak Anda jadikan teman weekend, karena jejak Gia adalah cahaya yang saya kira bisa menginsafkan kita agar menjadi lebih ikhlas, nerima, sabar dan tetap di jalan kebaikan. Selamat membaca!

*dimuat di harian Singgalang 18 Februari 2018

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia

 

Iklan