Fatimah Al-Zahra: Pemimpin Perempuan Ahli Surga Karya Muhammad Ali Quthb

Cover Fathimah Az-Zahra

Mengintip Kehidupan Pemimpin Perempuan Ahli Surga

Judul                             : Fatimah Al-Zahra: Pemimpin Perempuan Ahli Surga

Penulis               : Muhammad Ali Quthb

Penerjemah                   : Naimulloh Ahyar bin Zakaria

Editor                            : Dewi Ariyanti, Cecep Hasannudin

Penerbit                        : Mizania

Tahun Terbit                 : Pertama, September 2016

Jumlah Halaman            : 248 halaman

ISBN                           :  978-602-418-033-1

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Fathimah namanya, putri Rasulullah yang akan menjadi pemimpin para perempuan yang masuk surga kelak. Fathimah lahir pada saat Nabi berusia 35 tahun. Rasulullah tak kuasa ingin segera melihat kelahiran putri keempatnya tersebut. Beliau mengambil jalan pintas agar segera sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, ternyata sang anak telah lahir dan menyambutnya dengan tangisan.

Rasulullah pun dipenuhi rasa bahagia, putri yang dicintainya tersebut pun diberi nama Fathimah. Fathimah adalah nama yang sangat memiliki kesan spesial di hati Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, “Ana ibn Fawathim (Saya anak dari Fathimah-Fathimah).” Hal ini karena dalam silsilah keluarga beliau, banyak yang bernama Fathimah.

Istri Abu Thalib paman Nabi bernama Fathimah binti Asad. Rasulullah menyebut, “Dia adalah ibu setelah ibuku.” Ya, Fathimah binti Asad menjadi ibu kedua Nabi setelah mendapat amanat dari ibunya, Aminah dan kakeknya, ‘Abdul Muthalib. Rasulullah benar-benar diasuh oleh paman dan bibinya layaknya anak sendiri (halaman 21).

Fathimah juga mendapatkan julukan sejak lahir yang terus melekat hingga akhir hayat yaitu al-Zahra. Saat lahir, Fathimah berkulit bersih dan wajah berseri-seri, karena itulah dia dipanggil al-Zahra yang berarti seorang yang berkulit putih dan berseri wajahnya. Kelahiran Fathimah tidak hanya membuat senang orangtuanya, tetapi juga membuat bahagia kakak-kakaknya, Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Saking bahagianya, saat memangku adiknya dengan penuh kasih sayang, Zainab mengeluarkan air mata.

Fathimah sungguh menyanyangi semua kakak-kakak perempuan yang juga sangat menyayanginya. Maka, ketika mereka bertiga harus mengikuti suaminya setelah menikah, maka sedihlah Fathimah. Namun, kehidupannya sungguh penuh berkah. Dia menjadi saksi banyak kehidupan Rasulullah yang agung.

Ketika Rasulullah kedinginan dan menggigil ketakutakan pasca turunnya wahyu pertama kali, tak pelak Fathimah pun khawatir sebagaimana ibunya. Namun, bersama ibunya dia tetap menemani, menyelimuti dan memeluk Rasulullah. Kejadian turun wahyu terus berulang-ulang, dan Fathimah menjadi terbiasa dan yakin bahwa ini adalah perkara yang besar. Dia pun mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan oleh ayahnya, dan dia pun semakin dekat dengan Rasulullah. Hingga dia mengimani ayahnya sebagai Rasulullah dan mencoba menghafal, memahami dan mempelajari maknya serta dikumpulkan (halaman 33).

Fathimah pun mengalami masa-masa getir ketika Rasulullah ditolak oleh Qurasy. Dia ikut bersedih ketika Rasulullah bercerita kepada Khadijah, bahwa pengikutnya banyak disiksa. Bahkan suatu ketika Rasulullah tidak hanya dicemooh, tetapi juga dilempari kotoran dan batu. Sehingga, tubuhnya menjadi kotor dan luka-luka. Fathimahlah yang mengobati ayahnya.

Ketika Fathimah telah berumur 18 tahun dan sudah waktunya menikah, tetapi dia masih menunggu. Selain itu, dia juga masih melayani ayahnya, yang saat itu setelah kematian ibunya hanya hidup berdua dengannya. Dialah yang mengurus urusan rumah tangga Nabi, sampai ‘A’isyah menikah dengan Nabi. Dia pun mulai memikirkan untuk menikah dengan seseorang dan keluar dari rumah Nabi.

Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan tiga sahabat utama mencoba meminang Fathimah tetapi semua ditolak oleh Nabi, dan ternyata Nabi menunggu pinangan dari sepupunya yaitu Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, di antara Fathimah dan Ali telah ada benih-benih cinta sejak dulu. Mereka tumbuh bersama di rumah Nabi, maka wajar timbul rasa saling suka. Namun, rasa itu mereka pendam. Hingga akhirnya, mereka berjodoh di pelaminan (halaman 94).

Meski keluarga pemimpin Umat, kehidupan Ali dan Fathimah juga sederhana, sesederhana kehidupan Nabi. Bahkan mereka sering kekurangan. Ali untuk menikah saja tidak punya apa-apa. Fathimah menjadi kurus karena sibuk mengurus pekerjaan rumah. Hingga Ali pun meminta Fathimah untuk menemui Rasulullah agar diberi pembantu rumah tangga. Tetapi, bukannya memberi pembantu, Rasulullah memberi amalan dzikir yang nilainya melebihi dari nilai pembantu dan bahkan nilai dunia dan seisinya. Dzikir ini adalah Subhanallah, Alhamdulillah, Wa laa Ilaaha illa Allahu wa Allahu Akbar (halaman 98). Sehingga, dzikir ini pun kerap dinamakan dzikir Fathimah.

Ada banyak kisah inspiratif dari kehidupan Pemimpin Perempuan Ahli Surga yang diuraikan dalam buku karya Muhammad Ali Quthb ini. Sebuah buku yang layak dibaca oleh Umat Islam, agar menjadi semakin semangat dalam meneladani kehidupan Rasulullah dan Ahli Bait. Selamat membaca!

*dimuat di Harian Singgalang 16 April 2017
* Ingin mendapat info buku, quotes, dan review buku? Join channel telegram: t.me/bukabukubukadunia

Iklan