Mendidik Anak Di Era Digital

Kiat Mendidik Generasi Digital

Judul : Mendidik Anak Di Era Digital

Cover Mendidik Anak Di Era Digital
Cover Mendidik Anak Di Era Digital

Penulis : Yee-Jin Shin
Penerbit : Noura Books
Editor : Kiki Sulitiyani
Penerjemah : Adji Annisa
Tahun Terbit : Pertama, 1 September 2014
Jumlah Halaman : 272 halaman
ISBN : 978-602-1306-25-3
Peresensi : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Pendiri Klub Pecinta Buku Booklicious.

Perangkat digital saat ini seakan menjadi kebutuhan primer manusia, terkhusus alat komunikasi, handphone/ ponsel pintar. Bahkan seiring perkembangan tekhnologi, perangkat digital pun dianggap sebagai salah satu media belajar yang tepat untuk anak-anak. Lihat saja, sekolah-sekolah dasar di Indonesia dan negara-negera berkembang lainnya, saling kejar mencari dana untuk membuat laboratorium komputer.

Sebaliknya, seorang psikiater dari negeri produsen perangkat digital ternama (Korea) Yee-Jin Shin, mengatakan bahwa perangkat digital berbahaya jika dikenalkan kepada anak sejak kecil. Pernyataan Jin Shin dalam bukunya yang berjudul Mendidik Anak Di Era Digital ini bukan sekedar pernyataan, tetapi berdasarkan riset dan kesimpulan yang dia dapatkan selama 20 tahun menjadi psikiater.

Jin Shin memperhatikan banyak kasus anak-anak yang menjalani perawatan di rumah sakit karena terlalu dini mengenal video ajar dan buku pelajaran pada masa awal berkembangnya tren pendidikan anak usia dini (PAUD). Mereka mirip autis, kemampuan bahasa dan bersosialisasinya kurang.

Banyak pula anak yang datang berkonsultasi ke kliniknya memiliki keanehan. Yaitu, dari luar mereka tampak pintar, rapi dan sehat. Namun, ketika diajak ngobrol, mereka sering tidak memahami apa yang mereka pikirkan. Mereka sering menolak bahkan melawan kata-kata orangtua dan gurunya, karena dia lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Hal ini karena kurangnya kecerdasan emosinya (EQ). EQ merupakan faktor yang paling mendasar dari perkembangan kemampuan bersosialisasi dan daya pikir anak (halaman 15).

Banyak anak-anak yang berkembang fisiknya, tinggi dan berat badannya, tetapi tidak dengan mentalnya. Hal ini terjadi karena tidak dibarengi mengembangkan mentalnya ketika masa pertumbuhan. Sehingga mereka akan tumbuh tanpa kematangan jiwa. Jin Shin mengistilahkan ini dengan matang semu (halaman 16). Anak-anak hanya matang fisik saja, namun tidak pada mental, dan mereka cenderung impulsif, tidak tahu sopan santun dan tidak memiliki rasa bersalah.

Tetapi saat ini banyak orang tua yang tertipu dengan matang semu anak. Banyak orang tua bangga dan menganggap anaknya jauh lebih matang daripada anak-anak zaman dulu hanya karena mereka tahu lebih banyak informasi dan tumbuh lebih besar. Padahal, banyak sekali dari mereka yang berusia dua puluhan tetapi masih berkelakuan seperti anak usia 5-6 tahun dalam mengatasi konflik. Seperti murid SMA yang menghajar gurunya, karena membangunkannya ketika tertidur. Tentu saja ini menunjukkan, ketidakmatangan emosi anak itu.

Setelah diteliti lebih dalam, anak-anak yang mengalami matang semu ini adalah anak-anak yang mengalami popcorn brain. Istilah ini biasa digunakan untuk menyebutkan kondisi otak anak yang terbiasa dengan layar perangkat digital (tv, ponsel cerdas, computer dll) yang senantiasa merespons stimulus kuat hingga otak meletup-letup (berita CNN Amerika Serikat, 23 Juni 201).

Anak yang terjangkit popcorn brain tidak bisa merespon stimulus sehari-hari yang biasa saja. Karena otak mereka terbiasa melakukan banyak hal sekaligus di perangkat digital, dan akhirnya struktur otak mereka cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata (halaman 112).
Perangkat digital menciptakan masalah terhadap perkembangan lobus frontalis yang berfungsi sebagai pengambilan keputusan, pengendalian daya konsentrasi, pengendalian emosi, kemampuan merencanakan dan lain-lain. Karena lobus ini mengatur sistem limbik yang mengontrol emosi manusia (halaman 118).

Melihat efek samping dari perangkat digital, maka Jin Shin membuat istilah digital parenting atau pola asuh anak ketika berhadapan dengan perangkat digital. Secara garis besar digital parenting adalah memberikan batasan yang jelas kepada anak tentang hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan saat menggunakan perangkat digital. Jika orang tua mengatur penggunaan perangkat digital anak, efek samping perangkat digital tidak akan terlalu fatal (halaman 188).

Buku setebal 272 halaman ini juga menuliskan apa saja yang membuat anak menjadi kecanduan perangkat digital, yang salah satunya karena orang tua tanpa sadar mengajari anaknya untuk terbiasa bermain dengan perangkat digital. Penulis juga melengkapi dengan tujuh prinsip digital parenting dan Tanya jawab soal digital parenting. Tak pelak buku parenting ini menjadi bacaan wajib, utamanya bagi para orangtua. Meski cukup kontraversi dengan keadaan tekhnologi dunia yang semakin canggih, namun tidak ada salahnya untuk dicoba dengan harapan adanya perubahan dari masalah-masalah kenakalan remaja yang banyak tersiar saat ini. Selamat membaca!

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

*resensi ini pernah dimuat di Jateng Pos 8 Maret 2015

4 thoughts on “Mendidik Anak Di Era Digital

  1. rahmiaziza 11 Maret 2015 / 21:52

    Buku yang bagus. Anak2 saya masih balita juga udah paham make tab, tapi saya batasin sih ngga boleh terlalu lama juga, dan dia paham

    Suka

    • Muhammad Rasyid Ridho 12 Maret 2015 / 00:33

      Iya betul buku bagus mbak, sudah baca juga ya? Wah, mantap bisa memahamkan anak sejak dini. Terima kasih mbak sudah membaca dan berkunjung di blog sederhana saya🙂

      Suka

Silakan Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s