Asa Untuk Sang Kupu-Kupu Karya Dr. Laniyati Hamijoyo & Sandra V. Navarra, M.D.

Cover Asa Untuk Sang Kupu-Kupu

Kitab Lengkap Memahami Lupus

Judul                            : Asa Untuk Sang Kupu-Kupu

Penulis                          : Dr. Laniyati Hamijoyo & Sandra V. Navarra, M.D.

Editor                           : Budhyastuti R.H.

Penerbit                       : Qanita

Tahun Terbit                : Pertama, Februari 2017

Jumlah Halaman          : 152 halaman

ISBN                           :  978-602-402-060-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

10 Mei kemarin adalah hari peringatan Lupus sedunia. Anda yang belum tahu pasti bertanya-tanya apa itu Lupus. Juga, tidak mungkin Lupus itu adalah tokoh fiksi novel yang juga dibuat sinetron dan filmnya itu. Apa lupus sehingga diperingati oleh dunia? Lupus adalah salah satu penyakit yang seperti kupu-kupu.

Mengapa analoginya kupu-kupu padahal arti lupus adalah serigala? Karena kupu-kupu memiliki banyak warna hal ini juga yang membuat lupus dinamakan penyakit seribu wajah (halaman 20), karena lupus manifestasinya juga bisa jadi sangat beragam. Lupus juga menyerang orang dari berbagai usia, bermacam suku bangsa, perempuan atau laki-laki, kaya atau miskin. Tanda penyakit lupus lainnya adalah ruam wajah kemerahan yang berbentuk kupu-kupu dan juga manifestasi lupus yang berbeda antara odapus (orang dengan lupus) dengan yang lainnya (halaman 11).

Dalam sejarahnya istilah lupus pertama kali dipakai pada pertengahan abad kesembilan belas ketika para dokter menemukan pasien-pasien lupus mengalami luka besar di kakinya seperti gigitan serigala. Sedangkan pada tahun 1845, Dokter Ferdinand von Hebra menggambarkan bercak merah atau rash di kulit penderita lupus, terutama di hidung dan kedua pipi yang menyerupai kupu-kupu. Beliau yang kemudian menamakan hal ini dengan lupus (halaman 21).

Menurut data epidemiologi, populasi lupus berkisar 40-50 kasus per 100.000 penduduk. Dengan semakin canggihnya alat deteksi, dinyatakan bahwa data ini terus meningkat. Di Amerika dan Eropa berkisar 1 sampai 32 per 100.000 penduduk per tahun. Akan lebih besar lagi jumlahnya pada orang Asia, Amerika latin, dan Afro-Amerika. Sedangkan di Indonesia belum ada datanya. Hal ini karena lupus masih belum dipahami secara luas oleh masyarakat apalagi pemerintah. Karenanya, pendataannya tidak seperti HIV/AIDS. Maka, hadirnya buku Asa Untuk Sang Kupu-Kupu karya Dr. Haniyati Hamijoyo dan Sandra V. Navarra, M. D.  ini salah satunya semoga ke depan lupus dan para odapus juga menjadi perhatian banyak orang di negeri ini, khususnya pemerintah dengan segala bantuannya (halaman 20).

Lupus dikenal dengan nama lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus), disingkat SLE, adalah suatu penyakit autoimun yang dapat mengenai berbagai organ dalam tubuh. Maksudnya, sistem imun di dalam tubuh yang  biasanya membentuk protein yang disebut antibodi, yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari kuman penyakit yang masuk, malah menyerang tubuh sendiri. Antibodi ini ibarat tentara yang bertugas memerangi musuh atau antigen yang masuk ke dalam tubuh, seperti virus, kuman dan bakteri. Nah, masalahnya, dalam penyakit autoimun antibodi tidak mengenal mana musuh dan mana teman, lalu akhirnya yang diserang adalah sel tubuhnya sendiri (halaman 20).

Dalam buku ini disebutkan beberapa gejala lupus, seperti kerontokan rambut baik seluruhnya atau sebagian. Fatigue atau kelelahan yang luar biasa, padahal tidak melakukan hal yang berat dalam seharian. Demam tanpa penyebab yang jelas. Fenomena Raynaud, adalah kondisi ketika jari-jari kaki dan tangan, hidung, telinga memucat kemudian berubah warna menjadi ungu kebiruan, lalu menjadi kemerahan, biasanya disertai rasa baal atau mati rasa. Selain itu juga terjadi pembengkakan kelenjar getah bening dan kaki, masalah pencernaan dan depresi (halaman 31).

Lebih lengkapnya lagi buku ini  mencantumkan bagan diagnosis lupus dari American College of Rheumatology (ACR) (halamn34), dan SLICC (Systemic Lupus International Collaborating Clinics) 2012 (halaman 37). Ditambah lagi dengan fakta-fakta lupus seperti penyakit autoimun, penyebabnya belum diketahu secara pasti, lupus muncul sebagai kombinasi dari berbagai faktor penyebab, mungkin antaranya faktor genetik, hormon, lingkungan, infeksi, stres berlebih, paparan sinar matahari dan obat-obatan tertentu, siapa saja bisa terkena lupus, tetapi kemungkinan terjadi kepada wanita 10-15 kali lebih tinggi dibanding pria, dan lupus dapat dikelola dengan baik selama rajin kontrol dan mengonsumsi obat-obatan secara teratur (halaman 48).

Buku yang ditulis oleh Laniyati sebagai dokter ahli reumatologi dan Sandra sebagai peneliti lupus ini juga memberikan solusi kepada penderita lupus agar bisa terus survive menghadapi penyakitnya  dengan berbagai tahapan-tahapan, dengan kelompok penyandang odapus dan pendukung. Juga informasi lupus yang diderita oleh ibu hamil dan anak kecil, dan kisah nyata Odapus Indonesia yang bisa survive seperti Bu Dian yang membuat Syamsi Dhuha Fondation untuk membantu para odapus dan menyebarluaskan info tentang lupus (halaman 126).

Saya kutip perkataan dokter Laniyati, “Menderita suatu penyakit kronis tidaklah mudah. Namun, jika kita dapat berdamai dengan penyakit tersebut dan bersikap positif, maka selalu ada jalan terbaik untuk menghadapinya (halaman 131).” Buku yang kesehatan yang ditulis dengan gaya bercerita yang fun ini sangat direkomendasikan untuk dibaca banyak orang di Indonesia, utamanya para odapus dan keluarganya. Sangat mudah dicerna, dan bermanfaat. Salam berpikir positif!

*dimuat di Harian Singgalang 28 Mei 2017
*bisa dipesan di Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891