Istri dan Suami Yang Dirindukan Surga Karya Leyla Imtichanah

cover-istri-dan-suami-yang-dirindukan-surga

Menjadi Pasutri Ahli Surga

Judul                             : Istri dan Suami Yang Dirindukan Surga

Penulis                         : Leyla Imtichanah

Editor                            : Huda Wahid dan Andika Budiman

Penerbit                        : Pastel Books

Tahun Terbit                 : Juni 2016

Jumlah Halaman            : 168 halaman

ISBN                           :  978-602-242-886-2

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SMPN 2 Tamanan Bondowoso

Menikah adalah salah satu yang didambakan oleh manusia normal. Dalam Islam, menikah tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga menjadi sarana ibadah yang bisa memasukkan ke surga. Karena menikah itu salah satu sunnah Rasulullah Saw, “Empat hal yang termasuk sunnah para rasul ialah memakai pacar, memakai parfum, bersiwak, dan menikah.” (HR At-Tirmidzi).

Itulah mengapa dalam Islam, pemuda juga pemudi yang sudah siap menikah dianjurkan untuk segera menikah. Menikah itu dapat menjaga pandangan juga kehormatan. Karena, hanya dengan menikah yang haram akan menjadi halal. Tidak hanya itu, dengan menikah maka yang halal berbuah pahala pula.

Namun, seperti halnya jalan menuju surga lainnya, menikah pun tidak bisa dibilang mudah. Dari mencari jodoh, berkenalan, menyiapkan walimah, hingga menjalani kehidupan pernikahan itu adalah perjuangan. Semuanya sulit dan membutuhkan kesungguhan untuk mewujudkan keluarga yang dirindukan surga (halaman 8).

Nah, buku yang berjudul Istri dan Suami Yang Dirindukan Surga karya Leyla Imtichanah ini memaparkan bagaimana menjadi istri dan suami yang nantinya bisa masuk surga. Menikah adalah menjalani konsekuensi. Konsukuensi istri adalah taat kepada suami. Suami ingin sang istri belajar memasak, maka harus ditaati. Suami ingin sang istri memakai pakaian yang disukai suami, maka harus ditaati. Semua apa yang diperintahkan suami, maka ada kewajiban taat dari istri, selama tidak bermaksiat kepada Allah (halaman 25).

Suatu ketika, datang Asma’ binti Yazid Al-Anshari, menanyakan kepada Nabi tentang keutamaan berjihad dan shalat berjama’ah yang hanya diwajibkan kepada laki-laki. Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Sampaikan kepada wanita-wanita yang mengutusmu, bahwa sesungguhnya pahala taat kepada suami dan mengakui hak-haknya itu sebanding dengan hal itu. Tetapi, sedikit di antara kalian yang melakukannya.” (HR Al-Baihaqi)

Lalu apakah suami tidak menjalankan konsekuensi? Suami juga menjalankan konsekuensi, salah satunya adalah suami rajin dan serius dalam mencari nafkah karena bertanggung jawab menafkahi istri yang tidak hanya lahir tetapi juga batin (halaman 25) dan juga menafkahi anak-anaknya. Berbeda ketika masih bujangan, dia bekerja hanya untuk dinikmati sendiri. Ketika telah menikah, dia menjalankan kewajiban untuk memberi hak istri, dan karenanya hak suami dari istri adalah taat.

Sebagai pemimpin suami memiliki banyak kewajiban, dalam buku dipaparkan dengan jelas. Di antaranya, pertama mempererat interaksi dengan istri dan anak (halaman12). Istri bukan hanya ketika dibutuhkan baru didatangi, tetapi harus senantiasa ditemani oleh suami. Begitu juga dengan anak yang perlu dekat dengan sang ayah. Karenanya, harus ada jadwal keluarga bersama, entah di rumah ataupun melakukan plesir atau liburan ke luar rumah.

Selain itu sebagai pemimpin suami wajib tegas dalam menerapkan aturan agama di dalam rumah dan menempatkan istri dan anak-anaknya di lingkungan yang baik (halaman 16). Karena hal ini berkaitan sekali. Ketika di dalam rumah istri dan anak, ada aturan untuk berkata baik dan sopan, namun ternyata tetangga di lingkungan sekitar adalah orang-orang yang urakan, suka berbicara kotor dan hal negatif lainnya. Maka, bisa jadi nantinya istri dan anak-anak akan terpengaruh pula.

Menjadi istri berarti pula berkewajiban untuk merawat diri, ini menjadi ladang pahala karena akan membuat suami bahagia. Yaitu, ketika istri tidak hanya berhias ketika keluar rumah, namun juga ketika berada di rumah untuk membahagiakan suami dan membuatnya senang.

Beberapa hal yang harus dirawat menurut Leyla, adalah gigi. Hal ini penting sekali, karena tidak ada orang yang suka ketika mencium bau mulut. Apalagi suami ketika mencium bau mulut sang istri (halaman 75). Selain itu istri merawat diri dengan memotong kuku dan memakai inai. Inai adalah pewarna yang dibuat dari daun pacar. Boleh juga memakai pewarna rambut yang terbuat dari inai, karena menyerap air wudhu dan tidak berbahaya (halaman 77).

Buku yang ditulis oleh perempuan yang telah menjadi istri selama sembilan tahun ini sangat menarik, buku ini dibagi menjadi dua bagian dengan cover berbeda, satu bagian istri dan baliknya adalah bagian suami. Di tiap buku, penulis seakan sedang berbicara dengan pembaca dengan memangil, “Wahai, ukhti, Wahai akhi” sehingga buku ini sangat mengena kepada pembaca. Selamat membaca, semoga menjadi sarana belajar hingga menjadi pasangan suami istri ahli surga.

resensi-istri-dan-suami-yang-dirindukan-surga-4-desember-2016

*dimuat di Jateng Pos 4 November 2016

Iklan