Mutiara Sahabat Rasulullah Saw. karya Radie Ramli, M.A.

cover mutiara sahabat Rasulullah saw.jpg

Petuah Kepemimpinan Dari Para Khalifah

Judul                            : Mutiara Sahabat Rasulullah Saw.

Penulis                          : Radie Ramli, M.A.

Editor                           : M. Yusni Amru

Penerbit                       : Penerbit Noura

Tahun Terbit                : Pertama, Oktober 2017

Jumlah Halaman          : 172 halaman

ISBN                           :  978-602-385-367-0

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMKN 1 Tapen Bondowoso

Sudah diketahui bersama tahun 2018 adalah tahun politik, secara serentak akan dilakukan pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia. Sudah banyak terpampang banner-banner para calon bupati dan wakilnya atau juga calon gubernur dan wakilnya. Meski memimpin adalah amanah yang berat, tentu saja harus ada orang yang memikulnya. Karena, tanpa pemimpin akan jadi bagaimana keadaan suatu daerah.

Meski begitu, menjadi pemimpin tetap harus dengan berbagai persiapan, seperti persiapan spiritual dan mental. Semua itu butuh pembelajaran, dan pembelajaran bisa dengan memahami dan mengikuti para pemimpin yang sukses. Khususnya bagi calon pemimpin yang beragama Islam, ada petuah dari para Khalifah Rasyidin yang sukses menjadi suksesor setelah Rasulullah Muhammad Saw. wafat.

Pertama, petuah dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yaitu, “Kepemimpinan (pemerintahan) ini tidak akan berjalan baik kecuali dengan keketatan tanpa kekerasan, dan keluwesan tanpa kelembekan (halaman 25).” Pemerintahan dan pemimpin boleh dan bisa jadi harus ketat tetapi harus menghindari kekerasan. Pemerintahan dan pemimpin harus luwes tetapi tidak boleh lemah lembek.

Kedua, Khalifah Umar bin Khattab mengatakan, “Seandainya seekor kambing mati sia-sia di tepi Sungai Furat, sungguh aku meyakini bahwa Allah akan menanyakan hal itu kepadaku pada Hari Kiamat (halaman 64).” Menjadi pemimpin itu bukan untuk menyombongkan diri, tetapi menjadi pemimpin itu adalah mengayomi dan menghidupi semua yang dipimpin bukan hanya manusia tetapi juga kepada makhluk hidup lainnya seperti hewan, karena semua nanti akan ditanya pertanggungjawabannya oleh Allah. Menjadi pemimpin seharusnya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin khusyuk ibadah kepada-Nya.

Khalifah Umar bin Khattab juga pernah berkata, “siapa yang banyak tertawa (terbahak, bukan tersenyum dan ceria), maka sedikitlah wibawanya (halaman 74).” Setiap pemimpin tentu saja harus berwibawa, jadi harus diusahakan berbicara dengan lugas dan jangan sampai banyak cengengesan, sehingga wibawanya jatuh.

Keempat Khalifah Umar bin Khattab mengatakan bahwa menjadi pemimpin harus mampu mengubah kebiasaan buruk pegawainya. Misal, seorang pemimpin memiliki pegawai yang zalim terhadap rakyat, seharusnya pemimpin tersebut mampu menasehati pegawai tersebut hingga akhirnya mau bertaubat dan berubah. Jangan sampai malah membiarkan pegawainya yang berbuat zalim atau bahkan kongkalingkong dengannya. Karena, kalau begitu pemimpin tersebut sama saja menzalimi pegawainya. Maka pemimpin dan pegawai sama-sama berdosa. “Siapapun pegawai dalam pemerintahanku yang menzalimi seseorang, lalu kudengar kabar tentang kezalimannya tapi aku tidak mengubahnya (membuatnya bertaubat), maka sungguh aku telah menzalimi pegawai tersebut (halaman 93).”

“Yang berbuat baik kepada orang jahat adalah pemimpin (halaman 103),” begitu pesan Khalifah Umar bin Khattab. Pesan Khalifah Umar ini memang menyentil para pemimpin. Bahwa menjadi pemimpin bukanlah hanya gelar pemimpin yang didapatkan, tetapi juga  harus berbuat sesuatu seperti pemimpin. Salah satunya adalah berbuat baik kepada orang jahat. Bagaimana berbuat baiknya? Menasehati, menghukum, memenjarakannya dengan cara atau akhlak yang baik. Maka sebaliknya, jika ada pemimpin yang belum berbuat baik kepada orang jahat, maka dia belum menjadi pemimpin sejati.

Meski masih ada cukup banyak petuah tentang kepemimpinan dari para Khalifah, saya sebutkan yang terakhir yaitu dari Khalifah Utsman bin Affan. “Kalian lebih butuh kepada pemimpin yang aktif, ketimbang pemimpin yang sering mengumbar kata-kata (halaman 147).” Hal ini perlu diperhatikan oleh calon pemimpin dan juga pemilih. Calon pemimpin ketika nanti menjadi pemimpin jangan hanya pintar berbicara tetapi nol perbuatan. Sebaiknya seimbang, berbicara dan juga terus berbuat. Sedangkan, pemilih perhatikan calon pemimpin bagaimana track recordnya selama ini. Apakah dia pemimpin yang banyak berbuat atau hanya banyak bicara? Pilihlah yang banyak berbuat.

Para Khalifah juga tidak hanya memberikan petuah kepada pemimpin tetapi juga kepada rakyat agar membantu pemimpin dengan menasehati mereka ketika mereka keluar dari jalur Islam dan kebenaran. Seperti pesan Khalifah Utsman bin Affan, “Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah kalian. Bantulah pemimpin kalian, nasihatilah mereka jangan kalian menganiaya mereka (halaman 155).”

Buku ini tidak hanya membuat pesan para khalifah tentang kepemimpinan, tetapi juga tentang kezuhudan, tentang bertaqwa, tentang bertaubat dan lainnya. Buku yang tak hanya wajib dibaca setiap calon pemimpin Muslim, tetapi juga semua Muslim agar hidupnya semakin terarah dan berkah. Semoga!

*Resensi dimuat di Harian Singgalang 1 April 2018.

**Ingin memesan buku? Ke Toko Buku Hamdalah wa http://bit.ly/085933138891 gabung juga di grup di http://bit.ly/TokoBukuHamdalahWhatsApp dan http://bit.ly/TokoBukuHamdalahTelegram

***Ohya, kalau mau mencari info tentang buku baru, resensi buku, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku, bisa gabung ke channel telegram yang saya kelola yang bernama Buka buku Buka Dunia : t.me/bukabukubukadunia

 

Iklan